Ref: Bila demikian halnya, lantas bagaimana mengatasi kekerasaan yang berlangsung pada masa sekarang?
http://www.antaranews.com/berita/321717/mahfud-kekerasan-terjadi-karena-tersandera-bayang-bayang-orba Mahfud: kekerasan terjadi karena tersandera bayang-bayang orba Minggu, 15 Juli 2012 23:57 WIB | Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD (FOTO ANTARA) Secara konstitusi aparat berhak melakukan kekerasan untuk menghapus kekerasan, namun aparat seperti takut karena pada masa lalu (orde baru, -red) dia juga melakukan kekerasan." Jakarta (ANTARA News) - Kekerasan yang terjadi di Indonesia bersumber dari warisan politik dan pola pikir aparat yang tersandera dalam bayang-bayang pemerintahan orde baru, kata Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD di Jakarta, Minggu. "Pada saat masa transisi pemerintahan waktu lalu, ada kelompok-kelompok kecil di masyarakat yang bersinergi dengan kelompok aparat dan melakukan kekerasan, ini bisa jadi yang menyebabkan kekerasan itu ada hingga saat ini," katanya di "Sarasehan Kebudayaan Kekerasan di Sekitar Kita", di Jakarta, Minggu Mahfud menjelaskan penyebab lainnya adalah aparat hukum seperti bersikap gamang dalam menindak pelaku kekerasan karena pola pikir yang masih tersandera oleh stigma negatif tentang kekerasan dan aparat pada masa lalu. "Secara konstitusi aparat berhak melakukan kekerasan untuk menghapus kekerasan, namun aparat seperti takut karena pada masa lalu (orde baru, -red) dia juga melakukan kekerasan," katanya. Dalam acara yang digagas Komunitas Anti Kekerasan Indonesia itu, Mahfud mengatakan kekerasan pada saat ini dilakukan oleh siapa saja. Kelompok kecil masyarakat kini melakukan kekerasan terhadap orang lain tanpa sebab yang jelas dan pada saat tertentu juga melakukan kekerasan pada aparat, katanya. "Aparat ditampar di depan publik. Ini ironis di negara yang budayanya adiluhung," katanya. Padahal, Mahfud menilai penyelanggaraan negara justru lahir untuk menghindari kekerasan. Dia mengimbau masyarakat Indonesia termasuk para pejabat negara agar mensyukuri keberadaan nusantara yang indah ini dengan bersikap sesuai aturan konstitusi negara. "Kita harus ingat, kita dulu merdeka karena ingin menghindar dari kekerasan," katanya Di kesempatan yang sama, seniman Slamet Rahardjo menilai pemecahan masalah untuk menghapuskan kekerasan itu adalah dengan penanaman sifat lapang dada pada diri masyarakat. Menurut dia, dengan berlapang dada mengakui kesalahan maka manusia bisa memperbaiki hal itu dan berorientasi pada kedamaian. "Akuilah kalo memang melakukan kekerasan, jangan menggunakan banyak dalih-dalih untuk mengelak," katanya. Slamet menilai bentuk kekerasan tidak hanya fisik tetapi bisa berupa apa saja seperti biaya pendidikan yang mahal yang tidak bisa dinikmati oleh lapisan masyarakat. (SDP-55/B013) Editor: B Kunto Wibisono [Non-text portions of this message have been removed]
