Ref: Pilkada DKI adalah perebutan kursi antara kaum elit. Masalah jakarta sudah 
dari mula sejak zaman NKRI sudah tidak beser seperti seluruh negeri, sebab 
dipegang militer yang tidak berpengetahuan dalam masalah perkotaan, pintarnya 
hanya komando-komando saja,  maka oleh sebab itu siapa pun yang menjadi 
gubernur atau presiden pun tak akan mampu mengurusnya, karena masalahnya sangat 
kompleks.  Sistem transportasi kota tidak adekwat bagi penghuni, kebutuhan air 
dan udara bersih, lapangan pekerjaan, kejahatan kota, pembersihan sungai, etc, 
etc. Untuk membershikan sungai saja diperkirakan puluhan miliar dollar. $500 
juta dari world bank untuk membershihkan sungai di Jakarta mungkin sudah habis 
dipakai, sungainya tak kunjung bersih, jadi tanpa ragu-ragu bisa dibilang hanya 
mukajizat yang bisa menyelesaikannya atau  sampai dunia kiamatnpun sungai  
tidak akan bersih dan sehat menjadi tempat rekreasi maupun transport umum bagi 
penghuni artinya juga tidak akan diatasi masalah untuk menjadi kota sehat bagi 
penduduk.

Karena masalahnya begitu komplex, maka pilkada hanya untuk rebutan rejeki  
pribadi dengan janji muluk-muluk. Ada yang punya pandangan lain?


http://www.analisadaily.com/news/read/2012/07/16/63076/pilkada_dki_bisa_menjadi_barometer_pilkada_su/#.UAVFNPXDMeU

Pilkada Dki, Bisa Menjadi Barometer Pilkada SU?
Oleh : Prof. Dr. Subanindyo Hadiluwih, SH. 

Problema pembangunan Jakarta, termasuk mengen-tas berbagai masalah yang 
dikandungnya, tak harus diketahui oleh para calon gubernur maupun wakil 
gubernur yang maju bersaing di Pilkada DKI pekan lalu saja. Ia dengan mudah 
juga diketahui, dirasakan bahkan dihayati oleh warga Jakarta. Bahkan juga oleh 
warga pendatang temporer, termasuk wisatawan domestik maupun mancanegara. Yang 
mau dijual oleh para calon, adalah bagaimana caranya menyusun solusi untuk 
mengentas masalah tersebut.
Masalah banjir, kemacetan, keamanan yang semakin rawan, law enforcement yang 
terkesan tidak adil, banyaknya pengangguran, masalah pendidikan, masalah 
kesehatan rakyat, premanisme, tawuran, dan kejahatan lain yang semakin 
meningkat, perbedaan yang mencolok antara si kaya dan si miskin, adalah masalah 
baku kota megapolitan Jakarta yang kebetulan merupakan ibukota republik ini. 

Terkadang bahkan sebenarnya juga merupakan problema yang simultan di berbagai 
kota-kota raya di seluruh Indonesia. Tak heran manakala visi dan misi enam 
pasangan cagub dan cawagub yang maju ke Pilkada tahun ini juga tak banyak 
berbeda. 

Walau anehnya, Jakarta sebagai kotaraya sumber dari segala korupsi, tak 
ditampilkan. Mungkin khawatir hasilnya kontraproduktif, sehingga dalam hal ini 
dipasrahkan kepada KPK dan aparat penegak hukum lainnya. Alhasil, apa yang 
sesungguhnya dipilih oleh warga Jakarta justru bukan soal pengentasan 
permasalahannya sendiri, akan tetapi lebih terarah kepada kepercayaan 
masyarakat, integritas calon, serta popularitas dari pada calon. 

Hasil Sementara Pilkada DKI

Sebagaimana diketahui bahwa Pilkada DKI diikuti oleh pasangan incumbent yang 
terdiri dari Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli dengan nomor 1; selanjutnya 
pasangan lain terdiri dari Hendarmin Supanji-Ahmad Riza Patria (2); Joko Widodo 
(Jokowi)- Basuki Cahaya Purnama (Ahok) (3); Hidayat Noerwahid-Didik J Rachbini 
(4); Faisal Basri-Beib Benyamin, putera Benyamin S (5) dan Alex Noerdin-Nono 
Sampono (6). Para calon dengan latar belakang beragam, ada yang masih Gubernur 
DKI dan Gubernur Jambi, ada pula Walikota Solo dan mantan bupati 
Bangka-Belitung, mantan Pomdam Jaya, mantan Ketua MPR dan cendekiawan. 

Pencoblosan (bukan pencontengan) dilakukan tanggal 11 Juli kemarin dengan hasil 
sementara, berdasarkan ‘quick-count’, ternyata pasangan Jokowi-Basuki (3), 
43,07% menempati posisi tertinggi, diikuti Foke-Nara (1), 34,70% dan 
seterusnya, antara 11% dan 4%. Ini artinya, Pilkada DKI harus berlangsung dalam 
dua putaran, karena tidak ada pasangan calon yang mampu meraih lebih dari 50%. 

Barangkali komentar Faisal Basri, merupakan komentar dari pasangan yang pertama 
kali secara jujur menyatakan bahwa meski hasil quick count itu bukan hasil 
resmi dan juga bukan hasil yang boleh dibilang akurat, karena pengumuman hasil 
resmi baru akan diumumkan oleh KPU DKI sekitar tanggal 20 Juli mendatang, namun 
biasanya tidak jauh berbeda. Apalagi penghitungan secara quick count ini telah 
ratusan kali dilakukan pada berbagai pemilihan umum, serta berbagai tingkatan. 
Baik pemilihan presiden-wakil presiden, pemilihan anggota legislative, maupun 
pemilihan walikota, bupati dan gubernur. 

Disamping itu, secara tegas Faisal juga menolak untuk menghimbau pemilihnya 
untuk memilih kepada calon lain pada putaran berikutnya. Semuanya terserah 
kepada para pemilih itu sendiri. Artinya, ia bukannya menganjurkan pemilihnya 
melakukan golput, akan tetapi terpulang kepada pemilihan warga itu sendiri. Tak 
ada himbauan, tak ada permintaan, apalagi perintah. Cukup ksatria. 

Di lain pihak, ketegangan yang terjadi antara Foke-Nara dengan para peserta 
Pilkada yang lain, terutama yang berkenaan dengan sinyalemen 
kecurangan-kecurangan termasuk masalah Daftar Pemilih Tetap (DPT), masalah 
penggunaan dana kampanye yang luar biasa yang berasal dari sumber-sumber yang 
mencurigakan, penggunaan aparat birokrat sampai ke kecamatan dan kelurahan, 
menempatkan pasangan Foke-Nara berada pada posisi yang sulit. Karena bukan 
mustahil bahwa masalah itu akan menjadikan pasangan incumbent ini menjadi 
‘musuh bersama’ bagi para kandidat lainnya. 

Dalam kondisi sedemikian, barang tentu peluang kemenangan bagi pasangan nomor 1 
itu akan semakin menciut, kalau tak boleh dikatakan mustahil. Di lain pihak, 
semangat warga Jakarta untuk mendapatkan gubernur baru, juga akan lebih 
menguntungkan kandidat lain, siapapun dia. Meski tidak bisa dinafikan bahwa 
pengaruh PDI-P dan Gerindra sebagai partai pendukung Jokowi sangat besar, namun 
popularitas Jokowi sendiri, berikut Basuki Cahaya Purnama, terhitung tinggi. 
Bahkan berhasil merebut hati rakyat kecil ketika selama kampanye pasangan ini 
turun langsung berkali-kali mencoba menyerap aspirasi masyarakat. Dilain pihak, 
sentimen kedaerahan memang cukup mewarnai kemenangan Jokowi. 

Melalui jejaring sosial, baik facebook, twitter maupun jejaring lainnya, banyak 
orang Solo, berikut Jogya, Banyumas, Semarang dan wilayah Jawa Tengah lainnya, 
ditambah orang-orang Surabaya, Malang, Kediri, Blitar, Madiun serta wilayah 
Jawa Timur pada umumnya, yang saat ini berkiprah di Jakarta, berdomisili di 
Jakarta, dengan jumlah yang tidak sedikit, berbondong-bondong mendukung Jokowi. 
Harus diakui, tiga pasangan lain yang didukung oleh partai politik, selain dua 
pasangan independen, tidak semuanya lebih populer ketimbang partai 
pendukungnya. 

Bagaimana Dengan Prediksi Pilkada SU

Bahwa Gatot Pujo Nugroho (Plt Gubsu) akan maju pada Pilkada SU, bukan rahasia 
lagi, bahkan harus, meski sampai sekarang belum diketahui siapa bakal 
pendampingnya sebagai wakil cagubsu. Juga tidak, atau belum diketahui apakah 
calon pendamping itu juga berasal dari PKS atau bukan. Bagaimanapun calon 
pasangan lain sudah mulai terdengar, seperti Gus Irawan Pasaribu, AY Nasution, 
Chairuman Harahap, Amri Tambunan, bahkan tokoh kocak anggota DPR-RI dari Partai 
Demokrat, Sutan Batoegana. Sampai waktunya nanti diduga masih akan banyak lagi 
calon yang berminat dan berniat untuk berlomba menjadi calon BK-1 dan BK-2. 
Barang tentu problema daerah di DKI Jakarta tidak sama dengan Sumatera Utara. 
Provinsi Sumatera Utara mempunyai masalah konflik tanah perkebunan dan tanah 
rakyat atau hak ulayat. 

Masalah peluang kemungkinan konflik antar etnik, termasuk keturunan, antar 
daerah, antar agama, serta pola kebijakan di berbagai daerah. Termasuk masalah 
urbanisasi yang menciptakan kepadatan penduduk, sekaligus keramaian dan 
kemacetan di berbagai kotaraya. Artinya, dalam hal problema dan permasalahan 
pembangunan daerah pasti terdapat berbagai perbedaan yang cukup signifikan. 
Namun, apa yang terjadi dalam Pilkada DKI, bukan mustahil akan menjadi 
barometer dalam penyelenggaraan Pilkada Gubsu tahun depan. Mungkin saja akan 
terjadi hal-hal di luar dugaan, sebagaimana yang juga terjadi di Jakarta. 

Peran dari tokoh-tokoh pendatang, meski putra daerah, bukan pula mustahil 
merebut posisi strategis sebagai kepala daerah. Apalagi, di Sumatera Utara, 
komposisi kependudukan sama sekali tidak menjadikan jaminan, berbeda dengan apa 
yang diduga oleh para pengamat maupun pelaku politik di daerah ini. Sekedar 
contoh, mengambil pengalaman Pilkada masa lalu, dimana Raja Inal Siregar, 
sebagai gubernur incumbent bersaing dengan Mudyono yang masa itu menjabat 
sebagai Ketua DPRD Sumut, ternyata komunitas orang Jawa yang diharapkan akan 
menjadi pendukung berat bagi Mudyono tidak menunjukkan hasil. Diakui bahwa 
komunitas Jawa merupakan mayoritas penduduk di Provinsi Sumatera Utara, toh 
Mudyono gagal. 

Mudyono tak berhasil merangkul pemilih orang Jawa. Toh, kalau dilakukannya, ia 
pasti akan dikritik oleh kelompok etnik, suku dan keturunan lainnya. 
Bagaimanapun masa itu Raja Inal cukup khawatir dengan ‘kekuatan’ komunitas 
Jawa. Hingga ia sempat menyatakan bahwa Pujakesuma adalah akronim dari Putera 
Jawa Keluyuran di Sumatera, dari kepanjangan aslinya, Putera Jawa Keturunan 
Sumatera. Sementara Mudyono tenang-tenang saja karena merasa bahwa suara orang 
Jawa sudah ditangan. Adakah komunitas Jawa kali ini akan bermanfaat atau 
dimanfaatkan oleh Gatot kelihatannya tidak. Atau tidak bisa. 

Pujakesuma, kalau organisasi ini masih menjadi wadahnya orang Jawa, yang semula 
bersatu, kini pecah belah. Bahkan ada beberapa tokohnya terang-terangan 
menginventarisasikan tokoh lain yang bukan Gatot. Dua belas orang terpilih, 
kemudian menyusut tinggal enam orang. Nama-nama tokoh ini disebar luaskan 
melalui berbagai media termasuk SMS. 

Meski menurut hemat saya, tak seorangpun di antara enam orang itu layak atau 
masuk kriteria sebagai seorang calon gubernur. Jangan lupa, selain masalah 
mayoritas kependudukan yang kebetulan orang Jawa, masalah partai politik 
pendukung calon gubernur juga tidak bisa dinafikan. Harus diingat pula bahwa 
naiknya Gatot pada masa lalu merupakan pasangan dari Syamsul Arifin, calon dari 
Golkar dan beberapa partai pendukung (termasuk PKS) yang sekarang meringkuk di 
penjara. Artinya, pada Pemilukada Gubsu 2013 mendatang, tentunya partai politik 
yang ada tidak akan tinggal diam. Apalagi relative, mereka merupakan beberapa 
partai politik yang lebih besar dan lebih kuat dari pada PKS. Bukan mustahil 
pula, tahun 2013 nanti, disamping Golkar, ada PDI-P, Partai Demokrat, PAN, PPP 
disamping Gerindra yang mungkin menjadi lebih kuat, sementara Nasdem mungkin 
juga sudah bisa lebih berperan meski masih dibelakang layar***

Penulis adalah budayawan dan Guru Besar UMSU Medan.

Share on facebook Share on twitter Share on email Share on print More Sharing 
Services 
0 Baca Juga Artikel Berita Terkait 
Jumat, 13 Jul 2012 10:34 WIB
"Pilkada Jakarta cermin kegagalan parpol"
Kamis, 12 Jul 2012 06:34 WIB
Hasil Akhir ‘Quick Count’:
Jokowi-Ahok Kalahkan Foke-Nara
Rabu, 11 Jul 2012 13:30 WIB
Hampir 10 ribu tahanan punya hak suara di Pilkada DKI
Rabu, 11 Jul 2012 11:35 WIB
8 KPUD "studi banding" Pilkada DKI
Rabu, 11 Jul 2012 06:39 WIB
21.344 DPT yang Disinyalir Ganda Dihapus
Selasa, 10 Jul 2012 15:35 WIB
"Jangan sampai golput di Pilkada DKI"

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke