Ref: Pantas atau tidak pantas beginilah pengertian mereka dinamakan wakil 
rakyat NKRI. Apa yang Anda harapkan dari mereka baik teriakan falsah itu ini 
atau menengok ke angkasa adalah tidak lain dari sendiwara fatamorgana. Tiap 
kali pemilihan umum atau pilih kadal adalah tidak lain dari pada pengesahan 
kedudukan tukang copet dan tukang catut untuk tetap berkuasa atau mengantinya 
yang lama dengan yang baru.

http://news.detik.com/read/2012/07/19/105359/1969288/471/pantaskah-wakil-rakyat-menyalahkan-rakyatnya

Kamis, 19/07/2012 10:53 WIB 
Pantaskah Wakil Rakyat Menyalahkan Rakyatnya? 
Atifa Rahmi - detikNews

Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda 

Jakarta "Orang miskin itu karena salahnya sendiri dia malas bekerja. Jadi bukan 
salah siapapun kalau ada orang miskin", kata ketua MPR RI (waspada.co.id, 9/7).

Sungguh, merupakan suatu kesimpulan yang tergesa-gesa. Kenyataannya, belum 
tentu orang yang miskin tersebut adalah orang yang malas bekerja.

Kita lihat saja bagaimana pemulung bekerja dari pagi hingga sore mengumpulkan 
barang bekas, namun tetap miskin. Petani yang sudah ke sawah dari subuh, namun 
masih sulit memenuhi kebutuhannya. Kuli bangunan yang bekerja dari pagi hingga 
sore, namun masih jauh dari kata berkecukupan.

Apakah mereka malas bekerja? Jawabannya tentu tidak, bahkan mungkin mereka jauh 
lebih rajin dari pada para wakil rakyat kita yang sering study tour ke luar 
negeri dan tidur di tengah rapat. Namun, mengapa mereka tetap miskin?

Sudah bukan hal yang aneh lagi di negeri ini bahwasannya kemiskinan dapat 
diwariskan. Ketika seorang bapak hidup sebagai pemulung, maka kemungkinan besar 
anaknya juga seorang pemulung.

Pendidikan yang mahal menjadikan banyaknya anak negeri ini yang tidak dapat 
mengenyam bangku pendidikan ataupun yang putus sekolah. Akibatnya, tak ada 
pilihan bagi mereka selain mengikuti profesi orang tuanya.

Di sisi lain, kekayaan alam yang sudah seharusnya menjadi milik rakyat malah 
diberikan kepada asing. Tak hanya itu, pejabat pemerintahan dan wakil rakyat 
malah mencuri uang rakyat. Sedikit sekali usaha yang dilakukan untuk 
memperbaiki taraf hidup rakyat ini, jika dikatakan tidak sama sekali, seakan 
kemiskinan sudah menjadi suatu budaya yang harus dipertahankan.

Sudah menjadi keharusan bagi pemimpin untuk mengurusi urusan rakyatnya, 
termasuk mengentaskan kemiskinan, bukan malah menyalahkan rakyatnya.

Seorang pemimpin itu bagai pelayan bagi rakyatnya, bukannya penguasa. Sejarah 
telah memperlihatkan kepada kita, bagaimana Umar bin Khattab, pemimpin pada 
masa Islam, memanggul sendiri makanan untuk diberikan kepada sebuah keluarga 
yang miskin.

Beliau bertanggung jawab penuh atas kemaslahatan rakyatnya, bukannya malah 
menyalahkan mereka, tidak seperti pemimpin saat ini. Siapa yang tidak 
menginginkan pemimpin seperti beliau?

Sungguh, kepribadian yang terbentuk dalam diri beliau adalah hasil dari didikan 
pendidikan Islam dan pemerintahan yang beliau pimpin adalah pemerintahan yang 
jauh dari kata korupsi, yang mampu menyelesaikan berbagai permasalahan, yaitu 
pemerintahan Islam, khilafah Islamiyyah.


Atifa Rahmi
Jl. Geger Kalong Girang, Bandung
[email protected]
085272650300

(wwn/wwn) 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke