Ref: Kalau tidak dibutuhkan jembatan harus dibuat begitu rupa supaya 
membutuhkan, karena perusahaan-perusahaan kaum penguasa dan kaum elit harus 
mendapat obyek yang mendatangkan laba yang diidam-idamkan.

http://www.shnews.co/detile-4913-negara-kepulauan-tidak-butuh-jembatan-antarselat-.html

Negara Kepulauan Tidak Butuh Jembatan Antarselat 
Ellen Piri | Rabu, 18 Juli 2012 - 14:10:56 WIB




(dok/ist)Harus lebih meningkatkan transportasi kelautan. 
JAKARTA – Rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) merupakan upaya 
pengingkaran jati diri Indonesia sebagai negara kepulauan (archipelago state) 
terbesar di dunia. Mestinya, sebagai negara kepulauan, moda transportasi laut, 
terutama feri, merupakan pilihan yang masuk akal. 

Negeri ini mestinya bercermin dari Jepang dan Filipina. Kedua negara tersebut 
tidak mewacanakan membangun jembatan di selat-selat yang mereka miliki, tetapi 
sangat aktif dalam meremajakan moda transportasi laut. 

Pengamat maritim dan industri pelayaran Siswanto Rusdi mengatakan hal ini, Rabu 
(18/7), menyikapi tarik ulur pembangunan JSS. “Sependek pengetahuan saya, dua 
negara ini tidak mewacanakan membangun jembatan di selat-selat yang mereka 
miliki," tuturnya. 

Sementara itu, Indonesia, sebelum JSS, juga telah membangun Jembatan Suramadu 
yang menghubungkan Pulau Jawa dan Madura. "Yang terjadi kemudian, bisnis feri 
menurun cukup signifikan. Karenanya, jika JSS jadi dibangun bisa dibayangkan 
agregat kerugian yang harus ditanggung pengusaha feri," ujarnya. 

Pemerintah sendiri dalam rapat koordinasi pembangunan JSS di Kantor Kementerian 
Perekonomian, hari ini, memastikan tidak akan mengubah Peraturan Presiden 
(Perpres) Nomor 86 Tahun 2011 soal pembangunan JSS. Namun, semua usulan baru 
yang masuk akan ditampung dewan pengawas dan segera diputuskan. 

Menko Perekonomian Hatta Rajasa selaku ketua Dewan Pengarah Kawasan Strategis 
Jembatan Selat Sunda menuturkan, saat ini dewan sedang membahas usulan dari 
Menteri Keuangan soal JSS. 

Ada dua masukan penting dari Menteri Keuangan yang menjadi materi pembahasan. 
Pertama, Menkeu mengusulkan pembangunan jembatan dipisahkan dari pembangunan 
kawasan. Kedua, pelaksanaan studi kelayakan dibiayai melalui APBN dan 
ditenderkan. 

"Terhadap usulan tersebut, rapat menetapkan membentuk tim yang bekerja selama 
dua minggu dan melaporkan dengan dewan pengawas untuk diputuskan. Jadi tak 
perlu perubahan perpres," kata Hatta. 

Tim tujuh sendiri yang nantinya akan mengkaji usulan tersebut terdiri dari 
Menteri Pekerjaan Umum, Menkeu, Sekretaris Kabinet, Setneg, Menteri Hukum dan 
HAM, Menteri Perindustrian, dan Kepala Bappenas. "Apa pun hasil keputusan tim 
tujuh ke dewan nantinya akan menjadi keputusan," tuturnya. 

Menkeu Agus Martowardojo mengatakan, ia mengusulkan ada sedikit perubahan dalam 
pembangunan JSS, lantaran melihat proyek ini membutuhkan waktu jangka panjang 
dan untuk digunakan dalam jangka panjang juga. 

"Intinya dewan pengarah membuka diri terhadap masukan. Kalau kelayakan itu 
sudah diterima dan nanti mau ditenderkan, tentu pemenang tender akan membayar 
kembali," tuturnya. 

Terlalu Mahal 

Wakil Ketua DPP Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan 
(Gapasdap) Bambang Harjo juga menilai megaproyek JSS terlalu mahal. Lagipula, 
ia mempertanyakan apakah itu akan menjadi solusi yang pasti dalam mengatasi 
kemacetan maupun penumpukan truk barang di pelabuhan. Lagi pula, katanya, 
apakah tiap antarpulau harus dibangun jembatan. 

Menurutnya, permasalahan utama dalam terhambatnya pendistribusian barang 
antarpulau melalui lalu lintas penyeberangan ialah hampir di seluruh 
perlintasan penyeberangan jumlah kapal ferinya masih belum mencukupi. Dermaga 
sebagai tempat bongkar muat kapal pun terbatas. 

Pengiriman barang melalui laut sebenarnya jauh lebih efisien, cepat, dan murah 
sehingga beban di penyeberangan juga bisa terdistribusi. Hanya saja, harus bisa 
dipastikan waktu bongkar muat kapal dipercepat dari 75 menit ke 45 menit dan 
waktu berlayar dipercepat dari rata-rata tiga jam menjadi dua jam. 

Selain itu, masalah tarif juga harus mendapat perhatian dalam menumbuhkan 
industri feri itu sendiri. ”Jujur saja, pengusaha sulit mencetak laba. Bahkan, 
banyak yang sulit sekadar menutup biaya operasi. Tarifnya terlalu rendah. 
Bahkan, Januari 2009, tarif pernah turun mengikuti penurunan harga minyak 
mentah dunia,” kata Bambang. 

Kini, tarif feri di Merak-Bakauheni sekitar Rp 550 per mil (jaraknya 16 mil), 
sementara idealnya Rp 1.200 per mil. Artinya, jika truk membayar Rp 350.000, 
seharusnya Rp 700.000. "Siapa pun pengusaha baru yang masuk pasti kesulitan 
karena finansialnya tidak sehat,” ujar Bambang. 

Ketua Umum DPP Gapasdap Syarifuddin Malarangan juga berpendapat, sebagai negara 
kepulauan, industri jasa penyeberangan seharusnya menjadi tulang punggung 
perekonomian. Untuk pengembangan industri feri di Pelabuhan Merak, menurut 
Syarifuddin, investasi yang dibutuhkan tak lebih dari Rp 10 triliun. 

Sementara itu, nilai investasi megaproyek JSS mencapai Rp 250 triliun. Sebagai 
perbandingan, dana megaproyek itu jika digunakan untuk membangun industri 
pelabuhan penyeberangan, arus logistik bisa terdistribusi lebih banyak dan 
merata di seluruh wilayah Indonesia. Apalagi, saat ini masih terjadi 
kesenjangan pembangunan infrastruktur antara kawasan barat dengan timur 
Indonesia. 

Proyek Jembatan Selat Sunda sepanjang 30 kilometer diperkirakan menelan biaya 
sekitar US$ 15 miliar. Proyek tersebut rencananya akan digarap pada 2014 dan 
selesai 10 tahun ke depan. (Faisal Rachman) 

(Sinar Harapan) 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke