http://www.merdeka.com/peristiwa/ulama-ahli-falak-nu-protes-hasil-isbat-pemerintah.html

Jumat, 20 Juli 2012 20:27:13
Ulama ahli falak NU protes hasil isbat pemerintah
 

 
mbah munir. ©2012 Merdeka.com
Ulama Nahdlatul Ulama (NU) Syech Misbachul Munir Alfalakiy(70) yang akrab 
dipanggil Mbah Munir, pakar ilmu falak Internasional yang juga sempat menjadi 
Lajnah Falakiyyah Pusat PBNU mempertanyakan hasil sidang isbat pemerintah. Mbah 
Munir protes karena pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1433 Hijriah jatuh pada 21 
Juli 2012.

Mbah Munir berpendapat, dalam hitungan ilmu falak jatuhnya awal Ramadan Jumat 
20 Juli 2012. Perhitungan itu berdasarkan sembilan dari 10 kitab popular ilmu 
falak yaitu Kitab Nurul Anwar Badingatul Nisa, Kitab Minhajurroh Shoddin, Kitab 
Arrisalatul Falakhiyakiyah, Kitab Huluhul Wathor, Kitab Umdhatutholib, Kitab 
Rouful Manan, Kitab Risalatul Khomar dan Kitab Sulamun Naiyreni.

Sementara Muhammadiyah dalam hitunganya menggunakan teori dan pengetahuan hisab 
hakiki. Metode itu tidak memerlukan rukyat atau melihat hilal. 

"Sebelumnya saya sudah tahu 1 Ramadan 1433 jatuh dua hari Jum'at Kliwon dan 
Sabtu Legi. Tidak perlu ambil kepusingan tanggal saya 1 Ramadan Jumat Kliwon 
dengan ketinggian ikwanul rukyat diikmalkan tidak bisa. Digenapkan 30 hari 
malah salah. Falak populer ada 10 dari 9 kitab, lima di antaranya menerangkan 
sudah bisa ditetapkan. Maka, 1 Ramadan tetap Jumat Kliwon 20 Juli. Kalau 
Muhamamdiyah tiga bulan sebelum datangnya puasa, salah seorang pengurus Majelis 
Tarjih PP Muhamamdiyah sudah menghubungi saya," kata Mbah Munir kepada 
merdeka.com di Ponpes Marzakul Falakiyah Dusun Semali, Desa Salamkanci, 
Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Mbah Munir menyesalkan mengapa dalam pengamatan rukyat hilal ada salah satu 
jemaah di Cakung yang sempat melihat hilal bahkan disumpah tidak dijadikan 
bahan dan dasar untuk menetapkan jatuhnya 1 Ramadan 1433 H. 

"Selain dari sembilan kitab yang ada menyatakan sudah dua derajat lebih sudah 
ikmalkan untuk rukyat. Maka satu Ramadan 1433 Hijriah tetap jatuh pada Jum'at 
Kliwon 20 Juli 2012. Dalam proses melihat hilal, pada prosesnya ada salah satu 
tepatnya, di Cakung, Jakarta melihat hilal. Kenapa proses melihat hilal ini 
tidak diakui bahkan dikesampingkan begitu saja? Ini politik dan gengsinya 
pemerintah dalam siding isbat kemarin,” ujar dia.

Mbah Munir menceritakan, sejarah Nabi Muhammad SAW, dalam penetapan 1 Ramadan 
dan Hari Raya Idul Fitri, seorang kaum kafir pun yang memberi informasi melihat 
hilal, nabi langsung menetapkan jatuhnya puasa dan lebaran berdasarkan 
pengakuan kaum kafir itu.

"Politik dan gengsi. Mengapa sudah melihat bulan saat rukyat hilal ditolak yang 
di Cakung? Apakah itu sudah betul? Nabi tidak begitu caranya. Nabi ada orang 
kafir tahu tanggal, nabi saya tahu tanggal dan melihat hilal. Nabi langsung 
ngomong; Wes sesuk bodho(Ya sudah besok lebaran). Saya orang NU sama dengan 
Muhammadiyah wes biar. Sehingga tanggalan saya dan santri saya 1 Ramadan jatuh 
20 Juli dan hari ini saya sudah puasa," jelasnya.

Mbah Munir berharap, sidang isbat yang dilakukan pemerintah harus berdasarkan 
ilmu pengetahuan dan pengamatan. Dua metode untuk menetapkan jatuhnya hari 
pertama dimulainya puasa itu tidak dapat ditinggalkan. Seharusnya, awal 
penetapan Ramadan tidak didasarkan pada kemenangan dan dukungan banyaknya suara 
dalam forum yang mendukung suara puasa dijatuhkan pada 21 Juli 2012 tetapi 
berdasarkan dua metode yaitu perhitungan ilmu falak dan pengamatan hilal. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke