MEMO YANG CUKUP KRITIS DAN LOGIS dari Bung LIN.  ( Bravo : Nyambung terus ..
...!!! )
* Dengan kata lain Agar Suatu Strategi ( baik Politik , maupun Ekonomi  )
bisa berjalan dengan mulus - Maka harus dilindungi dengan berbagai Payung -
baik Payung
  Hukum maupaun Payung Keamanan ) agar terbentruk suatu suasana dan situasi
yang Stabil terkontrol ! Jika  kita lengah - maka dengan mudah bisa DISABOT 
  orang tau Lawan sendiri.

* System Organisasi yang rapih dan correct adalah salah satu jaminan keaarah
yang effektive untuk bisa mengontrol Situasi.
* Langkah pertama adalh Merpatakan barisan kedalam dan membentuik dan
menciptalkan  Disiplin orgaisasi dan Disiplin kerja yang Rapijh kedalam.
* MEMBUKA DAN MERANGKUL SEMUA GOLONGAN dalam satu WADAH  - lebih2 dalam
Tahap2 dimana Konsolidasi Kekuatan didalam tubuh sendiri belum 
  kiat dan meyakinkan ..... akan sama saja dngan HARAKIRI..... SEBELUM
MEMULAI ( Sebelum Start ).

** MENCAPAI KEMENANGAN - CENDERUNG TIDAK SESULIT SEPERTI MEMPERTAHANKANNYA .
.! 
  


 

-------Original Message-------
 
From: Hsin Hui Lin
Date: 21.7.2012 8:11:45
To: GELORA45
Subject: [GELORA45] Jokowi-Basuki Merangkul Semua Golongan - BAGIMANA
MENJAGA KEAMANAN JOKOWI-AHOK?? [1 Attachment]
 
  
[Attachment(s) from Hsin Hui Lin included below]
 


HARUS KEMBALI KE-KENYATAAN:
Diserang SMS Gelap Mengandung SARA, Jokowi Tak Pedulikan


HARUS KEMBALI KE-KENYATAAN:
BAGIMANA MENJAGA KEAMANAN JOKOWI-AHOK?? INI MASALAH BESAR, INI BISA MENJADI
MASALAH HARI DEPAN INDONESIA!!!

JOKOWI-AHOK DEKAT DENGAN RAKYAT.........YA BENAR!..
KARENA ITU KAN JUGA MUDAH MENJADI SASARAN-EMPUK TERORISM LAWAN2
POLITIK,... KALAU ADA DIANTARA MEREKA YANG MERASA TERPOJOKAN,... INI JANGAN 
DIREMEHKAN! .

MASALAH YANG BENAR RUMIT:..... DEKAT DENGAN RAKYAT DAN KEAMANAN  PRIBADI,
JOKOWI-AHOK ,DIMANA SAJA, TERMASUK DIRUMAH SENDIRI..
PENTING MEMPUNYAI PIMPINAN JUJUR, DEKAT DENGAN RAKYAT, PERPANDANGAN JAUH --
SYARATNYA PEMIMPIN SEPERTI ITU HARUS MEMPUNYAI KESEMPATAN DAN CUKUP WAKTU..
YANG PANJANG UNTUK MEMIMPIN. ..DAN SOAL KEAMANAN MEREKA ADALAH KUNCI!
KITA TAK BOLEH TERTIDUR DALAM "EUPHORIA" KEMENANGAN JOKOWI-AHOK BARU2 INI ,
KITA HARUS KEMBALI PADA KENYATAAN DUNIA POLITIK, ANCAMAN DARI MUSUH2 DALAM 
DAN LUAR NEGERI -  KUBU JOKOWI-AHOK PAGI2 SUDAH HARUS ADA PERSIAPAN KONKRIT
UNTUK KEAMANAN MEREKA.

SEJARAH TELAH BANYAK BERI CONTOH : ABRAHAM LINCOLN, LENIN, GENERAL AUNG SAN
-AYAH  AUNG SAN SUU KYI- , MAHATMA GANDHI, ANWAR SADAT, J F KENNEDY,INDIRA
GANDHI, RAJIV GANDHI, BENAZIR BHUTTO ....DAN INGATLAH PERISTIWA PELEMPARAN
GRANAT TANGAN PADA BUNG KARNO!!!!.
DIBEBERAPA NEGARA, BEGITU TERLIHAT ADA SEORANG CALON PEMIMPIN BAIK YANG
SEDANG "MENINGKAT KEATAS, -SERING PAGI2 SUDAH "DISELESAIKAN".
LEE KUAN YEW, DARI MULA PERJUANGANNYA SUDAH MEMPERHATIKAN SEKALI SOAL
KEAMANAN  PIMPINAN PARTEINYA, PAP, TERMASUK LEE K.Y.. 
DAN KEMUDIAN LEE, SEBAGAI PERDANA MENTERI,  MENGAMBIL PRAJURIT2 GURKHA YANG
TERKENAL KESETIAAN DAN KEMAHIRAN MEREKA SEBAGAI PERAJURIT, UNTUK KESATUAN
KEAMANANYANG MENJAGA LEE, ISTANA LEE...... SAMPAI HARI INI (? ).

KENYATAAN......KALAU LAWAN POLITIK YANG AMPUH, DEKAT RAKYAT DLL ... SUDAH
TAK ADA KAN SUDAH TAK BERGUNA...HANYA TINGGAL NAMA SAJA YANG SELALU
DIKENANGKAN... ..SEPERTI GENERAL AUNG SAN, MAHATMA GANDHI. .... 
 US ARMY GENERAL GEORGE PATTON DALAM PD-II, TEKANKAN, "LET THE FRITZ ( 
TENTARA NAZI ) DIE FOR THEIR FATHERLAND" HEBAT KAN MATI DEMI "FATHERLAND",
BIARLAH MENJADI PAHLAWAN BANGSA!. MAKIN BANYAK TENTARA JERMAN YANG MATI
UNTUK DE FATHERLAND , MAKIN BERKURANG JUMLAH TENTARA JERMAN, MAKIN BERKURANG
PULA PERLAWANAN MEREKA.


SALAM, LIN












2012/7/20 GELORA45 <[email protected]>

  
 
Jokowi-Basuki Figur yang Merangkul Semua Golongan
Penulis : Kurnia Sari Aziza | Jumat, 20 Juli 2012 | 06:32 WIB
 
JAKARTA, KOMPAS.com — Politisi Partai Amanat Nasional, Bima Arya Sugiharto,
menuturkan, salah satu kunci kemenangan pasangan calon Jokowi-Basuki pada
putaran pertama Pilkada DKI Jakarta 2012 adalah karakter ketokohan yang
cukup kuat. 
"Sentimen kepartaian hancur pada Pilkada DKI Jakarta kali ini karena
pasangan Jokowi-Basuki menampilkan figur yang terlihat mampu merangkul
berbagai kalangan dan golongan," kata Bima Arya dalam diskusi "Masihkah
Layak Lembaga Survei Dipercaya?" di Jakarta Media Center, Jakarta, Kamis
(19/7/2012). 
Dalam menghadapi putaran kedua, menurut Bima, kedua pasang calon harus lebih
fokus pada ide dan gagasan ketimbang pencitraan. Ia pun menyetujui apabila
Jakarta dianggap sebagai barometer politik nasional. 
Bima melanjutkan, fenomena adanya swing voters atau pemilih yang ketika
dilakukan survei belum menetapkan pilihan sampai hari H pencoblosan
mengerahkan suara mereka kepada pasangan calon Jokowi-Basuki. 
"Para swing voters ini memiliki kecenderungan bergerak ke arah Jokowi-Basuki
" ujarnya. 
Hal tersebut, menurut Bima, juga dikarenakan oleh faktor figur dan karakter
yang dimiliki oleh pasangan calon besutan Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan tersebut. 
"Karena figur dan karakter Jokowi maupun Basuki yang menawarkan ide
perubahan. Selain itu, visi dan misi Jokowi-Basuki juga berhasil
disosialisasikan media secara baik," katanya. 
Hari Kamis (19/7/2012), Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jakarta telah menetapkan
pasangan nomor urut tiga Joko Widodo-Basuki Tjahaja sebagai pemenang Pilkada
DKI Jakarta 2012 putaran pertama. 
Pasangan Jokowi-Basuki memperoleh suara tertinggi di antara lima calon
lainnya. Berdasarkan penghitungan suara keseluruhan, pasangan Jokowi-Ahok
meraup suara sebanyak 1.847.157 atau sebesar 42,60 persen. 
Editor :
Benny N Joewono
 
 
http://www.suarapembaruan
com/home/diserang-sms-gelap-mengandung-sara-jokowi-tak-pedulikan/22424
Diserang SMS Gelap Mengandung SARA, Jokowi Tak Pedulikan
Kamis, 19 Juli 2012 | 14:25
Jokowi [google]
[JAKARTA] Sekretaris tim kampanye pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur
DKI Jakarta Joko Widodo-Basuki Tjahaja, M Sanusi mengatakan kandidatnya
tidak peduli dengan beredarnya pesan singkat atau SMS gelap memasuki pilkada
putaran kedua.

"Saya sudah sampaikan kepada Mas Jokowi mengenai maraknya SMS gelap yang
mengandung SARA. Tapi Mas Jokowi mengatakan biarkan saja," ujar M Sanusi di
Jakarta, Kamis.

Ketua Fraksi Gerindra di DPRD Jakarta itu menambahkan pesan singkat gelap
yang memojokkan kandidatnya beserta kampanye hitam, justru akan menjadi
bumerang bagi kandidat yang melakukan hal itu.

"Dengan banyaknya kampanye hitam itu, justru akan menurunkan citra dari
orang yang melakukan itu," ujarnya.

SMS gelap memang beredar, termasuk yang sampai di redaksi SP. Isinya
mengenai kubu Jokowi-Ahok yang disebut-sebut akan didanai yayasan sebuah
agama yang ada di luar negeri yang bermaksud memberikan donasi jutaan dolar,
asalkan jika menang menjadi gubernur DKI akan mendirikan rumah-rumah ibadah
dari agama tertentu. Disinggung mengenai strategi untuk memasuki putaran
kedua ini, Sanusi mengatakan pihaknya akan melakukan konsolidasi partai
pendukung yakni PDI Perjuangan dan Gerindra, kemudian konsolidasi partai
dengan sayapnya dan tim kampanye mengakomodasi seluruh relawan yang ada dan
juga relawan yang baru.

"Jokowi dan Ahok itu nantinya hanya jalan-jalan saja nantinya," tambah dia.

Dia mengaku strategi pada putaran kedua itu tak berbeda dengan strategi
putaran pertama.

Pada putaran pertama, Sanusi mengaku banyak orang datang ke markas tim
sukses untuk bertemu dengan Jokowi dan Ahok.

"Mereka ingin tahu seperti apa sebenarnya Jokowi dan Ahok itu," kata Sanusi.

Sedangkan untuk persoalan koalisi, Sanusi mengatakan pihaknya sepakat
komunikasi dijalankan oleh kandidat sedangkan yang menentukan nantinya
adalah parpol.

"Setelah rapat rekapitulasi penghitungan suara ini baru akan dilakukan
koalisi. Sekali lagi kami tekankan, kami tidak akan mencederai kepercayaan
masyarakat kepada Mas Jokowi dan Ahok dengan menjadikan mereka sebagai sapi
perah. Kami setuju akan berkoalisi sepanjang tujuannya untuk membuat Jakarta
itu lebih baik lagi," ujar dia mengakhiri. [Ant/L-9] 


Jum''at, 20 Juli 2012 | 08:07 WIB
Transjakarta Ideal Versi Ahok 
TEMPO.CO, Jakarta - Transjakarta menjadi sarana transportasi alternatif bagi
warga Ibu Kota. Namun, tak jarang warga mengutarakan keluhannya soal
Transjakarta. Mulai dari waktu tunggu yang terlalu lama, sampai kelebihan
muatan. 

Calon Wakil Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama, memiliki trik agar
Transjakarta bisa memberikan layanan maksimal bagi warga Ibu Kota. Pertama,
menurut Ahok, jumlah armada Transjakarta yang dioperasikan terlalu sedikit. 

“Bus hanya tersedia 520 unit, padahal idealnya setiap koridor ada 120-150
unit,” kata Ahok ketika mengunjungi kantor Tempo di Velbak, Jakarta, kemarin
 Alasan minimnya jumlah armada pun klasik, yaitu masalah dana. 

Dana, kata Ahok, seharusnya tidak menjadi hambatan untuk menyediakan lebih
banyak armada. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta
bisa dimanfaatkan. Namun, jika APBD tak bisa menjadi jawaban atas masalah
dana, maka sektor swasta bisa dilibatkan untuk menjawab masalah penyediaan
armada Transjakarta. 

“Selama ini pemerintah daerah enggan melibatkan sektor swasta karena takut
tidak bisa dikendalikan. Keterlibatan swasta dengan konsorsium bisa jalan
dengan perjanjian yang jelas,” katanya. 

Ahok juga sempat menawarkan salah satu solusi untuk menjawab masalah
anggaran. Di Jakarta, beberapa perusahaan seringkali memasang billboard
untuk iklan. Menurut Ahok, “bayaran” sewa billboard tersebut digunakan untuk
membeli satu unit bus transjakarta. 

“Nanti bus-nya diberi cap perusahaan yang memasang iklan tersebut. Saya rasa
orang Jakarta tidak akan keberatan,” katanya. Solusi ini, menurut Ahok, bisa
menarik masyarakat untuk menggunakan Transjakarta. Minimnya jumlah armada
membuat satu armada Transjakarta yang seharusnya dipenuhi 85 orang akhirnya
disesaki oleh 125 orang. 

Pengawasan terhadap awak Transjakarta yang “nakal” juga bisa dilakukan
dengan sistem kontrol berbasis Global Positioning System (GPS). Dengan GPS
ini, bisa diawasi pukul berapa satu unit bus berangkat, kecepatan bus,
kilometer bus, apakah disengaja atau memang karena macet bahkan pengemudi
bisa langsung diingatkan jika dirasa terlalu cepat mengemudi. “Sistem GPS
ini murah. Mahasiswa di beberapa universitas sudah pernah mengembangkannya,”
katanya. 

Jika masalah armada serta “terhambatnya” traffic armada bisa diatasi, Ahok
yakin masyarakat akan berpaling ke bus Transjakarta. “Mereka membawa mobil
macet, melihat Transjakarta sudah renggang, nah mereka pasti pindah. Hukum
pasar nantinya akan berlaku,” katanya. Dengan sistem tersebut, konsep
Transjakarta di mana armada lewat setiap tiga sampai lima menit pun bisa
terealisasi. 

Untuk menarik kalangan menengah-atas, jika nanti terpilih, Ahok berencana
untuk menyediakan sebuah “paket hemat.” “Mereka bayar Rp 300 ribu per bulan,
itu sudah termasuk bus Transjakarta dengan feeder-nya,” katanya. 

ANANDA W. TERESIA 

 
Golput Masih Merajai Pilkada DKI Jakarta
Penulis : Riana Afifah | Jumat, 20 Juli 2012 | 05:53 WIB
 
JAKARTA, KOMPAS.com — Meski pasangan Jokowi-Ahok telah resmi ditetapkan
sebagai pemenang Pilkada DKI Jakarta 2012 pada putaran pertama, perolehan
suaranya masih jauh tertinggal dengan angka warga Jakarta yang golput. 
Dari hasil rekapitulasi penghitungan suara pada tingkat provinsi, jumlah
warga Jakarta yang tercantum dalam daftar pemilih tetap (DPT), tetapi tidak
menggunakan hak pilihnya, tercatat sebanyak 2.555.207 pemilih. 
Sementara itu, perolehan suara Jokowi-Ahok yang merupakan pemenang hanya
mencapai angka 1.847.157. Data di lima wilayah juga tidak jauh berbeda. 
Untuk Jakarta Pusat, jumlah warga yang masuk dalam DPT, tetapi tidak
menggunakan hak pilihnya, tercatat 300.582 pemilih. Adapun perolehan suara
pemenang di wilayah ini adalah Jokowi-Ahok, tetapi hanya menyentuh angka 193
446 pemilih. 
Untuk Jakarta Selatan, jumlah warga dalam DPT yang memilih tidak menggunakan
haknya terdata sebanyak 564.010 pemilih. Pasangan Jokowi-Ahok yang unggul di
wilayah ini cukup memperoleh suara dari 357.172 pemilih. 
Selanjutnya di Jakarta Timur, selisih golput dengan perolehan suara pemenang
juga tampak mencolok. Jumlah warga yang masuk dalam DPT tetapi tidak memakai
hak pilihnya sebanyak 721.499 pemilih. Adapun perolehan suara Jokowi-Ahok
ada pada angka 502.616 pemilih. 
Kemudian di Jakarta Barat, pasangan Jokowi-Ahok yang menang dengan perolehan
suara sebesar 467.081 pemilih tetap tertinggal dengan jumlah warga dalam DPT
yang tidak menyoblos pada 11 Juli lalu. Sebanyak 503.797 warga Jakarta Barat
memilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya. 
Terakhir di Jakarta Utara, jumlah warga yang tidak memilih, tetapi masuk
dalam DPT, tercatat sebanyak 461.518 pemilih. Perolehan suara Jokowi-Ahok
yang berada di puncak untuk wilayah ini hanya meraup sebesar 325.569 pemilih
 
Yang mengejutkan di Kepulauan Seribu, pasangan Foke-Nara yang menang dengan
perolehan suara 6.916 berhasil menyaingi suara warga yang tidak digunakan,
yaitu sebesar 3.801 pemilih. 
Editor :
Benny N Joewono



 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke