KPK Didesak Usut Aliran Dana Sandiaga Uno ke SBY
Oleh Willy Widianto | TRIBUNnews.com - 17 Juli 2012
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Willy Widianto 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Politisi Partai Gerindra Desmon J Mahesa mendesak KPK 
menelusuri aliran dana pengusaha Sandiaga Uno ke Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 
saat kampanye Pemilihan Presiden 2009 lalu.

"Ini bisa dikatakan melanggar Undang-Undang, termasuk Undang-Undang Pencucian 
Uang (money laundring). Ini pun berakibat jabatan SBY haram. Ini adalah ujian, 
apakah mereka (KPK) bisa membuktikan sebagai penegak hukum yang bisa 
dipercaya," kata Desmon kepada wartawan di Jakarta, Senin (16/7/2012).

Untuk diketahui, PT Persada Capital Investama, salah satu perusahaan milik 
Sandiaga Uno, diketahui menyumbang dana sebesar Rp 3,5 miliar. Transaksi 
tersebut tercatat pada 25 Juni 2009.

Sementara, PT Saratoga Investama Sedaya, yang dimiliki Sandiaga Uno juga 
menyumbang Rp 4,17 miliar. Bukan hanya sekali, Saratoga tercatat beberapa kali 
mengirimkan sumbangan dana kampanye.

Setidaknya pada 25 Juni 2009 perusahaan ini mengirimkan dana sebesar Rp 400 
juta sebanyak empat kali.

Tanggal 26 Juni PT Saratoga kembali mengirimkan uang sebesar Rp 400 juta 
sebanyak empat kali. Tanggal 29 Juni 2009 kembali mengirimkan Rp 400 juta dalam 
tiga kali transaksi atau senilai Rp 1,2 miliar.

Terkait aliran dana tersebut, kata Desmon, KPK harus mengusut apakah dana yang 
dialirkan itu berasal dari praktek bisnis hitam atau bukan. Sebab, kalau SBY 
mendapatkan dana dari bisnis hitam, maka hal ini melanggar aturan.

Terlebih lagi, kata anggota Komisi III DPR ini, tersangka kasus korupsi 
Muhammad Nazaruddin mengungkapkan keterlibatan pengusaha muda, Sandiaga 
Salahuddin Uno dalam kasus dugaan korupsi wisma atlet SEA Games XXVI di 
Palembang, Sumatera Selatan.

Namun pengakuan Nazaruddin yang menyebut Sandiaga sebagai 'pengusaha muda' 
tidak pernah ditindaklanjuti oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

Informasi yang beredar pun menyebutkan, ada aliran dana dari Sandiaga ke partai 
pemenang Pemilu 2009 itu. Hal itu diperkuat dokumen laporan audit dari Komisi 
Pemilihan Umum (KPU), yang menyebutkan Sandiaga menyumbang Rp1 miliar.

Transaksi Sandiaga tercatat pada tanggal 30 Juni 2009. Dalam kolom keterangan 
disebutkan alamat Sandiaga di Jalan Galuh 2 No 18 RT 3/1 Selong Kebayoran Baru, 
Jakarta Selatan. Bukan hanya itu, Sandiaga juga menyumbang kampanye pemenang 
Pemilu 2009 ini lewat sejumlah perusahaannya.

 

Ridwan Saidi: Partai Demokrat Anjlok di Mata Rakyat
Penulis : Galih Prasetyo | Selasa, 17 Juli 2012 | 05:53 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Hasil hitung cepat berbagai lembaga survei pasca-Pilkada 
DKI Jakarta, Rabu (11/7/2012) lalu, mengejutkan banyak pihak. 

Litbang Kompas merilis Jokowi-Ahok mendulang suara 42,59 persen mengungguli 
Foke-Nara yang hanya memperoleh 34,32 persen berada diposisi kedua. 

Meski rilis resmi KPUD belum disiarkan, budayawan Betawi, Ridwan Saidi, menilai 
selain masalah figur calon, anjlok atau tidaknya suara kandidat lebih 
ditentukan oleh mesin politik yang mereka bangun. 

Menurutnya, calon tak mungkin bekerja sendirian. "Itu kembali ke soal mesin 
politik. Partai Demokrat anjlok di mata rakyat. Hancurnya Foke di mata rakyat 
karena citra Demokrat yang sudah hancur," kata Ridwan Saidi kepada Kompas.com, 
Jakarta, Senin (16/7/2012). 

Ridwan mengatakan, Foke tak cukup punya waktu untuk minimal membenahi citra 
Demokrat. Terlebih posisi Foke di partai incumbent itu tidak strategis. 
Mengingat pada tahun 2012 pemberitaan terkait skandal korupsi terhadap Partai 
Demokrat cenderung negatif. 

"Foke untuk memperbaiki demokrat waktunya enggak cukup. Ibarat perahu sudah 
bocor. Apa pun sudah selesai. Anjloknya Foke, awal dari hancurnya rezim SBY," 
tutur Ridwan. 

Sementara Jokowi, menurut Ridwan, sosok yang diharapkan rakyat bisa membawa 
perubahan dan pembaruan. Tim sukses pemenangan Jokowi-Ahok juga dinilai bekerja 
lebih tekun dan profesional. 

Sebab, tanpa mesin politik yang baik mustahil Jokowi bisa populer dan menang di 
pilkada putaran awal. 

"Kalau keinginan rakyat adalah perubahan, ya dia maunya perubahan. Rakyat 
maunya begitu. Kini tinggal bagaimana Jokowi memenuhi harapan rakyat. Rakyat 
mengharapkan sesuatu yang baru. Harapan akan perubahan untuk mengemban misi 
kebaruan," tutur Ridwan. 

Editor :
Benny N Joewono

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke