Jumat, 20/07/2012 09:02 WIB 
Kasus Peluru Nyasar, 
Polisi Keluarkan Tembakan karena Diancam Buronan 

Jakarta Kasus peluru nyasar ke warga Sawah Besar, Jakpus, dikarenakan polisi 
diancam oleh buronannya dengan senjata api. Sayangnya, saat ingin melumpuhkan 
tangkapannya, peluru polisi melenceng dan mengenai Rudi (57) warga Sawah Besar.

"Anggota kita diancam dengan senpi oleh pelaku. Dan kita bertindak sesuai 
prosedur," kata Kapolres Jakarta Selatan, Kombes Pol Imam Sugiarto, dalam pesan 
singkatnya kepada wartawan, Jumat (20/7/2012).

Imam menjelaskan, pelaku yang dikejar anggota kepolisian berjumlah dua orang. 
Mereka mengancam dan melarikan diri saat polisi ingin memeriksa identitas serta 
surat kelengkapan mobil.

"Salah satu dari mereka membawa senpi, jenisnya kita belum tahu," sambung Imam.

Sebelumnya diberitakan, Rudi (57) warga Sawah Besar, Jakarta Pusat, terkena 
peluru nyasar dari polisi pada Kamis kemarin. Kala itu, anggota Polres Jakarta 
Selatan sedang mengejar buronannya namun saat memberikan tembakan, peluru 
tersebut melenceng dan mengenai warga.

Pengejaran tersebut terkait kasus perampokkan terhadap korban dengan inisial S. 
Korban dirampok oleh pelaku pada hari Kamis (17/7) lalu, di sebuah Mal daerah 
Kuningan Jakarta Selatan.

"Mobil yang dirampok ialah Suzuki APV nopol B 1472 SZI. Selain dirampok korban 
dibuang ke Cimanggis Depk, Jabar," ucap Kapolres Jakarta Selatan Kombes Pol 
Imam Sugiarto.

(rvk/fjp)


http://www.gatra.com/hukum/31-hukum/15366-tragedi-balaesang-tanjung-diduga-gunakan-peluru-tajam
Tragedi Balaesang Tanjung Diduga Gunakan Peluru Tajam
Friday, 20 July 2012 07:03 
Palu - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menduga, penembakan 
terhadap warga Balaesang Tanjung, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, yang 
menewaskan seorang warga bernama Masdudin menggunakan peluru tajam.

"Kalau melihat luka korban itu tidak mungkin peluru karet. Polri harus segera 
mengusut kasus ini," kata Wakil Ketua Komnas HAM Ridha Saleh di Palu, Kamis 
malam (19/7).

Ridha Saleh, setelah tiba di Palu, Kamis sore, langsung menjenguk korban di 
rumah sakit Bhayangkara Polda Sulawesi Tengah.

Ridha dan Ketua Komnas HAM Perwakilan Sulawesi Tengah Dedy Askari belum 
diizinkan langsung melihat kondisi korban, sehingga diajak oleh Kabid Dokkes 
Polda Sulawesi Tengah AKBP Aris Budianto ke ruang kepala rumah sakit setempat.

Ridha Saleh meminta maaf kepada wartawan untuk keluar sejenak dari ruangan 
tersebut karena ia sudah menduga ada sesuatu yang hendak disampaikan Aris 
Budianto.

"Berdasarkan keterangan itu dan saya juga melihat proses pemandian jenazah maka 
saya menduga korban tertembak dari belakang tembus pada bagian perut," kata 
Ridha Saleh.

Menurut dia, dirinya juga sudah menghimpun informasi dari sejumlah keluarga 
tentang latar belakang korban.

Ridha mengatakan, korban tewas bernama Masdudin alias Sando selama ini tidak 
pernah berurusan dengan rencana aktivitas pertambangan di Balaesang Tanjung 
tersebut. Namun Masdudin juga terkena tembakan aparat kepolisian.

Dia mengatakan, untuk memastikan bagaimana posisi korban saat peristiwa 
terjadi, Komnas HAM akan melakukan investigasi lapangan.

"Kami juga akan melihat protap penembakan itu. Dugaan kami ada pelanggaran 
protap," katanya.

Ridha yang juga mantan aktivis mahasiswa Universitas Tadulako Palu itu 
mengatakan, langkah awal yang harus dilakukan di Balaesang Tanjung adalah 
membangun rekonsiliasi antar warga pro dan kontra terhadap rencana pertambangan 
di daerah itu.

Selain itu kata Ridha, masyarakat yang saat ini melarikan ke gunung karena 
menghindari pencarian polisi, harus dievakuasi kembali ke desanya 
masing-masing. Polri harus memberikan perlindungan dan pengamanan terhadap 
masyarakat.

"Apalagi informasi yang kami peroleh masih ada korban luka yang lari ke 
gunung," katanya.

Menurut rencana, Jumat pagi Komnas HAM akan turun ke Balaesang Tanjung, sekitar 
100 kilomater arah utara Kota Palu, bersama dengan jenazah Masdudin.

"Kami berharap pemakaman besok berlangsung aman," katanya. [TMA, Ant]





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke