Hendardi: Berhentikan Saja Menteri yang Diindikasi Korupsi
Penulis : Galih Prasetyo | Jumat, 20 Juli 2012 | 07:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua SETARA Institute, Hendardi, menilai peringatan yang 
dilontarkan Presiden SBY menyangkut korupsi tidak akan membawa pengaruh 
terhadap kemajuan pemberantasan korupsi.

Seperti diberitakan, SBY saat membuka sidang kabinet paripurna di Kantor 
Presiden, Jakarta, Kamis (19/7/2012), mengimbau tegas supaya pejabat negara 
tidak melakukan penyelewengan anggaran dan korupsi.

"Kalau SBY berniat menegakkan etika politik yang bersih, sebaiknya berhentikan 
saja para menteri yang diindikasi korupsi atau mengetahui terjadinya korupsi di 
kementeriannya dan membiarkannya," kata Hendardi melalui pesan singkatnya, di 
Jakarta, Kamis malam.

Tak bisa dimungkiri, dari jajaran menteri di Kabinet Indonesi Bersatu (KIB) 
Jilid II ini, beberapa nama kerap disebut-sebut terlibat dalam skandal korupsi. 
Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Malarangeng, misalnya.

Di internal kementeriannya sedang diterpa dugaan korupsi. Teranyar, Kamis 
(19/7/2012), ruang Biro Perencanaan Keuangan Kantor Kementerian Pemuda dan 
Olahraga di Senayan dan gedung arsip Kemenpora di Cibubur digeledah KPK.

Setidaknya, ada sederetan nama menteri ataupun kementeriannya yang 
dikait-kaitkan dengan kasus korupsi, seperti Menteri Tenaga Kerja dan 
Transmigrasi Muhaimin Iskandar, Agung Laksono selaku Menteri Koordinator 
Kesejahteraan Rakyat, dan Menteri Agama Suryadharma Ali, yang kementerian 
diduga menyelewengkan anggaran terkait pengadaan Al Quran.

Apabila SBY memiliki data sahih mengenai korupsi di jajaran kabinetnya, 
Hendardi menuturkan, pakta integritas bisa dijadikan alasan untuk melakukan 
evaluasi kabinet.

"Apalagi SBY mengaku memiliki data sahih soal korupsi. Pakta integritas bisa 
dijadikan tolok ukur untuk evaluasi kabinet," tutur Hendardi. 

Editor :
Benny N Joewono


Terkait Menteri Korupsi
Peringatan Keras SBY Tak Akan Berpengaruh
Penulis : R. Adhi Kusumaputra | Jumat, 20 Juli 2012 | 00:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Peringatan keras Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada 
para menterinya terkait korupsi di beberapa kementerian tidak akan memberikan 
pengaruh apapun pada pemajuan pemberantasan korupsi.

"Kalau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berniat menegakkan etika politik yang 
bersih, sebaiknya berhentikan saja para menteri yang diindikasi korupsi atau 
tahu terjadinya korupsi di kementeriannya dan membiarkannya. Apalagi SBY 
mengaku memiliki data sahih soal korupsi," kata Hendardi, Ketua BP Setara 
Institute dalam siaran persnya, Kamis.

"Pakta Integritas bisa dijadikan tolok ukur untuk evaluasi kabinet," jelas 
Hendardi, 

Editor :
Robert Adhi Ksp

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke