Sukarno tidak bisa dijadikan ukuran apalagi model untuk Presiden Indonesia kapanpun. Sukarno pada masanya adalah seorang Presiden yang terkenal, populer tapi belum sebagai tokoh besar yang sesungguhnya. Sukarno meninggalkan kegagalan dan keporak porandaan negeri dan ahirnya dia menyerah tanpa pernah memberikan perlawanan yang berarti pada lawan yang munggulingkannya: suharto. Sukarno meraih kepopulerannya sendiri dengan menciptakan konfrontasi-konfrontasi yang itupun dia selalu kalah: dengan Malaysia, dengan klik Militer Nasution, dengan Oldefo-nya, dengan Imperialis AS dan macam-macam lagi dan yang terahir dengan suharto yang menggulingkannya secara tuntas dan tak bersisa. Sukarno adalah sejarah kekalahan dan kehancuran dan dia adalah korban semua konfrontasi-konfrontasi politik yang dia ciptakan sendiri. Tapi dia meninggalkan ideologi: Sukarnoisme. Namun juga Sukarnoisme tidak akan berlangsung lama sebagai ideologi karena pewarisnya adalah seorang yang kalah. Sukarnoisme akan cuma bersifat ideologi kenang-kenangan, ideologi nostalgia yang kadang-kadang masih digunakan atau dipinjam oleh Partai politik yang tanpa ideologi seperti yang dilakukan oleh putri sulungnya sendiri dengan Partai Sosdemnya. Atau sebagai ideologi pinjaman untuk elemen-elemen "kiri" Indonesia yang sekaligus sebagai ideologi eskapisme dari Komunisme ke Sosial demokrat (Sosdem) selama ideologi Komunisme yang telah ditenggelamkan suharto tidak berani bangkit kembali. Di Indonesia belum lahir seorang pemimpin besar dan belum ada hinggaa kini. suharto hanya mewariskan ideologi Oportunisme dan telah melahirkan pula para pemimpin Oportunis yang bertuhan pada kepentingan diri sendiri dan golongan serta bertuhan pada kekuasaan. Setiap diadakannya Pilkada atau Pemilu, para tokoh Oportunis saling berkompetisi untuk merebut suara rakyat. Sejarah para tokoh Oportunis itu terkadang berlatar belakang darah dan terorisme. Seorang Prabowo yang anti Tionghoa dan juga pencetus hura hara teror berdarah terhadap etnis Tionghoa bisa didukung justru oleh segolongan etnis Tionghoa lainnya sebagai calon Presidem dan bahkan Megawati dengan senang hati bersanding bersama Prabowo sebagai calon Presiden dan wakil Presiden. Drama Oportunis seperti ini di Indonesia dianggap biasa, lumrah dan bahkan semakin membudaya dan bahkan lagi dianggap "ideologi moderen". Tapi tidak untuk rakyat Indonesia yang masih diam. ASAHAN. ----- Original Message ----- From: aboeprijadi santoso To: zaenal muttaqin Cc: Salim Said ; Group Diskusi Kita ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; 'Djoko Suyanto ; A Dahana ; A. Rahman Tolleng ; A.H. Amparita ; Abdillah Toha II ; Abidin Abidin ; achmad Mubarok ; Achmad Sujudi Dr. ; Agus Abubakar ; Agus Widjojo ; Ahmad W. Pratiknya ; Ahmad Yani Basuki ; Ahmad Zen Umar Purba ; alfan alfian ; Ali Mohamad Sungkar ; amran nasution ; Andi Wijayanto ; ASAHAN ; Asahan Aidit ; Astrid Suryo ; August Parengkuan ; B. J Habibie ; Bahtiar Effendy ; Bambang Harimurty ; Burhanuddin Abdullah ; Burhanuddin Muhtadi ; Chan ; chappy hakim ; Christianto Wibisono ; Daud Sinjal ; Dedy Jamaludin Malik ; Dewi Fortuna Anwar ; Dharmawan Ronodipuro ; Didik Rachbini, Professor Dr. ; Dinna Wisnu ; Donny Gahral Adian Dr. ; Dr. Joe Sulaiman ; Dr. Saafroedin Bahar ; Dr. Taufik Abdullah ; Dr. Yuddi Chrisnandi ; Endriartono Sutarto ; Erry Ryana Harjapamekas ; Fahmi Idris ; Fahrul Razi Jenderal ; Farid Prawiranegara ; Farouk Muhammad. ; Freddy Tulung ; Ganjar Pranowo ; halim perdanakusuma ; Handojo Priopranoto ; Hendri Saparini, Dr. ; HS Dillon ; Ibrahim Isa/Holland ; Ichsan Loulembah ; Ikrar Nusa Bhakti ; Indria Samego ; ips/Fadli Zon ; Ir. A.M. Luthfi ; ishaq iskandar ; Jayadi Hanan ; Joseph Daves ; Juwono Sudarsono ; Kiki Syahnakri ; Kusnadi Kardi ; La Ode Muhammad D. ; Liddle, Bill ; Makmur Makka ; Mangadang Napitupulu ; Mohamad Sobari ; mohtar Mas'oed ; Mustafa Kamal ; Pro.Dr. Bungaran Saragih ; Prof. Dr. Djoko Rahardjo ; Prof. Hikmahanto Yuwono ; Prof.Dr. Amir Santoso ; Prof.Dr. Ryaas Rasyid. ; Prof.Dr. Sjafii Maarif ; R.M.A.B Kusuma ; Rachmat Pambudy, Dr. Ir Ms ; Retno L Marsudi ; Rizal Sukma ; RODON PEDRASON ; Rusadi Kantaprawira ; sabam sirait ; Salahuddin Wahid ; Salim Said ; sayidiman suryohadiprojo ; Sinansari Ecip ; sjafrie sjamsoeddin ; Teddy P. Rachmat ; teddy sunardi ; Usep Setiawan Sent: Friday, July 20, 2012 1:12 AM Subject: Re: Fwd: Prabowo
Mimbar yth, Banyak orang barangkali akan mengomentari komentar Zaenal sebagai 'fantastis'. Tulisan Jonathan Manthrope dalam harian Vancouver Sun juga memberi kesan 'fantastis'. Baik kita catat: kata dasar dari fantastis adalah fantasi alias angan-angan. Manthrope berasumsi kuat bahwa kemenangan Jokowi dalam Pilkada Jakarta adalah berkat Prabowo, dan dengan demkian asumsinya dia dapat memberi kekuatan kepada Prabowo dalam Pilpres 2014. Asumsi serupa juga tampak dalam komentar-komentar lain seperti sebuah kolom The Jakarta Globe ini: http://www.thejakartaglobe.com/columns/insight-the-real-winner-in-jakartas-elections/530121. Kenyataannya, di Jakarta orang memilih Jokowi dengan berangkat dari kesan 'charming', kampanye Jokowi yang mendalam dan efektif serta pengaruh media yang menggambarkan Jokowi & A Hok sbg pemimpin dan administrator yang cakap. Lebih daripada semua itu, warga awam Jakarta yang sumpek dengan situasi ibukota cenderung memilih 'Asal Bukan Foke' (meski Foke sesungguhnya berjasa mempersiapkan ibukota menghadapi ancaman banjir di masa depan, tetapi ihwal ini tentu tak sejelas kasat mata). Namun, yang terpenting, Jokowi jelas berangkat dari kekuatan sendiri, meski mendapat dukungan politik dan dana kampanye dari Prabowo. Selain itu, Pilkada Jakarta memberi kesan kesadaran elektorat yang tinggi dan cerdas (meski ini tidak dengan sendirinya bermakna pilihan yang benar.) Pilihan itu mengandung isyarat moderen: misalnya kemenangan Jokowi, tokoh non-Betawi ini, memperlihatkan bahwa putra daerah bukan faktor penting. Tidak satu pun putra Betawi berprestasi menonjol dalam Pilkada tsb. Demikian juga kekalahan Cagub PKS menunjukkan bahwa agama bukan faktor menentukan dalam perilaku politik warga Jakarta. Sikap moderen warga Jakarta juga tampak dari prestasi Cagub Faisal Basri (pilihan saya). Dia unggul terhadap dua pasangan Cagub yang lain. Not bad untuk seorang cendekia yang tidak punya basis sosial/ormas. Semua ini berarti Prabowo sama sekali bukan faktor terpenting, atau pun krusial, bagi kemenangan Jokowi. Implikasinya, maka Jokowi pun tidak dengan sendirinya secara fantastis akan memperkuat peluang dan elektabilitas Prabowo. Apalagi Jokowi berasal dari sebuah partai besar, sedangkan Prabowo dari partai kecil yang dalam Pilpres 2009 saja tak mampu menampilkan dirinya sebagai Capres. Dengan demikian, spekulasi bahwa kemenangan Jokowi menjadi petunjuk bagi kemenangan Prabowo sebagai Capres 2014 adalah fantastis, dus, angan-angan belaka. Apabila ingin mengukur harapan mau pun kekhawatiran orang terhadap peluang Prabowo sebagai Capres 2014, lebih baik kita mendalami sejarah. Semangat figur semacam Prabowo, juga noda HAMnya yang tidak kecil, mempunyai akar sejarah, seperti mudah-mudahan tercermin disini: http://www.insideindonesia.org/weekly-articles-98-oct-dec-2009/gerindra-and-greater-indonesia-29111814 Salam hormat, AS On Wed, Jul 18, 2012 at 1:47 PM, zaenal muttaqin <[email protected]> wrote: Nampaknya kekalahan golkar di pilkada jakarta merupakan signal dari ARB untuk menitipkan suara golkar ke prabowo dalam pilpres 2014.. dalam perspektif saya prabowo akan menjadi presiden 2014 sebagai bagian dari kelanjutan skema junta militer terselubung HKBM jilid III. prabowo menjadi titik penyeimbang dalam menjaga kepentingan AS dan China di Indonesia. Prabowo sendiri nampak sudah memiliki komitmen dgn China melalui Ahok sebagai wakil Jokowi. Tetapi skenario ini bisa berubah apabila Eropa membuka kemungkinan menjegal Prabowo melalui mekanisme pengadilan HAM di Den Haag, sehingga siapa yang akan terpilih masih tetap terbuka. Di sisi lain, belum ada calon presiden yang mampu menjawab beberapa hal berikut: bagaimana tindakan strategis indonesia dalam menyikapi terjadinya resesi ekonomi, yang menurut robert maltus hanya bisa diselesaikan melalui perang, dan kedua bagaimana tindakan strategis dalam menyikapi situasi asean yang terus memanas, karena persoalan laut china selatan menjadi salah satu entry point dalam persiapan pertarungan yang lebih terbuka antara as dan china. selain 2 masalah internasional di atas, indonesia masih terjebak dalam persoalan klasik kemiskinan, kekerasan sipil bersenjata, pelanggaran Ham, dll.. masalah-masalah internal strategis yang tidak bisa diselesaikan hanya melalui produk undang-undang. saya melihat belum ada calon presiden yang memiliki visi dan jalan keluar strategis dalam menyelesaikan persoalan-persoalan di atas. kalau yang menjadi ukuran keberhasilan presiden adalah soekarno yang telah mampu mengangkat nama besar bangsa, maka presiden berikutnya harus mampu tampil sebagai pemimpin besar, tidak hanya bagi bangsanya tapi bagi asia dan internasional. ---------------------------------------------------------------------------- From: Salim Said <[email protected]> To: Group Diskusi Kita <[email protected]>; [email protected]; [email protected]; [email protected]; 'Djoko Suyanto <[email protected]>; A Dahana <[email protected]>; A. Rahman Tolleng <[email protected]>; A.H. Amparita <[email protected]>; Abdillah Toha II <[email protected]>; Abidin Abidin <[email protected]>; Abuprijadi Santoso (Tosi) <[email protected]>; achmad Mubarok <[email protected]>; Achmad Sujudi Dr. <[email protected]>; Agus Abubakar <[email protected]>; Agus Widjojo <[email protected]>; Ahmad W. Pratiknya <[email protected]>; Ahmad Yani Basuki <[email protected]>; Ahmad Zen Umar Purba <[email protected]>; alfan alfian <[email protected]>; Ali Mohamad Sungkar <[email protected]>; amran nasution <[email protected]>; Andi Wijayanto <[email protected]>; ASAHAN <[email protected]>; Asahan Aidit <[email protected]>; Astrid Suryo <[email protected]>; August Parengkuan <[email protected]>; B. J Habibie <[email protected]>; Bahtiar Effendy <[email protected]>; Bambang Harimurty <[email protected]>; Burhanuddin Abdullah <[email protected]>; Burhanuddin Muhtadi <[email protected]>; Chan <[email protected]>; chappy hakim <[email protected]>; Christianto Wibisono <[email protected]>; Daud Sinjal <[email protected]>; Dedy Jamaludin Malik <[email protected]>; Dewi Fortuna Anwar <[email protected]>; Dharmawan Ronodipuro <[email protected]>; "Didik Rachbini, Professor Dr." <[email protected]>; Dinna Wisnu <[email protected]>; Donny Gahral Adian Dr. <[email protected]>; Dr. Joe Sulaiman <[email protected]>; Dr. Saafroedin Bahar <[email protected]>; Dr. Taufik Abdullah <[email protected]>; Dr. Yuddi Chrisnandi <[email protected]>; Endriartono Sutarto <[email protected]>; Erry Ryana Harjapamekas <[email protected]>; Fahmi Idris <[email protected]>; Fahrul Razi Jenderal <[email protected]>; Farid Prawiranegara <[email protected]>; Farouk Muhammad. <[email protected]>; Freddy Tulung <[email protected]>; Ganjar Pranowo <[email protected]>; halim perdanakusuma <[email protected]>; Handojo Priopranoto <[email protected]>; "Hendri Saparini, Dr." <[email protected]>; HS Dillon <[email protected]>; Ibrahim Isa/Holland <[email protected]>; Ichsan Loulembah <[email protected]>; Ikrar Nusa Bhakti <[email protected]>; Indria Samego <[email protected]>; ips/Fadli Zon <[email protected]>; Ir. A.M. Luthfi <[email protected]>; ishaq iskandar <[email protected]>; Jayadi Hanan <[email protected]>; Joseph Daves <[email protected]>; Juwono Sudarsono <[email protected]>; Kiki Syahnakri <[email protected]>; Kusnadi Kardi <[email protected]>; La Ode Muhammad D. <[email protected]>; "Liddle, Bill" <[email protected]>; Makmur Makka <[email protected]>; Mangadang Napitupulu <[email protected]>; Mohamad Sobari <[email protected]>; mohtar Mas'oed <[email protected]>; Mustafa Kamal <[email protected]>; Pro.Dr. Bungaran Saragih <[email protected]>; Prof. Dr. Djoko Rahardjo <[email protected]>; Prof. Hikmahanto Yuwono <[email protected]>; Prof.Dr. Amir Santoso <[email protected]>; Prof.Dr. Ryaas Rasyid. <[email protected]>; Prof.Dr. Sjafii Maarif <[email protected]>; R.M.A.B Kusuma <[email protected]>; "Rachmat Pambudy, Dr. Ir Ms" <[email protected]>; Retno L Marsudi <[email protected]>; Rizal Sukma <[email protected]>; RODON PEDRASON <[email protected]>; Rusadi Kantaprawira <[email protected]>; sabam sirait <[email protected]>; Salahuddin Wahid <[email protected]>; Salim Said <[email protected]>; sayidiman suryohadiprojo <[email protected]>; Sinansari Ecip <[email protected]>; sjafrie sjamsoeddin <[email protected]>; Teddy P. Rachmat <[email protected]>; teddy sunardi <[email protected]>; Usep Setiawan <[email protected]>; Zaenal Muttaqin <[email protected]> Sent: Tuesday, July 17, 2012 7:04 AM Subject: Fwd: Prabowo Sangat menarik untuk kita diskusikan. Silahkan tulis komentar Anda. ---------- Forwarded message ---------- From: Joseph Daves <[email protected]> Date: Tue, Jul 17, 2012 at 1:26 AM Subject: Prabowo To: Salim Said <[email protected]> Former hard man of Indonesias dictatorship on course to be elected president By JONATHAN MANTHORPE, Vancouver Sun July 15, 2012 It is an almost inconceivable political resurrection, but the man widely held responsible for some of the worst human rights abuses of the last years of the Indonesian dictatorship of President Suharto is the front-runner to win the presidency himself. Maj. Gen. Prabowo Subianto, the son-in-law Suharto, has in the 14 years since the collapse of the old regime refashioned himself beyond belief. From the personification of all that was vile and violent in the final decade of the Suharto regime, Prabowo has been reborn as a successful businessman, leader of the Great Indonesian Movement Party (Gerindra), and front-running contender for the presidency in elections due in 2014. That prospect got a boost last week with a win against expectations for the candidate he backed in elections for the mayor of the Indonesian capital, Jakarta. In siding with Joko Jokowi Widodo, Prabowo cast himself as a populist champion of the downtrodden. But for those with sound memories, one of the most significant aspects of the Prabowo endorsement was Jokos running mate, Basuki Tjahaja Ahok Purnama. Ahok is ethnic Chinese and Prabowo has a record of being violently and vehemently anti-Chinese and the communitys perceived grip on the key elements of the Indonesian economy. In the final days of the Suharto regime Prabowo publicly urged Indonesians to join him in confronting traitors to the nation. Then in May 1998, Prabowos troops assembled and organized gangs of thugs who attacked and burned scores of Chinese businesses in Jakarta. About 1,000 people died in the managed riots. Sofyan Wanandi, a leading ethnic Chinese businessman, recounted in an interview with author Adam Schwartz how Prabowo once said to him he was prepared to drive all Chinese out of the country, even if that sets the economy back 20 or 30 years. But now Ahok seems confident enough that Prabowos anti-Chinese feelings are a thing of the past that he has joined the Gerindra party. Polls indicate the other main contender for the presidency will be the leader of the Golkar party and one of Indonesias most successful businessmen, Aburizal Bakrie, who like Prabowo has already declared his candidacy. There is now speculation that current President Susilo Bambang Yudhoyono and his Democratic Party might forge a strategic alliance with Prabowo to keep Bakrie out. Subtlety and nuance are well-known Indonesian cultural characteristics, but given the history, such an alliance pushes the boundaries of political artistry. Prabowo comes from an aristocratic Javanese family with roots in the countrys fight for independence against the Dutch in the 1940s and 1950s. He trained at the countrys military academy in the early 1970s and by the end of that decade was leading commandos suppressing the independence movement in East Timor, the former Portuguese colony illegally occupied by Indonesia. In the early 1990s, Prabowo, by now a major-general commanding special forces called Kopassus, employed the deception tactic of using irregular troops and local militias to attack villages suspected of harbouring separatists. These bloody operations were the subject of many charges of human rights abuses by international organizations, as were operations led by Prabowo against separatists in Papua, the Indonesian western portion of the island of New Guinea. Perhaps to deflect the sustained international heat, in the late 1990s Prabowo was appointed head of the Army Strategic Reserve Command, known as Kostrad and the main garrison of the capital, Jakarta. In May 1998, in the final moments before Suharto resigned and the country moved unsteadily towards democracy, there was a grim standoff in Jakarta. Prabowo moved his 27,000-strong Kostrad troops into position in the capital in what looked like preparation for a coup. But Army Commander Gen. Wiranto, who like many Indonesians uses only one name, is a cool-headed warrior. His troops with heavy armour quietly circled the city over two or three days. Prabowo backed down, was dismissed from the military and went into exile in Jordan where the new monarch, King Abdullah, was a kindred spirit in the exclusive brotherhood of commanders of special forces commandos. When the dust had settled Prabowo returned to Indonesia, set up in business and in the early 2000s entered politics. In 2009 he ran unsuccessfully as the vice-presidential candidate with former president Megawati Sukarnoputri against Yudhoyono. But though the polls look good now, many in Indonesia, including aggrieved officials in his own Gerindra party, remember Prabowos record and doubt if the leopard has changed his spots. [email protected] © Copyright (c) The Vancouver Sun Read more: http://www.vancouversun.com/news/Former+hard+Indonesia+dictatorship+course+elected+president/6938317/story.html#ixzz20oMk07gf [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Gabung di milis INTI-net, kirim email ke : [email protected] Kunjungi situs INTI-net http://groups.yahoo.com/group/inti-net Kunjungi Blog INTI-net http://tionghoanet.blogspot.com/ http://tionghoanets.blogspot.com/ Tulisan ini direlay di beberapa Blog : http://jakartametronews.blogspot.com/ http://jakartapost.blogspot.com http://indonesiaupdates.blogspot.com *Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan* CLICK Here to Claim your Bonus $10 FREE ! http://adv.justbeenpaid.com/?r=kQSQqbUGUh&p=jsstripler5Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/inti-net/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/inti-net/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
