Senin, 23 Juli 2012 | 08:07 WIB
Amnesty: Pembantaian Muslim Rohingya Berlanjut

TEMPO.CO , Yangoon - Ibadah Ramadhan tak bisa dilakukan dengan tenang oleh 
etnis Rohingya yang Muslim di Myanmar. Kekerasan komunal terus berlangsung di 
Myanmar barat, enam minggu setelah pemerintah mengumumkan keadaan darurat. 
Amnesty International mengklaim minoritas Muslim Rohingya dipukuli, diperkosa, 
dan dibunuh.

Kelompok hak asasi ini menuduh baik pasukan keamanan maupun etnis Buddha 
Rakhine melakukan serangan baru terhadap Rohingya, yang dianggap sebagai orang 
asing oleh mayoritas etnis dan disangkal kewarganegaraannya oleh pemerintah 
karena menganggap mereka pemukim ilegal dari negara tetangga Bangladesh.

Setelah serangkaian pembunuhan sejak akhir Mei, pertempuran berdarah menyebar 
dengan cepat di banyak negara bagian Rakhine di pesisir Myanmar.

Pemerintah mengumumkan keadaan darurat pada tanggal 10 Juni, mengirim pasukan 
untuk memadamkan kerusuhan dan melindungi masjid dan biara-biara. Pihak 
berwenang mengatakan sedikitnya 78 orang tewas dan ribuan rumah milik kaum 
Budha dan Muslim dibakar atau hancur.

Sejak itu, kekerasan komunal terus berlanjut, meskipun dengan intensitas 
berkurang. Amnesty mengatakan serangan itu sekarang diarahkan sebagian besar 
pada populasi Rohingya.

"Kekerasan dalam enam minggu terakhir ini menyasar umat Islam umumnya dan 
Rohingya secara khusus menjadi target dan korban," kata Benjamin Zawacki, 
seorang peneliti Amnesty International, mengatakan kepada Associated Press. 
"Kekerasan dilakukan baik oleh aparat maupun etnis Rakhine Buddha, dan pasukan 
keamanan menutup mata dalam beberapa kasus."

Pejabat pemerintah Myanmar tidak bisa segera dihubungi untuk memberikan 
komentar. Amnesty juga mengatakan pasukan keamanan, termasuk polisi dan 
tentara, telah menahan ratusan orang Rohingya.

"Sementara pemulihan ketertiban, keamanan, dan perlindungan hak asasi manusia 
diperlukan, penangkapan tampaknya dilakukan sewenang-wenang dan diskriminatif, 
melanggar hak atas kebebasan dan kebebasan dari diskriminasi atas dasar agama," 
kata Amnesti dalam pernyataannya.

Kekerasan, yang mencapai titik paling berdarah pada bulan Juni, merupakan 
pertumpahan darah sektarian dan menimbulkan kekhawatiran internasional mengenai 
nasib Rohingya di Burma.

Presiden Burma, Thein Sein, mengatakan awal bulan ini solusi untuk permusuhan 
etnis di negara bagian Rakhine adalah dengan mengirim Rohingya ke negara ketiga 
atau Badan Pengungsi PBB, UNHCR, menjaga mereka. Kepala UNHCR, Antonio 
Guterres, mengatakan, bagaimanapun, itu bukan tugas pihaknya untuk memukimkan 
kembali Rohingya.



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke