Bangsa besar itu tidak selalu dihitung dari jumlah penduduknya yang besar atau 
wilayahnya yang luas. Sebagai syarat fisik, Indonesia  memang mempunyai jumlah 
penduduk yang besar, wilayah yang luas jadi dari luar memang tampak besar. Tapi 
untuk disebut bangsa besar atau negara besar, nanti dulu. Bahkan sekarangpun 
tidak bisa dikatakan Indonesia itu bangsa dan negara yang besar. Indonesia 
tidak punya prestasi yang bisa dibanggakan ke tengah arena Internasional, 
perhatiannya terhadap seni budaya hampir-hampir tidak berarti. Di bidang 
pengetahuan saja tidak menonjol, ekonominya kembang kempis, yang mungkin bisa 
dibanggakan paling-paling karna ada sedikit gedung-gedung tinggi dan jembatan 
panjang yang selalu dipreteli besinya untuk dijual ke warung besi tua. Para 
pemimpinnya punya mental korup penghisap darah rakyat dan peramapok harta benda 
rakyat dan negara.
  Bagaimana tidak akan kehabisan orang-orang berbakat  dan berprestasi. Hampir 
semuanya pada lari ke luar negeri  karena di tengah bangsanya sendiri tidak 
dihargai, ditelantarkan dan bahkan cuma dilihat  sebelah mata (contohnya sudah 
bejibun). Ini sama sekali bukan karena tidak setia pada negara dan bangsa atau 
sekedar pemburu hidup senang dan kaya di luar negeri, tapi adalah juga soal 
menyelamatkan kehidupan, menyelamatkan prestasi pribadi dan harga diri  sebagai 
 manusia yang pernah bekerja keras dan berbakat. Mereka yang lari atau hijrah 
ke luar negeri adalah sesuai dengan hak azasi manusia yang bebas menentukan 
nasib sendiri dan menghindari penghinaan dan pengabaian negara. Zlatan 
Ibrahimovich (penyepak bola) saja sudah berapa kali pindah-pindah negara dan 
baru-baru ini diterima di Perancis (Paris) yang katanya sendiri menawarkan diri 
dengan harga murah( puluhan juta euro akan segra masuk kantongnya). Olahragawan 
Indonesia yang punya prestasi Internasional terpaksa meninggalkan Indonesia 
karena memang tidak terjamin hidupnya, tidak dihargai negara, tidak mendapatkan 
perhatian yang selayaknya dan tidak bisa hidup normal dan selalu mungkin 
diancam kelaparan. Cinta tanah air itu punya syarat manusiawi: dihargai dan 
diperhatikan oleh negara. Bila negara sudah tidak memperhatikan dan tidak 
menghargai prestasi tinggi warganya sendiri dan bahkan membiarkannya terlantar, 
cinta tanah air sudah tidak punya harga, sia-sia dan bahkan bunuh diri. 
Patriotisme yang benar adalah pemberontakan terhadap ketidak adilan. Demikian 
pula dengan para olahragawan , atlet dan semua seniman dan budayawan, mereka 
punya hak berontak terhadap ketidak adilan dan pengbaian negara. Bila umpamanya 
Amerika memberikan kesempatan baik dan lebih menjamin kehidupan seorang atlit 
Indonesia mengapa tidak digunakan? Dengan medali emas semua orang akan menerima 
dengan hati lapang bila seorang atlit Indonesia mengibarkan bendera Amerika di 
semua stadion yang manapun di dunia ini yang juga membuat kebanggaan bagi 
bangsa Amerika. Bukankah penguasa Indonesia lebih suka menghargai orang yang 
pandai korupsi daripada warganya yang telah mengharumkan nama Indonesia di 
berbagai bidang seni budaya dan olah raga? Penguasa Indonesia lebih menghargai 
medali kertas yang bertulisan dollar dan euro dari pada medali emas hasil 
prestasi gemilang seorang olahragawan bangsannya sendiri. Jadi tidak ada 
gunanya mencintai Indonesia yang tidak menghargai dirimu dan 
mengabaikanmu.Tidak ada cinta yang bertepuk  sebelah tangan.
  ASAHAN.






  ----- Original Message ----- 
  From: ChanCT 
  To: GELORA_In 
  Sent: Tuesday, July 24, 2012 10:19 AM
  Subject: #sastra-pembebasan# Dulu Mengharumkan Indonesia, Lalu Pindah Warga 
Negara


    
  Dulu Mengharumkan Indonesia, Lalu Pindah Warga Negara
  
http://id.olahraga.yahoo.com/news/olympics--dulu-mengharumkan-indonesia--lalu-pindah-warga-negara.html
 
  Oleh Aditya | Yahoo! Olahraga – Sen, 23 Jul 2012 14:19 WIB

  VISTA - Tony Gunawan tak pernah membayangkan bakal bertanding lagi di 
Olimpiade. Tapi kini, atlet yang sebelumnya berwarga negara Indonesia itu, akan 
mewakili Amerika Serikat di Olimpiade 2012 yang digelar di London, Inggris.

  Dia akan bertanding untuk cabang bulutangkis ganda putra, sekaligus hadir 
sebagai pelatih untuk Rena Wang, tunggal putri Amerika. "Ini sungguh kejutan 
bagi saya," tutur atlet berusia 37 tahun itu, kepada Pasadenanews. "Sudah 12 
tahun lalu (saat dia mempersembahkan medali emas untuk Indonesia di Olimpiade 
Sydney). Saya akan berangkat."

  Tony yang sudah pindah ke Amerika secara permanen sejak 2002 itu, mulanya 
hanya bersekolah. Kemudian melatih, sampai akhirnya ikut menjadi pemain yang 
mewakili negara tersebut. Bersama Tony, ada Halim Haryanto Ho yang awalnya 
sama-sama melatih di Orange County, California, Amerika Serikat. Saat masih 
berpasangan dengan Tony dan membela Tim Merah Putih, atlet kelahiran 1976 ini 
menjadi juara dunia ganda putra (2001) dan juara All England (2001).

  Begitu juga dengan Mia Audina, atlet bulutangkis Indonesia. Semula dia 
diharapkan bisa menjadi pengganti Susi Susanti, atlet bulutangkis andalan 
Indonesia pemegang medali emas Olimpiade Barcelona pada 1992. Apa boleh buat, 
Mia diboyong suaminya ke Belanda. Paspor peraih medali perak pada Olimpiade 
Atlanta 1996 itu pun berubah, dari Indonesia ke Belanda.

  Lalu ada Albertus Susanto Njoto yang memilih menjadi warga negara Hong Kong 
lantaran merasakan ketatnya persaingan di Pelatnas Indonesia. Satu-satunya 
prestasi menonjol saat masih dalam tim Indonesia adalah juara Filipina Terbuka 
2006 untuk ganda putra, berpasangan dengan Yohan Hadikusuma. Setelah itu, dia 
mewakili Hong Kong sebagai negara barunya dalam beberapa kejuaraan 
internasional.

  Menanggapi kepergian para atlet Indonesia untuk menjadi warga negara lain, 
Icuk Sugiarto, juara dunia bulu tangkis pada 1983 dan 1986 menegaskan atlet 
yang mempunyai nasionalisme tinggi tidak akan membela selain negaranya sendiri. 
Kendati pun, belum mendapatkan dukungan atau fasilitas yang memadai dari 
negaranya sendiri.

  “Mia dan Tony pernah menjadi pemain top untuk Indonesia. Saya rasa tidak jadi 
masalah, karena di Indonesia sendiri saat itu Mia sudah tidak terpakai. 
Sedangkan Tony kuliah,” jelas Icuk.

  Pernyataan senada juga diungkapkan jebolan PB Djarum yang mempunyai julukan 
Smash 100 Watt, Hariyanto Arbi. Tapi setahu dia, Tony Gunawan tidak pindah 
warga negara pada saat itu, melainkan sedang melanjutkan studinya di Amerika, 
yang kemudian mendapatkan tawaran bermain di sebuah klub bulu tangkis di sana.

  Sebagai kompensasi dari menerima tawaran itu, katanya, “dengan catatan 
membiayai dan memfasilitasi kebutuhannya.” Hariyanto sendiri setelah pensiun, 
menggeluti bisnis peralatan olahraga bulu tangkis Flypower.

  Kendati demikian, Hariyanto memperingatkan pemerintah agar lebih peduli 
memberi dukungan guna meminimkan hengkangnya bakat-bakat berkualitas Indonesia 
ke negeri lain. “Negara lain memberikan jaminan seumur hidup kepada atletnya. 
Memberikan asuransi ketika sudah tidak menjadi atlet,” ujar Hariyanto.

  Sementara di Indonesia, lanjutnya, jika sudah bukan atlet lagi tidak 
mendapatkan apa-apa. “Di Malaysia tiap bulan para atlet mendapatkan gaji, 
jaminan dan asuransi,” tambahnya.

  Sedangkan Icuk yang kini menjadi staf ahli Menteri Pemuda dan Olah Raga, 
menginginkan agar Indonesia fokus memberikan dukungan kepada atlet maupun 
cabang olah raga di Indonesia. Kata dia, tidak ada alasan untuk tidak 
mengucurkan bantuan.

  Alasannya, anggaran dari negara dalam 10 tahun terakhir, lebih dari cukup. 
Karena itu, dia menyarankan agar pemerintah bersikap adil kepada cabang olah 
raga prestasi seperti bulutangkis, catur, taekwondo dan angkat besi.

  “Sangat tidak adil dan tidak ada kesinambungan jika kami turun peringkat di 
kelas dunia mendapatkan cemoohan, sedangkan cabang olah raga lain yang hanya 
mampu bersaing di tingkat Asia lebih mendapatkan perhatian,” sesal Icuk.

  [Non-text portions of this message have been removed]



  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke