Dulu Mengharumkan Indonesia, Lalu Pindah Warga Negara
http://id.olahraga.yahoo.com/news/olympics--dulu-mengharumkan-indonesia--lalu-pindah-warga-negara.html
 
Oleh Aditya | Yahoo! Olahraga – Sen, 23 Jul 2012 14:19 WIB

VISTA - Tony Gunawan tak pernah membayangkan bakal bertanding lagi di 
Olimpiade. Tapi kini, atlet yang sebelumnya berwarga negara Indonesia itu, akan 
mewakili Amerika Serikat di Olimpiade 2012 yang digelar di London, Inggris.

Dia akan bertanding untuk cabang bulutangkis ganda putra, sekaligus hadir 
sebagai pelatih untuk Rena Wang, tunggal putri Amerika. "Ini sungguh kejutan 
bagi saya," tutur atlet berusia 37 tahun itu, kepada Pasadenanews. "Sudah 12 
tahun lalu (saat dia mempersembahkan medali emas untuk Indonesia di Olimpiade 
Sydney). Saya akan berangkat."

Tony yang sudah pindah ke Amerika secara permanen sejak 2002 itu, mulanya hanya 
bersekolah. Kemudian melatih, sampai akhirnya ikut menjadi pemain yang mewakili 
negara tersebut. Bersama Tony, ada Halim Haryanto Ho yang awalnya sama-sama 
melatih di Orange County, California, Amerika Serikat. Saat masih berpasangan 
dengan Tony dan membela Tim Merah Putih, atlet kelahiran 1976 ini menjadi juara 
dunia ganda putra (2001) dan juara All England (2001).

Begitu juga dengan Mia Audina, atlet bulutangkis Indonesia. Semula dia 
diharapkan bisa menjadi pengganti Susi Susanti, atlet bulutangkis andalan 
Indonesia pemegang medali emas Olimpiade Barcelona pada 1992. Apa boleh buat, 
Mia diboyong suaminya ke Belanda. Paspor peraih medali perak pada Olimpiade 
Atlanta 1996 itu pun berubah, dari Indonesia ke Belanda.

Lalu ada Albertus Susanto Njoto yang memilih menjadi warga negara Hong Kong 
lantaran merasakan ketatnya persaingan di Pelatnas Indonesia. Satu-satunya 
prestasi menonjol saat masih dalam tim Indonesia adalah juara Filipina Terbuka 
2006 untuk ganda putra, berpasangan dengan Yohan Hadikusuma. Setelah itu, dia 
mewakili Hong Kong sebagai negara barunya dalam beberapa kejuaraan 
internasional.

Menanggapi kepergian para atlet Indonesia untuk menjadi warga negara lain, Icuk 
Sugiarto, juara dunia bulu tangkis pada 1983 dan 1986 menegaskan atlet yang 
mempunyai nasionalisme tinggi tidak akan membela selain negaranya sendiri. 
Kendati pun, belum mendapatkan dukungan atau fasilitas yang memadai dari 
negaranya sendiri.

“Mia dan Tony pernah menjadi pemain top untuk Indonesia. Saya rasa tidak jadi 
masalah, karena di Indonesia sendiri saat itu Mia sudah tidak terpakai. 
Sedangkan Tony kuliah,” jelas Icuk.

Pernyataan senada juga diungkapkan jebolan PB Djarum yang mempunyai julukan 
Smash 100 Watt, Hariyanto Arbi. Tapi setahu dia, Tony Gunawan tidak pindah 
warga negara pada saat itu, melainkan sedang melanjutkan studinya di Amerika, 
yang kemudian mendapatkan tawaran bermain di sebuah klub bulu tangkis di sana.

Sebagai kompensasi dari menerima tawaran itu, katanya, “dengan catatan 
membiayai dan memfasilitasi kebutuhannya.” Hariyanto sendiri setelah pensiun, 
menggeluti bisnis peralatan olahraga bulu tangkis Flypower.

Kendati demikian, Hariyanto memperingatkan pemerintah agar lebih peduli memberi 
dukungan guna meminimkan hengkangnya bakat-bakat berkualitas Indonesia ke 
negeri lain. “Negara lain memberikan jaminan seumur hidup kepada atletnya. 
Memberikan asuransi ketika sudah tidak menjadi atlet,” ujar Hariyanto.

Sementara di Indonesia, lanjutnya, jika sudah bukan atlet lagi tidak 
mendapatkan apa-apa. “Di Malaysia tiap bulan para atlet mendapatkan gaji, 
jaminan dan asuransi,” tambahnya.

Sedangkan Icuk yang kini menjadi staf ahli Menteri Pemuda dan Olah Raga, 
menginginkan agar Indonesia fokus memberikan dukungan kepada atlet maupun 
cabang olah raga di Indonesia. Kata dia, tidak ada alasan untuk tidak 
mengucurkan bantuan.

Alasannya, anggaran dari negara dalam 10 tahun terakhir, lebih dari cukup. 
Karena itu, dia menyarankan agar pemerintah bersikap adil kepada cabang olah 
raga prestasi seperti bulutangkis, catur, taekwondo dan angkat besi.

“Sangat tidak adil dan tidak ada kesinambungan jika kami turun peringkat di 
kelas dunia mendapatkan cemoohan, sedangkan cabang olah raga lain yang hanya 
mampu bersaing di tingkat Asia lebih mendapatkan perhatian,” sesal Icuk.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke