Pembuat Tahu di Tasik Ikut Mogok Produksi
Kamis, 26 Juli 2012 | 06:59 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Sebagai bentuk solidaritas, ribuan pembuat tahu di 
Cibuntu, Bandung, ikut mogok produksi mulai Rabu (25/7/2012) hingga Jumat 
(27/7/2012).

Hal serupa dilakukan puluhan pembuat tahu di sentra pabrik tahu Kampung Nagrog, 
Kelurahan/Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya.

"Biasanya sejak pukul 07.30 sudah ramai. Tapi sekarang kami mogok memprotes 
naiknya harga kacang kedelai," ujar Taufik Hidayat (40), salah seorang pembuat 
tahu, Rabu (25/7/2012).

Selama libur, pembuat tahu tidak bekerja apa-apa. Para karyawan yang biasa 
membuat tahu ada yang benar-benar menganggur, ada pula yang mencari pekerjaan 
sementara selama mogok tiga hari.

"Mau gimana lagi, ya? Sudah terikat dengan membuat tahu. Nyari pekerjaan lain 
lagi juga bingung," kata pembuat tahu Cibuntu, H Omon (58).

Dia mengatakan, sehari biasa memproduksi tiga kuintal kedelai untuk tahu. 
Pembuatan dilakukan di rumah produksi milik bandar kedelai, yang disewa H Omon 
Rp 6.000 sekali produksi.

Tahu yang sudah jadi kemudian dijual secara eceran oleh para penjual dengan 
cara berkeliling dari kampung ke kampung. Biasanya, penjual tahu menggunakan 
sepeda motor ketika berjualan.

Perajin lain di Cibuntu, Beben (50), mengaku tidak tahu akan libur sampai 
kapan. Dia khawatir juga jika mogok terlalu lama bisa mengganggu roda ekonomi 
keluarganya.

"Mudah-mudahan dengan aksi mogok begini, pemerintah peka. Pemerintah mengambil 
tindakan sehingga harga kedelai bisa terkendali," katanya.

Andi (50), juga pembuat tahu Cibuntu, mengaku, dirinya bukan mau menyusahkan 
masyarakat dengan mogok produksi tahu. Aksi mogok, kata dia, lebih karena kesal 
terhadap pemerintah yang tidak bisa mengendalikan harga kedelai. 

Sumber :
Tribunnews.com

Nasib Tempe di Negeri Sendiri
Oleh Srihandriatmo Malau - 26 Juli 2012

TRIBUNNEWS,COM-JAKARTA—Sejak kemarin, Rabu (25/7/2012), tempe dan tahu, makanan 
tradisional Indonesia di wilayah Jabodetabek menghilang dari pasaran.

Rencananya, hingga tiga hari kedepan makanan yang hampir semua orang Indonesia 
mengenalnya ini akan tidak menjumpai di pasar-pasar.

Koperasi Perajin Tempe tahu Indonesia (KOPTTI) Jabodetabek serempak melakukan 
aksi mogok produksi mulai hari ini hingga 27 Juli mendatang.

Aksi ini diambil untuk menuntut keseriusan pemerintah menanggulangi gejolak 
harga bahan baku tempe, yakni kedelai yang meroket dari harga Rp 5.500 menjadi 
Rp 8.200 per kilogram kini.

Pangan lokal yang hak patennya dimiliki negara luar ini, ternyata sumber bahan 
bakunya, mayoritas berasal dari luar negeri. Bukan dipenuhi dari dalam negeri. 
Tidak lebih dari lebih dari 60 persen bahan bakunya, diimpor dari negera lain, 
termasuk Amerika dan Cina.

"Indonesia 60 persen dari kebutuhan kedelai dari luar negeri,” ungkap Wakil 
Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi saat di Kantor Kementerian Perdagangan, 
Jakarta, Rabu (25/7/2012).

Bayu menjelaskan, Indonesia baru bisa menghasilkan 800.000 ton produksi kedelai 
dalam negeri. Itu berarti sekitar 1,2 juta ton kedelai masih diimpor.

Tingginya permintaan produk turunan kedelai ternyata tidak bisa dipenuhi oleh 
produksi dalam negeri. Setiap tahun tidak kurang dari 2,4 juta ton kedelai di 
konsumsi masyarakat. Akibatnya, serbuan kedelai impor semakin deras membanjiri 
Indonesia.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, tahun ini Indonesia banyak 
impor kedelai dari lima negara. Pertama dari China sebanyak 281,8 ton kedelai 
dengan nilai US$ 279 ribu.

Kemudian, kedelai asal negara di Eropa Timur, Ukraina mencapai 738 ton dengan 
nilai US$ 370 ribu.Selanjutnya impor kedelai dari Kanada sebanyak 1.500 ton 
dengan nilai US$ 887,4 ribu. Dari Malayasia sebanyak 26 ribu ton kedelai dengan 
nilai US$ 20,8 juta. Serta dari Amerika Serikat sebanyak 721,1 ribu ton kedelai 
dengan nilai US$ 401,6 juta.

Bercermin pada janji pemerintah pada tahun 2008 lalu, ditargetkan 2014 
Indonesia akan swasembada kedelai. Namun, atas target tersebut banyak pihak 
menilai hal itu tidak realistis dan sulit tercapai.

“Swasembada kedelai 2014. Tapi kita lihat tahun demi tahun tidak ada 
peningkatan produksi kedelai lolal. Pemerintah tidak memberikan instrumen dan 
insentif buat petani. Kalau melepas demikian saja kepada petani tanpa 
memberikan insentif, petani tidak bisa melakukan itu,” ungkap Ketua Koperasi 
Perajin Tempe tahu Indonesia (KOPTI) Jakarta SelatanSutaryo kepada Tribun, 
Jakarta, Selasa (24/7/2012).

Dirinya mempertanyakan, terkait aplikasi nyata dari janji swasembada kedelai 
yang pernah disampaikan pemerintah tersebut. Dalam rencana kerja Kementerian 
Pertanian (Kementan), untuk mencapai swasembada kedelai pada 2014, maka 
produksi harus mencapai 2,7 juta ton.

Namun, upaya swasembada ini masih terkendala masalah lahan. Saat ini Kementan 
sedang mengupayakan menambah lahan yang diinventarisasi oleh Badan Pertanahan 
Nasional.

Kementerian Pertanian dan BPN sepakat untuk meretribusi lahan untuk kebutuhan 
pertanian.Dalam satu bulan ke depan, Kementan bersama BPN akan mengkaji lahan 
mana yang bisa didistribusikan kepada petani.

Jika tak kunjung terealisasi, maka akan diterapkan pola inti-plasma. Menteri 
Pertanian, Suswono juga punya rencana lain. Untuk menggenjot produksi kedelai, 
maka akan dilakukan dengan sistem tumpang sari. Potensi penanaman sistem 
tumpang sari ini bisa setara perluasan lahan 200 ribu hektare.

Musim kemarau di anggap cocok untuk mulai menanam kedelai. Agar tidak 
bergantung pada penambahan lahan, Kementan akan mengupayakan peningkatan 
produktivitas dari 1,3 ton per hektare menjadi 1,54 ton per hektare.

Lalu pemberian bantuan benih unggul, meningkatkan penggunaan pupuk, dan 
pengendalian organisme pengganggu tanaman. "Dalam dua tahun masih memungkinkan 
untuk swasembada," katanya.



Warga Resah, Harga Tempe Sepadan Sepotong Ayam
Penulis : Ali Sobri | Rabu, 25 Juli 2012 | 12:10 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Langkanya penjualan tempe-tahu di pasar hari ini, 
menyebabkan sebagian warga resah. Pasalnya, selain tidak dapat mengonsumsinya 
dalam tiga hari ke depan, harga tempe juga melonjak tinggi di pasaran.

"Saya mencari-cari tempe buat stok di rumah, di Pasar Slipi sudah nggak ada. 
Katanya ada yang jual di Pasar Palmerah, tapi harganya bisa sama kayak daging 
ayam," kata Nuraini (46) saat ditemui Kompas.com di Pasar Slipi Jaya, Jakarta 
Barat, Rabu (25/7/2012).

Nuraini mengatakan, harga satu potong tempe ukuran 11 x 18 cm bisa mencapai Rp 
8.000. Harga tersebut serupa dengan harga sepotong daging ayam, yaitu potongan 
satu ekor ayam yang dibagi menjadi empat bagian.

"Kalau butuh, mau nggak mau sih beli, tapi dua hari ke depan saya nggak beli 
dulu. Nunggu sampai turun harga," katanya.

Diberitakan sebelumnya, kelangkaan tempe mulai terasa sejak Selasa (24/7/2012) 
kemarin malam. Di Pasar Ciracas, Jakarta Timur anggota Gakoptindo menggelar 
sweeping penjualan tempe untuk memastikan tidak ada lagi pedagang yang 
berjualan tempe di pasar tersebut.

Begitu juga yang terjadi di Pasar Slipi Jaya, Jakarta Barat, tempe menjadi 
barang makanan yang susah ditemukan warga. Pasar Semanan, Kalideres pun 
demikian, pedagang tempe sudah total menghentikan pasokan tempenya di pasar 
tersebut.

Penghentian pasokan tempe/tahu juga tidak hanya terjadi di pasar sekitar 
Jakarta, tetapi juga Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Banten. Efeknya, 
tempe menjadi barang makanan paling langka hari ini, Rabu (25/7/2012). 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke