http://www.suarapembaruan.com/home/kasus-hivaids-di-aceh-meningkat/22705

Kasus HIV/AIDS di Aceh Meningkat
Kamis, 26 Juli 2012 | 4:46

Ilustrasi penderita HIV/AIDS (Google)[BANDA ACEH]Kedengarannya agak ironis Aceh 
sebagai daerah yang melaksanakan syariat Islam, masih terjadi peningkatan 
penularan kasus HIV/AIDS dari tahun ketahun, sedangkan untuk Indonesia sudah 
memasuki tahap serius, kalau kondisi ini tidak diantisipasi cepat bisa 
berdampak buruk pada generasi mendatang.

Hal itu disampaikan Menteri Kesehatan RI Nafsiah Mboi kepada wartawan usai 
membuka rapat kerja kesehatan daerah Aceh di Hotel Hermes Palace Banda Aceh, 
Rabu (25/7) kemarin. Hadir dalam acar tersebut gubernur Aceh Zaini Abdullah, 
Wakil Ketua DPR Aceh Amir Helmi dan para kepala dinas tingkat 1 Aceh.

Menurut Menkes terjadi peningkatan kasus HIV/AIDS di Aceh bisa di lihat dari 
kasus tahun 2011 sebanyak 112 kasus HIV.AID dan tahun 2010 hanya tercatat 71 
kasus dan tahun 2009 terdapat 49 kasus, maka kalau dibandingkan dari tahun ke 
tahun akan ada peningkatan kasus.

Peningkatan kasus HIV/AIDS, sebutnya, lebih disebabkan oleh perilaku seks bebas 
di tengah masyarakat, sedangkan kesadaran menggunakan kondom masih rendah. 
Penularan HIV saat ini kebanyakan disebabkan perilaku seks berisiko, sementara 
penggunaan narkoba suntik dan heroin dinilai mulai menurun dengan adanya 
program-program layanan alat suntik steril dan terapi metadon. 

“Kalau sudah seks berisiko, tidak ada jalan lain kecuali penggunaan kondom,” 
katanya.

Namun, penggunaan alat kontrasepsi kondom, kata Menkes, hingga saat ini masih 
ditentang sejumlah pihak, karena dianggap melegalkan seks bebas. Ia 
menambahkan, saat ini kasus HIV AIDS masih sulit dicegah karena prilaku seks 
beresiko yang masih terus terjadi di kalangan masyarakat. 

Di samping itu, pemerintah juga masih dihadapkan pada tantangan dalam 
menyosialisasikan penggunaan kondom di kalangan masyarakat. Banyaknya kasus 
HIV/AIDS, menjadi tantangan tersulit yang dihadapi Indonesia dalam mencapai 
millenium development goals (MDGs) 2012. 

Selain HIV/AIDS, tantangan lainnya yaitu penularan virus tuberculosis, demam 
berdarah degue, dan malaria serta angka kematian ibu melahirkan juga masih 
terbilang tinggi, terutama di daerah terpencil dan kepulauan.(147)



http://www.shnews.co/detile-5354-uny-manfaatkan-jeruk-nipis-tingkatkan-kualitas-raskin.html

UNY Manfaatkan Jeruk Nipis Tingkatkan Kualitas Raskin 
Kamis, 26 Juli 2012 - 09:00:44 WIB



(Foto:dok/ist)Jeruk nipis mampu membersihkan beras secara alami.YOGYAKARTA - 
Tim Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta 
memanfaatkan jeruk nipis (citrus aurantifolia) untuk meningkatkan kualitas 
beras bagi masyarakat miskin.

"Jeruk nipis adalah bahan pembersih yang alami, sehingga dapat digunakan pada 
bahan makanan. Salah satu kandungan yang ada dalam jeruk nipis sebagai 
pembersih adalah asam sitrat," kata Koordinator Tim Program Kreativitas 
Mahasiswa Penelitian (PKMP) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Novi Astari di 
Yogyakarta, Kamis (26/7).

Menurut dia, asam sitrat telah lama dikenal sebagai bahan kimia untuk membuat 
manisan. Kandungan asam sitrat berfungsi mencegah pertumbuhan bakteri dan 
jamur, sehingga mampu mengawetkan makanan.

"Pada prinsipnya asam bersifat sebagai pelarut, sehingga mampu digunakan 
sebagai pembersih. Dalam hal ini mampu mengubah kondisi awal beras yang dimasak 
(bersifat alkali) menjadi bersifat asam lemak," katanya.

Ia mengatakan proses pembuatannya adalah jeruk nipis dibersihkan, dipotong, 
diperas, dan ditambahkan gula. Campuran ekstrak jeruk dapat ditambah dengan 
sari pandan atau sari daun suji.

Ekstrak jeruk nipis tersebut, kata dia, kemudian dimasak dalam suhu tinggi 
sampai mengental dan keras. Selanjutnya diangkat, dan ditiriskan sampai suhu 
turun.

"Setelah suhu turun, kemudian dihaluskan menjadi serpihan dan bubuk siap pakai 
untuk meningkatkan kualitas beras bagi masyarakat miskin (raskin)," katanya.

Menurut dia, masyarakat kategori miskin biasanya mengonsumsi raskin. Fakta 
menunjukkan bahwa raskin kadang-kadang belum layak untuk dikonsumsi karena 
kualitasnya masih di bawah standar.

"Dari segi warna, raskin biasanya berwarna kuning, teksturnya tidak bagus dan 
pecah-pecah, rasanya kurang enak dan tidak pulen, bahkan beraroma apek," 
katanya.

Berdasarkan fakta tersebut, kata dia, Tim PKMP UNY berupaya mencari alternatif 
untuk meningkatkan kualitas beras, khususnya raskin dengan memanfaatkan jeruk 
nipis.

"Kami memanfaatkan asam sitrat dalam jeruk nipis sebagai alternatif 
meningkatkan kualitas raskin," kata mahasiswa Program Studi Fisika Fakultas 
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UNY itu.

Anggota Tim PKMP UNY adalah Inge Septia Cahyadi, Ikhlasul Amal, Hesty 
Parbuntaridari, dan Noviana Kusumawati Ningrum.
(Ant)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke