Kasus 27 Juli Terhenti di Pengadilan Militer
Penulis : Imanuel More | Jumat, 27 Juli 2012 | 22:41 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pihak PDI-P tidak pernah mendiamkan penyelesaian kasus 27 
Juli. Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri menegaskan, pihaknya hingga 
kini masih terus mendesak penyelesaian kasus penyerangan kantor DPP PDI 16 
tahun lalu itu.

"Upaya hukum untuk kasus 27 Juli belum pernah ditutup. Kata siapa kami menutup. 
Sampai sekarang kami masih terus memperjuangkan penyelesaiannya," tegas 
Megawati seusai acara Buka Puasa Bersama di Kantor DPP PDI-P, Lenteng Agung, 
Jakarta Selatan, Jumat (27/7/2012).

Mega mengungkapkan, dari pihaknya, proses hukum masih terus berjalan hingga 
kini. Yang terjadi sejak beberapa tahun lalu adalah terhentinya proses di 
pengadilan militer.

Selain itu, pengadilan koneksitas pun belum membuahkan hasil yang memuaskan. 
"Pengadilan sipilnya sudah jalan. Pengadilan militernya yang enggak jalan," 
kata Mega.

Ia menerangkan, peristiwa berdarah yang berawal dari perebutan kantor antara 
dua kubu PDI itu sebenarnya terus menjadi perhatian pihaknya.

Karena itu, desakan kepada pihak militer untuk mengajukan para petinggi yang 
terlibat terus disuarakan pihaknya. "Jadi enggak benar kalau kami bungkam. 
Orang terus didesak, tapi enggak jalan kok," kata Mega.

Pada kesempatan yang sama, Ketum PDI-P itu juga menyinggung lima lembaga yang 
disebutkan Presiden SBY rentan korupsi. Menurut Mega, Presiden tidak perlu 
hanya sekadar berbicara atau mengindikasikan.

Yang terpenting adalah bagaimana melakukan tindakan untuk mengantisipasi 
kerawanan tersebut. "Kalau sudah ada yang bicara, berarti harus ada yang jawab. 
Ya saya bilang, laksanakan. Itu saja, laksanakan," kata Mega. 

Editor :
Benny N Joewono


Polisi Tidak Belajar dari Bentrokan Masa Lalu
Penulis : Sandro Gatra | Senin, 30 Juli 2012 | 07:37 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Orientasi kerja Kepolisian dalam menyelesaikan konfik 
agraria dipertanyakan. Kepolisian dinilai tidak belajar dari berbagai bentrokan 
masa lalu berlatarbelakang konflik agraria sehingga kesalahan yang sama terus 
berulang.

Penilaian itu disampaikan Ketua Kelompok Fraksi Partai Keadilan Sejahtera di 
Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Aboe Bakar Al Habsy melalui pesan singkat, 
Senin (30/7/2012), menyikapi bentrok antara warga dan polisi di Desa Limbang 
Jaya I dan II, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

"Bukankah bentok seperti itu juga pernah terjadi di Sape, NTB? Kenapa tidak 
belajar dari semua itu? Kenapa mesti harus ada korban lagi?" kata Aboe Bakar.

Aboe Bakar mempertanyakan urgensi penempatan pasukan Brimob di perkebunan itu. 
Pasalnya, kata dia, tugas pokok Brimob adalah menanggulangi gangguan keamanan 
tingkat tinggi seperti kejahatan bersenjata api yang terorganisir, terorisme, 
dan kejahatan dengan senjata biologi.

"Apa urusannya mereka mengamankan lahan perkebunan? Bukankah Komnas HAM juga 
sudah merekomendasikan penarikan pasukan Brimob dari wilayah yang kerap terjadi 
konflik agraria?" kata Aboe Bakar.

Aboe Bakar menambahkan, dalam rapat kerja terakhir antara Komisi III dengan 
Kepala Polri Jenderal (Pol) Timur Pradopo, disepakati bahwa Polri harus 
mengutamakan langkah persuasif, bukan mengumbar tembakan. Menurutnya, perlu ada 
audit kinerja Brimob di Sumsel.

Wakil Ketua DPR Bidang Politik dan Keamanan Priyo Budi Santoso meminta 
Kepolisian bekerja dengan profesional. Jangan ada penembakan dengan peluru 
tajam yang menyebabkan korban jiwa.

Priyo sadar bahwa pernyataannya itu sudah berkali-kali disampaikan terkait 
berbagai bentrokan polisi dengan warga sebelumnya. "Itu peristiwa di lapangan 
yang terjadi. Saya hanya minta protapnya dilaksanakan benar-benar," kata Priyo.

Seperti diberitakan, Angga Bin Dharmawan (12) tewas tertembak saat bentrokan di 
Sumsel pekan lalu. Empat warga lainnya luka terkena tembakan dalam konflik 
berlatar belakang konflik lahan PT Perkebunan Nusantara VII Cinta Manis.

Saat itu, iring-iringan kendaraan Brimob berisi sekitar 100 personel memasuki 
Desa Tanjung Pinang I dan II serta Limbang Jaya I dan II. Mereka membawa 
senjata laras panjang. Saat memasuki jalan antara Desa Limbang Jaya I dan II, 
warga dari empat desa melempari iring- iringan mobil dengan batu. Polisi 
langsung membalas dengan tembakan membabi-buta.

Sejak bentrokan di lahan PTPN VII Cinta Manis, polisi telah dua kali memasuki 
desa itu. Warga merasa terintimidasi oleh kehadiran polisi bersenjata yang 
memasuki desa. Sikap Kepolisian itu menimbulkan antipati warga yang memicu 
penyerangan terhadap iring-iringan kendaraan Brimob. 

Editor :
Kistyarini

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke