Isu SARA, Indikasi Lemahnya Kreativitas Berpolitik 
Penulis : Joe Leribun | Rabu, 1 Agustus 2012 | 04:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Merebaknya isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) 
menjelang Pilkada DKI putaran dua, menurut Ketua Koordinasi Nasional Gerakan 
Peduli Pluralisme Damien Dematra, mengindikasikan lemahnya kreativitas dalam 
berpolitik.

"Isu SARA memang komoditas yang murah, sensitif, dan mudah disebarkan dalam 
sebuah masyarakat plural seperti di Jakarta. Namun, kampanye hitam dengan 
menebarkan hal-hal yang berbau SARA menunjukkan hilangnya kreativitas dalam 
berpolitik. Masih banyak cara lain untuk berkampanye, misalnya lewat pemaparan 
program, beradu visi, dan mengedepankan solusi. Bukan malah menyebarkan isu-isu 
SARA," ungkapnya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (31/7/2012).

Damien juga menegaskan, terbuka kemungkinan isu SARA menjelang pilkada putaran 
kedua ini disebarkan oleh pihak ketiga, bukan dari kedua kubu calon gubernur. 
Sebab, isu SARA dapat bersifat kontraproduktif, belum tentu menguntungkan pihak 
yang menyebarkan isu tersebut.

"Bisa saja ada pihak ketiga yang sedang mancing di air keruh. Sebab, bagi kedua 
cagub, isu ini kontraproduktif. Dalam hal ini berlaku psikologi terbalik, 
semakin isu ini dimainkan, korban bisa saja beruntung," terangnya.

Akan tetapi, Damien yakin isu SARA tidak akan berdampak signifikan. Pasalnya, 
warga Jakarta merupakan warga dengan tingkat rasionalitas yang tinggi. Damien 
memprediksi rakyat Jakarta sudah menentukan sikap mengenai siapa pasangan calon 
pilihan mereka dalam putaran kedua nanti. Ketetapan pilihan itu tak akan dengan 
mudah dipengaruhi oleh sentimen-sentimen SARA. 

Editor :
Asep Candra

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke