Subject: [inti-net] Isu SARA, Indikasi Lemahnya Kreativitas Berpolitik.....

==========================================================
NOTE: Cenderung " LEMAHNYA IQ dan LEVEL PENDIDIKAN " sementara Group
Masyarakat dan Individu2 yang bersangkutan.....
                ( un sufficiently educated people --- ) dan  dengan
sendirinya akibatnya adalah LEMAHNYA KREATIVITAS DALAM " BERPIKIR" ...
                Lalu ...... Bagimana bisa Kreative berpolitik ....?
kendatipun misalnya  yang bersangkutan adalah seorang "USTAD" yang dasar 
                Pemikirannya tersimpul  dan tekekang hanya pada ayat2 Al
Q´uran dan atau disisi lainnya SEORANG " RAJA " ......DANG -  DUUUTTT 
                ( alias Raja Kendang dan Mbaduuuttt .... )
                      


          
                 

                  Voilà Monsieur Ustad , Je suis désolé  - que ne parle pas
Arabique , mais  ...Contra factum non datur argumentum ( Against THE TRUTH 
- No Argument is needed ) 

                   marc.-
 -------Original Message-------
 
From: GELORA45
Date: 4.8.2012 23:32:21
To: GELORA_In
Subject: [inti-net] Isu SARA, Indikasi Lemahnya Kreativitas Berpolitik
 
  
Isu SARA, Indikasi Lemahnya Kreativitas Berpolitik 
Penulis : Joe Leribun | Rabu, 1 Agustus 2012 | 04:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Merebaknya isu suku, agama, ras, dan antargolongan
(SARA) menjelang Pilkada DKI putaran dua, menurut Ketua Koordinasi Nasional
Gerakan Peduli Pluralisme Damien Dematra, mengindikasikan lemahnya
kreativitas dalam berpolitik.

"Isu SARA memang komoditas yang murah, sensitif, dan mudah disebarkan dalam
sebuah masyarakat plural seperti di Jakarta. Namun, kampanye hitam dengan
menebarkan hal-hal yang berbau SARA menunjukkan hilangnya kreativitas dalam
berpolitik. Masih banyak cara lain untuk berkampanye, misalnya lewat
pemaparan program, beradu visi, dan mengedepankan solusi. Bukan malah
menyebarkan isu-isu SARA," ungkapnya saat dihubungi Kompas.com, Selasa
(31/7/2012).

Damien juga menegaskan, terbuka kemungkinan isu SARA menjelang pilkada
putaran kedua ini disebarkan oleh pihak ketiga, bukan dari kedua kubu calon
gubernur. Sebab, isu SARA dapat bersifat kontraproduktif, belum tentu
menguntungkan pihak yang menyebarkan isu tersebut.

"Bisa saja ada pihak ketiga yang sedang mancing di air keruh. Sebab, bagi
kedua cagub, isu ini kontraproduktif. Dalam hal ini berlaku psikologi
terbalik, semakin isu ini dimainkan, korban bisa saja beruntung," terangnya.

Akan tetapi, Damien yakin isu SARA tidak akan berdampak signifikan. Pasalnya
 warga Jakarta merupakan warga dengan tingkat rasionalitas yang tinggi.
Damien memprediksi rakyat Jakarta sudah menentukan sikap mengenai siapa
pasangan calon pilihan mereka dalam putaran kedua nanti. Ketetapan pilihan
itu tak akan dengan mudah dipengaruhi oleh sentimen-sentimen SARA. 

Editor :
Asep Candra

[Non-text portions of this message have been removed]



 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke