Kisah Para Pembantu Infal
http://www.gatra.com/nasional/
Friday, 17 August 2012 08:06 

Lebaran tidak hanya menjadi eforia pulang kampung. Tapi juga membuka kesempatan 
bagi sebagian orang untuk mengais rejeki ke kota metropolitan. Mereka justru 
sengaja datang dari kampung ke kota di saat sebagian besar warga kota mudik ke 
kampung. Beberapa orang itu memilih untuk mendapatkan pemasukan lebih, sebagai 
pembantu rumah musiman (infal).

Sebut saja Ati, perempuan asal Lampung yang sehari-hari menjadi pekerja kebun. 
Menjelang lebaran kali ini, Ia memilih untuk pergi ke Jakarta untuk menjadi 
pembantu rumah tangga infal karena ingin mendapat pemasukan lebih.

"Saya memilih kerja begini (pembantu infal) karena pendapatannya lebih tinggi, 
lumayan untuk kebutuhan keluarga di kampung," kata wanita umur 30 tahun itu.

Ati, yang sudah tiga kali bekerja sebagai pembantu infal itu bisa mengantongi 
pendapatan lebih dari Rp 1 juta untuk dibawa pulang usai Lebaran. 
"Alhamdulillah bisa buat anak-anak saya sekolah dan bantu suami yang bertani," 
ujarnya.

Sementara Sumarsih, perempuan berusia 35 tahun asal Sragen, Jawa Tengah, rela 
meninggalkan keluarga saat Lebaran untuk menjadi pembantu infal karena ingin 
mendapatkan pemasukan lebih. "Saya memang lagi butuh uang untuk keluarga di 
rumah," ujarnya saat ditemui di Yayasan Ibu Hadi, Depok.

Asih, demikian ia akrab disapa, mengaku baru kali ini menjajal sebagai pembantu 
infal. Ia diajak temannya yang sudah berkali-kali menjadi asisten Rumah Tangga 
musiman ini. Ditanya mengenai anaknya yang baru berusia 4 tahun, Asih tidak 
merasa khawatir meninggalkannya di kampung, karena sudah menitipkan kepada 
suami dan orangtuanya. "Kerja ginian kan nggak lama. Cuma dua minggu kok mas," 
katanya.

Gaji yang ditawarkan bagi pembantu infal memang cukup besar, dengan waktu kerja 
yang singkat, tidak sampai satu bulan. Jika di hari biasa mereka mendapat Rp 25 
ribu-Rp 30 ribu sehari, saat Lebaran, pemasukan mereka naik hingga tiga kali 
lipat, yaitu antara Rp 80 ribu-Rp 100 ribu per hari.

Dani, pemilik Yayasan Dwi Asih mengaku, pada musim lebaran kali ini, pihaknya 
masih kekurangan pembantu infal untuk pelanggan di Jakarta. Sebab, kebanyakan 
pembantu infal yang berasal dari Lampung, kali ini memang memilih untuk menjadi 
buruh kebun. Ini karena Lampung sedang musim panen lada dan merica.

"Tidak heran, kalau tahun ini mengalami penurunan tenaga, karena di daerah asal 
mereka banyak yang memilih jadi buruh kebun," kata Dani.

Permintaan pembantu infal atau pembantu rumah tangga (PRT) musiman pada lebaran 
tahun ini masih membludak. Namun, penyedia jasa ini mengaku mulai kekurangan 
tenaga kerja. "Memang untuk tahun ini terjadi peningkatan permintaan tenaga 
pembantu rumah tangga, hampir di atas 50%. Hanya sayangnya, tenaga kerja yang 
dibutuhkan kurang," kata Dani.

Untuk mengantisipasi tingginya permintaan, Yayasan Dwi Asih pun terpaksa 
bekerja sama mencari suplai tenaga kerja dari yayasan lain. "Kalau di sini 
tidak ada (pembantu infal) dan masih ada majikan yang membutuhkan jasa PRT, ya 
kita upayakan dengan tempat (yayasan) lain untuk mensuplai tenaga kerja," 
ujarnya.

Ruminah, pemilik Yayasan Cendana Raya di Cipete, Jakarta Selatan, juga 
mengeluhkan sulitnya mendapatkan tenaga PRT infal. Menurutnya, untuk Lebaran 
kali ini, ketersediaan pembantu infalnya berkurang. "Mereka memilih untuk 
mudik," ujarnya.

Padahal, ia menargetkan tahun ini bisa menyalurkan lebih dari 600 pembantu 
infal. Untuk tahun ini kita menargetkan lebih dari 600 orang. Tapi rasanya hal 
itu agak sulit karena kebanyakan tenaga pembantu infalnya juga memilih untuk 
mudik dibandingkan bekerja saat Lebaran," ujarnya.

Adapun asisten rumah tangga infal Ruminah kebanyakan berasal dari daerah-daerah 
yang dekat dengan Jakarta. "Tenaga pembantu infal saya kebanyakan berasal dari 
daerah Bandung dan Pandeglang. Jarang dari yang Jawa Timur atau Jawa Tengah," 
katanya.

Ketua Asosiasi Pelatihan dan Penempatan Pekerja Rumah Tangga Seluruh Indonesia 
(APPSI), Farikin mengatakan, sebenarnya jumlah pembantu infal dan permintaan, 
saat ini relatif stabil. Meski Ia mengakui, ada kebutuhan di daerah asal atau 
keperluan pribadi para tenaga kerja tersebut. Menurutnya, pembantu rumah tangga 
musiman ini terkesan berkurang karena penyebaran penyalur atau yayasan pembantu 
rumah tangga di kawasan Jakarta.

"Dulu, sekitar empat tahun lalu, tempat penyalur pembantu rumah tangga itu 
terpusat di Selatan Jakarta saja. Kini, seiring orang mengerti akan peluang 
tenaga musiman, penyalur-penyalur itu mulai menyebar ke pusat, utara dan barat 
Jakarta," katanya Farikin, yang juga memimpin Lembaga Jasa Penyalur pembantu 
rumah tangga Jasa Gria di Jatipadang, Jaksel.

Tentu kalau dilihat dari penyebaran ini, jumlah tenaga dan permintaan atau 
kebutuhan itu stabil, karena orang-orang yang membutuhkan jasa PRT musiman 
tersebut bisa menjumpai tidak hanya di Jakarta Selatan.

"Tenaga dan kebutuhan permintaan bisa dikatakan stabil, apalagi seiring dari 
menyebarnya orang kelas menengah ke atas ke pusat kota dan pengangguran yang 
ingin mencari kerja," jelas Farikin. Siklus seperti ini menurutnya akan terjadi 
setiap tahun di musim lebaran sesuai hukum permintaan. (HP)



Indahnya Kebersamaan di Puncak Mudik Lebaran

Thursday, 16 August 2012 12:04 

Jalan tol dari jakarta ke arah Cikampek pada Kamis (16/8/2012) terlihat agak 
lengang. Lalu lintas lancar. Hal itu nampak di kamera CCTV di beberapa website 
yang menyuguhkan lalulintas mudik lebaran. Terutama di jalan tol mulai dari 
Cawang hingga exit Tol Cikampek, lalu lalang mobil di jalan masih lancar. 
Demikian juga tiga jalan alternatif menuju kawasan Pantura.


Namun jangan terkecoh dengan kelancaran lalu lintas di jalur mudik pada Kamis 
siang ini. Diperkirakan, puncak mudik akan terjadi pada Kamis malam dan 
sepanjang hari Jumat.

Pada Kamis petang hari, kantor-kantor pemerintah dan swasta sudah tutup. Pada 
saat itu diperkirakan sejumlah jalur mudik akan mengalami kemacetan parah.

Dari pantauan di posko Jasa Marga di Departemen Perhubungan, siang ini volume 
kendaraan di jalur Tol Jakarta Cikampek dan sepanjang jalur Pantura masih 
relatif lancar. "Siang ini cenderung sepi, di jalan tol arah Cikampek. Tadi 
malam tadi exit Cikopo menuju Jomin memang agak padat," kata Asep Deni, Petugas 
Informasi dan Komunikasi Jasa Marga, Kamis (16/8/2012).

Menurut Asep, pagi tadi sempat ada antrean arah Jomin, kendaraan diarahkan ke 
Sadang. "Tapi itu hanya sampai jam 08.00 WIB. Menuju Pantura saat ini lancar," 
katanya. Simpang Jomin merupakan konsentrasi yang menjadi langganan macet 
setiap tahun. Persimpangan ini merupakan titik temu antara kendaraan bermotor 
yang berasal dari jalur non-tol dengan mobil-mobil yang keluar dari ruas tol 
Jakarta-Cikampek.

Kepadatan kendaraan diperkirakan akan mulai terjadi pada sore hari dan malam 
nanti. Dan kendaraan akan bertambah padat dengan gelombang kendaraan pemudik 
yang mulai bergerak setelah peringatan HUT RI besok. "Pemudik cenderung 
melakukan perjalanan pada malam. Jadi kondisi siang ini masih sangat lancar," 
katanya.

Data di posko Jasa Marga, sejak Rabu malam hingga pukul 06.00 WIB tadi, jumlah 
kendaraan yang ke luar dari Tol Cikampek sekitar 17.316 kendaraan. Meski ini 
lebih banyak dari hari sebelumnya, namun masih lebih sedikit dari tahun 
sebelumnya.

PT Jasa Marga juga sudah memprediksi kondisi puncak arus mudik jatuh pada H-3 
lebaran atau Kamis, 16 Agustus 2012. Saat puncak mudik terjadi, jumlah 
kendaraan yang melintas di gerbang Tol Jakarta-Cikampek akan naik sekitar 178 
persen dibanding hari biasa. "Pada hari biasa, rata-rata kendaraan yang 
melintas sekitar 16.221 kendaraan per hari, pada H-3 Lebaran diperkirakan 
mencapai 45.092 kendaraan," ujar Kepala Biro Operasional PT Jasa Marga, 
Hasanuddin.

Sementara itu, kepolisian terus melakukan persiapan menghadapi puncak arus 
mudik dan balik Lebaran tahun ini. Kesiapan itu termasuk di salah satu jalur 
yang kerap dipakai para pemudik pulang ke kampung halaman masing-masing, yakni 
di Pantura, Indramayu. Di jalur ini, kepolisian akan memprioritaskan pemudik 
dengan sepeda motor.

Kasat Lantas Polres Indramayu, AKP Irwandi, mengatakan, jika kemacetan panjang 
terjadi saat H-3 Lebaran, polisi akan memprioritaskan kendaraan roda dua tetap 
melintas di jalur utama Pantura Indramayu. "Sedangkan kendaraan roda empat akan 
kami alihkan ke jalur alternatif Cikamurang-Cijelag, lalu Kadipaten dan ke 
Cirebon," kata Irwandi kepada wartawan, Rabu (15/8/2012).

Menurut Irwandi, Polres tidak memaksakan pemudik motor ke jalur alternatif 
karena dua alasan. Selain memutar dan lebih jauh, kondisi jalan alternatif 
banyak yang rusak serta minim penerangan saat malam hari.

Sementara di jalur selatan, sejak Kamis dini hari situasi lalu lintas di 
sejumlah kawasan sudah padat merayap. Di Nagreg --kawasan yang paling macet 
saat mudik --kendaraan sudah padat semenjak subuh tadi. Dari pantauan di posko 
Pengamanan Polres Bandung di Nagreg, sejak semalam jalur itu sudah diberlakukan 
one way sistem (satu arah) ke arah Garut dan Tasik. Sebab kendaraan sudah kian 
banyak.

Perwira Pengawas Pengendalian (Pawasdal) Pos Pam Nagreg, Kompol Edi Suwandie 
mengatakan, kendaraan roda empat yang melintas di Nagreg per menitnya sekitar 
100 kendaraan. "Sedangkan kendaraan roda dua belum begitu banyak. Sekitar 80 
kendaraan per menitnya," katanya.

Untuk sistem one way sendiri, kata Edi, diberlakukan bagi kendaraan dari arah 
Bandung ke Garut dan akan melewati Limbangan. "Sedangkan yang ke Tasik 
diarahkan ke jalur lingkar gentong," lanjutnya.

Bagi kendaraan yang ke arah Garut, tidak akan melewati pertigaan pamucatan 
Nagreg. Sedangkan untuk kendaraan yang mengarah ke Bandung, diprioritaskan 
melewati jalur lingkar Nagreg. Polres Bandung juga telah menyiagakan 25 unit 
kendaraan roda dua dengan personelnya yang akan mengurai kemacetan. "Untuk 
mengantisipasi terjadinya kemacetan panjang, dan membimbing para pemudik agar 
lebih tertib," kata Edi.

Para pemudik diharapkan menyiapkan fisik dan mental menghadapi puncak arus lalu 
lintas nanti malam. Inilah indahnya mudik lebaran. Kalau lalu lintas padat 
merapat, kebersamaan akan tercipta, terutama di tempat-tempat seperti pom 
bensin dan mesjid.

Perekonomian pun jadi menggeliat. Gemerincing rupiah akan mengalir ke daerah, 
dan menhidupkan bisnis sepanjang jalur mudik. Meski sesaat, masyarakat 
menikmati indahnya kebersamaan. (HP, Ant)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke