Gubernur DKI Harus Mampu Berdialog dengan Warga
Penulis : Imanuel More 

KOMPAS IMAGES/MUNDRI WINANTO Suasana Lebaran di pengungsian korban kebakaran 
Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta, Minggu (19/8/2012). Di tengah keprihatinan 
akibat musibah kebakaran yang terjadi pada Senin (6/8/2012) lalu, para korban 
merayakan lebaran dengan sederhana dan penuh kebersamaan. 


JAKARTA, KOMPAS.com - Kebakaran yang kerap terjadi di Jakarta semakin menuntut 
perlunya penataan pemukiman warga. Namun, untuk melakukan relokasi terhadap 
warga di pemukiman kumuh maupun terhadap para korban kebakaran dituntut 
kemampuan berdialog Gubernur DKI dan jajarannya.

"Relokasi bisa saja menjadi pilihan dalam rangka penataan pemukiman. Tapi, 
gubernur dan pemerintah kota harus lebih mampu berdialog dengan warga," kata 
Yayat Supriatna, peneliti masalah perkotaan, saat dihubungi Kompas.com, Senin 
(20/8/2012).

Yayat menjelaskan, pemerintah tidak bisa asal melakukan penggusuran. Kondisi 
kejiwaan warga, terutama yang menjadi korban kebakaran harus menjadi 
pertimbangan. Untuk itu, kemampuan mendengarkan pandangan warga dan berdialog 
sangat dibutuhkan pemimpin Jakarta.

"Agak sulit untuk berbicara dengan mereka yang mengalami tekanan hidup atau 
yang dalam kondisi trauma setelah jadi korban kebakaran. Mereka masih sulit 
menerima ide-ide baru," jelas pengajar di Universitas Trisakti ini.

Yayat melanjutkan, untuk para korban kebakaran, misalnya, bagaimana pun kondisi 
mereka sebelumnya, mereka telah masuk dalam golongan orang miskin baru. Dalam 
kondisi psikologis yang demikian, warga Jakarta masih membutuhkan dorongan 
sekaligus penyadaran untuk bisa menata diri dan lingkungan. Lebih lagi, masalah 
pemindahan penduduk terkait dengan banyak kepentingan, baik dari sisi 
kepentingan tiap warga yang berbeda-beda maupun kepentingan pihak-pihak lain 
yang harus dipertimbangkan.

Kemampuan untuk menyediakan rumah layak huni saja belum menjadi solusi 
sempurna. "Perlu keberanian pemimpin untuk membangun dialog karena banyak 
kepentingan yang harus dirangkai. Dialog diperlukan untuk temukan sinergi 
antarkepentingan yang beragam," jelas Yayat. 

Editor :
A. Wisnubrata

Kirim email ke