Sungguh Maaf, kalau saya salah tafsir. Dari jawaban pertanyaan "Aku Harus Bagaimana?" dibagian akhir puisi ini, saya berpendapat bangsa ini akan celaka kalau begitu? Menjadi satu bangsa yang tidak bertulang, kata pepatah Tionghoa kuno. Menjadi satu BANGSA yang TIDAK mempunyai pendirian dan budaya sendiri, ikut saja arus bangsa lain dengan menggandoli kata-kata "pasrah pada Tuhan yang ku sembah"?????
Hidup dan bersikaplah sebagaimana BANGSA INDONESIA, tegak berdiri sebagai bangsa Indonesia yang berkemampuan mempertahankan budaya dan tradisi nenek moyangnya sendiri, tidak HARUS dirubah menjadi berbau dan segalanya seperti bangsa ARAB sana, ... apalagi harus main hujat menghujat biar dikira heibat dan sering mencela biar dibilang mulia! Dan lebih lanjut ledakkan membunhi orang-orang yang dituduh kafir, biar dikatakan mati mulai untuk naik kesurga menemui 72 bidadari, ... Seeiiitaaan! Salam, ChanCT ---------- Forwarded message ---------- From: singo menggolo . nuwun sewu, singo KH Mustofa Bisri AKU HARUS BAGAIMANA aku pergi tahlil, kau bilang itu amalan jahil aku baca shalawat burdah, kau bilang itu bid�ah lalu aku harus bagaimana? aku bertawasul dengan baik, kau bilang aku musrik aku ikut majlis zikir, kau bilang aku kafir lalu aku harus bagaimana? aku shalat pakai lafadz niat, kau bilang aku sesat aku mengadakan maulid, kau bilang tak ada dalil yang valid lalu aku harus bagaimana? aku gemar berziarah, kau bilang aku alap-alap berkah aku mengadakan selametan, kau bilang aku pemuja setan lalu aku harus bagaimana? aku pergi yasinan, kau bilang itu tak membawa kebaikan aku ikuti tasawuf sufi, malah kau suruh aku menjauhi ya sudahlah?aku ikut kalian? kan ku pakai celana cingkrang, agar kau senang kan kupanjangkan jenggot, agar dikira berbobot kan ku hitamkan jidat, agar dikira ahli ijtihad aku kan sering menghujat, biar dikira hebat aku kan sering mencela, biar dikira mulia ya sudahlah?aku pasrah pada Tuhan yang ku sembah? (KH Mustofa Bisri)
