http://www.equator-news.com/vox-populi/20120822/politik-panjat-pinang

Rabu, 22 Agustus 2012 
Politik Panjat Pinang 
Politik maknanya bahwa kita bicara bagaimana seni memimpin dan menjadi 
pemimpin. Di zaman demokrasi ini untuk mendapatkan kursi kepemimpinan bukan 
didapatkan berdasarkan keturunan ataupun hibah. Tetapi perlu biaya, upaya, dan 
yang paling penting strategi untuk mendapatkan tempat di hati masyarakat supaya 
dipilih dan didukung menjadi pemimpin.

Maka tidak heran seseorang yang akan maju menjadi pemimpin harus punya modal 
besar. Tidak hanya dana, tetapi juga pendukung yang siap mengusung dan 
memperjuangkannya sampai terpilih. Mulai dari dana, sampai tim sukses andal 
yang siap menggerakkan mesin politik.

Kalau kita cermati, saat ini para politisi cenderung memainkan strategi politik 
yang beragam. Proses mendapatkan posisi pemimpin itu kini persis seperti 
strategi panjat pinang dalam perayaan HUT Proklamasi 17 Agustus yang sudah 
membudaya itu. Panjat pinang membutuhkan beberapa orang dalam satu regu. 
Tujuannya hanya satu: bagaimana bekerja sama dengan tim untuk mendapatkan 
hadiah yang sudah tergantung di atas.

Politik panjat pinang, orang-orang yang terlibat sesungguhnya masih dalam satu 
komunitas (bisa satu partai, satu organisasi, satu institusi, bahkan satu 
keluarga).

Jika kita melihat praktik lomba panjat pinang yang menjadi simbol gaya politik 
ini memang ada yang diinjak untuk bisa menghantarkan yang lainnya ke atas untuk 
menggapai harapan. Sekiranya memang begitu adanya justru tidak berbahaya, 
karena harapan yang akan digapai merupakan kepentingan bersama. Hasilnya 
menjadi milik bersama dan atas perjuangan bersama.

Kalaupun ada yang terinjak oleh teman yang akan naik, mereka menganggapnya 
sebagai pengorbanan. Karena hasil yang diperoleh akan mereka nikmati juga. Maka 
selama komitmen ini dapat dipelihara secara baik, praktik politik ini tidak 
berbahaya.

Hanya saja yang dikhawatirkan, kalau orang yang menggunakan strategi politik 
ini hanya untuk kepentingan pribadi. Sebelum naik, masih sakit begitu dekat 
dengan rakyat kecil dan siap berjuang bersama-sama. Tetapi setelah jadi, ibarat 
kacang lupa kulitnya. Mendapatkan apa yang diinginkan dengan memanfaatkan 
tenaga orang lain. Bahkan menoleh pun tidak apalagi berterima kasih.

Kalau prinsipnya strategi politik ini terjadi dalam satu komunitas tidak 
masalah. Kalau dalam satu keluarga sesama saudara saling mendukung juga wajar 
karena tetangga jangan dipedulikan. Tetapi fenomena yang terjadi adalah kakak 
adik yang saling bertarung.

Semoga saja praktik politik yang terjadi pada Pilgub Kalbar ini tidak keluar 
dari prinsip politik panjat pinang. Rakyat tidak hanya dijadikan untuk batu 
lompatan setelah itu ditinggalkan.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke