Inilah Mahar Politik Dukungan PKS kepada Fauzi Bowo

Kecurigaan
bahwa ada mahar politik di balik dukungan PKS terhadap calon gubernur
petahana Fauzi Bowo Nachrowi Ramli (Foke-Nara) ternyata bukan asal
curiga. Menurut laporan Majalah Tempo edisi 26 Agustus 2012, mahar politik 
tersebut memang ada. Nilai penawaran awalnya antara Rp. 25 miliar Rp. 50 
miliar. Tetapi kemudian turun menjadi Rp 20 miliar sebagai kata sepakatnya..  
Imbalannya, PKS menjanjikan 500.000 suara untuk Foke-Nara dari kader PKS. 
Menurut sumber Tempo, PKS berjanji 500 ribu suara kader PKS untuk Foke-Nara di 
putaran kedua Pilkada DKI pada 20 September 2012. Petinggi PKS mengatakan bahwa 
 berdasarkan pengalaman , kadernya loyal pada instruksi partai. Apalagi jika 
ada jaminan bantuan pendanaan dalam Pemilu 2014 apabila Foke-Nara
menang.

Sebenarnya, ada kejanggalan dengan pernyataan petinggi
PKS itu bahwa para kadernya loyal dengan instruksi partai (untuk
mendukung Foke-Nara). Sebab, ditinjau dari perolehan suara PKS di Pemilu 
Legislatif 2009 dibandingkan dengan hasil Pilkada DKI putaran pertama (11 Juli 
2012), suara dukungan langsung kepada cagub-cawagub dari PKS (Hidayat Nur 
Wahid-Didik J. Rachbini) justru mengalami penurunan sampai 50%. Bahkan hanya 
seperempat dukungan bila dibandingkan dengan apa yang pernah diperoleh PKS 
dalam Pilkada DKI 2007, yang ketika itu mengusung cagub Adang Darajatun.

Pada Pilkada DKI 2012 ini, dengan mengusung Hidayat Nur Wahid-Didik J. 
Rachbini, PKS hanya mendapat suara sebesar 11,72 persen, atau 508.113 suara.

Apakah mungkin dengan indikator-indikator tersebut, 500.000 suara dari kader 
PKS bisa dijaminkan akan loyal memilih Foke-Nara?

Sedangkan, berdasarkan hasil laporan Tempo diperoleh informasi pula
bahwa sebelum menyatakan dukungannya terhadap Foke-Nara, PKS menjajaki
pilihan di kalangan kadernya dengan melakukan suatu survei. Hasilnya,
sebagian kader menyatakan tidak akan mendukung Foke-Nara, maupun
Jokowi-Ahok, alias golput,  sebagian lagi akan mendukung Foke-Nara,
sisanya akan mendukung Jokowi-Ahok.

Dengan kata lain,
sesungguhnya telah diperoleh gambaran bahwa suara kader PKS itu terpecah
 tiga. Mendapat fakta seperti itu, elit PKS akhirnya memutuskan
mengabaikan hasil survei, dan melakukan langkah-langkah politik sendiri,
 yang pada akhirnya PKS memutuskan mendukung Foke-Nara. Alasan resminya
adalah karena PKS menilai Fauzi Bowo lebih mampu mengurus Jakarta
(karena lebih mengenal Jakarta) daripada Jokowi.

Dari sini
saja, sebenarnya kita bisa melihat bahwa telah terjadi
manipulasi-manipulasi pernyataan politik yang membuat kita sulit untuk
memegang perkataan-perkataan yang keluar dari mulut para elit PKS itu.
Setidaknya ada dua hal tentang ini.

Pertama, PKS menjanjikan
bahwa 500.000-an suara kader PKS akan mendukung Foke-Nara sesuai dengan
instruksi partai karena biasanya para kader mereka itu loyal terhadap
apa yang dikatakan partai. Padahal dari fakta perbandingan hasil Pemilu
Legislatif 2009, Pilkada 2007, dan Pilkada 2012 putaran pertama, kita
bisa melihat bahwa jaminan dukungan 500.000 suara dengan alasan
keloyalan kader sangat diragukan. Kalau benar ada keloyalan kader
tersebut, tentu saja suara-suara yang diperoleh oleh PKS dari tiga momen
 politik pemilihan umum tersebut tidak akan mengalami kemerosotan,
apalagi dengan sedemikian tajam. Bagaimana bisa PKS menjamin para
kadernya akan memberi dukungan penuh kepada Foke-Nara, kalau dukungan
terhadap calon mereka sendiri saja malah anjlok? Anehnya, kok bisa kubu
Foke-Nara, sepertinya percaya saja? Mungkin lebih tepat, alasannya
daripada tidak sama sekali, dukungan partai ini (PKS) bisalah diharapkan
 untuk membantu menambah jumlah suara di Pilkada DKI putaran kedua nanti
 itu.

Kedua, alasan resmi PKS memilih mendukung Fauzi Bowo
adalah karena PKS menilai Fauzi Bowo lebih pantas menjadi gubernur DKI
karena lebih mampu daripada Jokowi. Padahal di dalam beberapakali
kampanye Pilkada DKI putaran pertama, berkali-kali dan dengan sangat
jelas PKS, Hidayat Nur Wahid dan Didik J. Rachbini menyatakan bahwa
Fauzi sudah tidak layak lagi memimpin DKI Jakarta.

“Bagaimana
masyarakat Jakarta bisa maju, gubernur sama wakilnya saja marahan.
Jangan sampai ada wakil gubernur laporkan gubernur ke KPK,” begitu
pernyataan Hidayat Nur Wahid dalam suatu kampanyenya di GOR Soemantri
Brojonegoro, Kuningan, Jakarta, pada Minggu, 1 Juli 2012 (merdeka.com).

Menurut Hidayat, pendiri Jakarta, Fatahillah akan bersedih jika melihat
 keadaan ibu kota banyak masalah seperti sekarang ini. “Fatahillah akan
bersedih melihat Jakarta sekarang. Tidak terurus!” katanya waktu itu.

Sedangkan, pasangannya, Didik, mengatakan, jangan sampai warga Jakarta
salah memilih lagi karena lima tahun sebelumnya harus dijadikan
pelajaran.

“Kita sudah menderita 5 tahun ke belakang, jangan
sampai kita menderita 5 tahun lagi ke depan!” seru Didik di hadapan
massa yang mendengar kampanye mereka ketika itu.

Sekarang,
semuanya tiba-tiba berbalik 180 derajat. Air ludah yang telah diludahkan
 dijilat kembali demi mahar politik Rp 20 miliar itu?

Sebelum
memutuskan mendukung Foke-Nara, Tempo melaporkan para elit PKS sudah
berbicara pula dengan Jokowi, tetapi berbeda dengan respon yang didapat
dari Fauzi Bowo, ajakan melakukan transaksi politik itu tidak mendapat
respon dari Jokowi. Maka itu, akhirnya PKS pun mengdeklarasikan dirinya
untuk mendukung Fauzi Bowo, yang artinya menjilat habis kembali semua
ludah yang pernah keluar dari mulutnya itu.

Tempo melaporkan,
Selamat Nurdin, Ketua PKS Jakarta menceritakan tentang lobi-lobi PKS
dengan Jokowi itu. Selamat mengatakan sikap Jokowi-lah yang menyebabkan
dia tidak didukung oleh PKS. Ketika ditanya apa yang akan dilakukannya
dalam mengurus Ibu Kota jika kelak terpilih. “Jokowi bilang, ‘Enggak
tahu, Mas, saya juga bingung,” Selamat menuturkan.

Apakah masuk
 akal cerita Selamat Nurdin ini? Anda percaya Jokowi menjawab seperti
itu? Kita sudah menyaksikan sendiri di televisi, apa yang dijawab oleh
Jokowi ketika pertanyan-pertanyaaan tentang apa visi dan misinya kalau
kelak terpilih. Tidak masuk akal kalau Jokowi memberi jawaban yang
sedemikian bodohnya.

Denny Iskandar, anggota tim sukses Jokowi
yang hadir pada pertemuan, mengakui Selamat melontarkan pertanyaan itu,
tetapi jawaban Jokowi tidak seperti yang diceritakan Selamat.

Menurut Denny, Jokowi menjawab dengan menguraikan program-program di
bidang kesehatan dan pendidikan serta cara mengatasi kemacetan. “Kok,
yang keluar pernyataan Jokowi yang tak pernah diucapkan?” ujar Denny.

Silakan anda mau percaya siapa. Tetapi dari tayangan televisi, seperti
yang saya katakan bahwa kita sendiri telah menyaksikan apa jawaban
Jokowi ketika diajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Tidak masuk
akal, Jokowi menjawab PKS seperti itu. Apakah PKS menghalalkan fitnah
kepada Jokowi demi membenarkan keputusan politiknya yang sebenarnya
berlatar belakang mahar politik yang telah disepakati dengan pihak Fauzi
 Bowo?

Dari hasil laporan Tempo, kelihatannya mahar politik itulah yang membuat PKS 
menjauh dari Jokowi, dan memilih Fauzi Bowo.

Menurut Tempo, Jokowi sendiri mengatakan bahwa tidak ada pembicaraan
menyangkut penggabungan program yang diusung calon PKS. “Jika memang
benar syarat koalisi dengan PKS adalah memadukan dua program, langsung
saya teken,” katanya.

Menurut Jokowi, PKS sejak awal selalu
menghindari pembicaraan tentang kesepakatan politik. “Setiap saya tanya
apa yang bisa saya lakukan untuk PKS, mereka menjawab belum ada karena
mereka harus melakukan rapat internal,” kata Jokowi kepada Tempo.
Pembahasan koalisi akhirnya ditangani langsung oleh PDIP.

Saya
menduga, PKS menghindar menjawab pertanyaan Jokowi itu, karena mereka
tahu, Jokowi pasti akan menolak, apabila harus membayar balas jasa
dukungan PKS itu dengan transaksi politik balas jada demi kepentingan
PKS. Seperti menentukan kepala-kepala dinas tertentu di pemerintahan DKI
 Jakarta. Sebab, dengan PDIP (parpol-nya) saja Jokowi sudah menyatakan
akan menolak hal itu jika sebagai syarat diusung PDIP, apalagi dengan
parpol lain.

Di dalam pembahasan yang sangat alot itulah
dikabarkan adanya penawaran kontrak politik dari PKS dengan biaya
sebesar Rp. 25 miliar – Rp 50 miliar. PDIP menolaknya. Ketika hal itu
ditawarkan kepada kubu Fauzi Bowo, terjadilah kesepakatan kontrak
politik dengan jumlah akhir Rp 20 miliar.

Syarat mahar politik
juga pernah diajukan PKS sewaktu mereka menyorongkan Ketua Majelis
Pertimbangan Partai Triwisaksana sebagai calon wakil Fauzi Bowo. Dengan
imbalan PKS diberi jatah untuk menentukan sejumlah kepala dinas di DKI.
Fauzi menolaknya, dan akhirnya menerima calon yang disorongkan Partai
Demokrat, Nachrowi Ramli.

Mungkin, transaksi politik berupa
balas jasa seperti itu tempo hari ditolak Foke karena merasa kubunya
sangat kuat untuk menang dalam Pilkada DKI 2012 ini. Apalagi dengan
hasil survei berbagai lembaga survei yang menyatakan dia akan menang
mudah. Bahkan hanya dalam satu putaran saja. Tetapi, ketika faktanya
berbicara lain, dia dan pasangannya kalah cukup telak dari Jokowi-Ahok
di putaran pertama, Foke akhirnya memutuskan menyepakati penawaran yang
pernah disodorkan PKS itu?

Baik Selamat, maupun Triwisaksana
membantah semua lobi politik dengan mahar seperti itu. “Saya mengikuti
semua lobi itu, tidak ada yang menyebutkan transaksi uang, atau kepala
dinas,” kata Selamat. Menurut dia, Fauzi Bowo dipilih PKS karena
kapasitasnya lebih baik daripada Jokowi. Apakah benar demikian? Kembali
ke uraian yang saya tulis di atas. ***

http://politik.kompasiana.com/2012/08/21/inilah-mahar-politik-dukungan-pks-kepada-fauzi-bowo/

Kirim email ke