SAYA INGING BERTANYA pd Kawan2 sbb:  
* APA artinya kata MAHAR ...?? ( Semoga Ada Kawan2 yang bisa MEMBERIKAN
PENCERAHAN tentang ARTI kata tsb )

Atas bantuan  dan Perhataian Kawan2  semua - Saya ucapkan TERIMA KASIH .

marc.-
-------Original Message-------
 
From: Al Faqir Ilmi
Date: 29.8.2012 13:47:11
To: [email protected]
Subject: [inti-net] Inilah Mahar Politik Dukungan PKS kepada Fauzi Bowo
 
  
Inilah Mahar Politik Dukungan PKS kepada Fauzi Bowo

Kecurigaan 
bahwa ada mahar politik di balik dukungan PKS terhadap calon gubernur 
petahana Fauzi Bowo Nachrowi Ramli (Foke-Nara) ternyata bukan asal 
curiga. Menurut laporan Majalah Tempo edisi 26 Agustus 2012, mahar politik
tersebut memang ada. Nilai penawaran awalnya antara Rp. 25 miliar Rp. 50
miliar. Tetapi kemudian turun menjadi Rp 20 miliar sebagai kata sepakatnya..
Imbalannya, PKS menjanjikan 500.000 suara untuk Foke-Nara dari kader PKS.
Menurut sumber Tempo, PKS berjanji 500 ribu suara kader PKS untuk Foke-Nara
di putaran kedua Pilkada DKI pada 20 September 2012. Petinggi PKS mengatakan
bahwa berdasarkan pengalaman , kadernya loyal pada instruksi partai. Apalagi
jika ada jaminan bantuan pendanaan dalam Pemilu 2014 apabila Foke-Nara 
menang.

Sebenarnya, ada kejanggalan dengan pernyataan petinggi 
PKS itu bahwa para kadernya loyal dengan instruksi partai (untuk 
mendukung Foke-Nara). Sebab, ditinjau dari perolehan suara PKS di Pemilu
Legislatif 2009 dibandingkan dengan hasil Pilkada DKI putaran pertama (11
Juli 2012), suara dukungan langsung kepada cagub-cawagub dari PKS (Hidayat
Nur Wahid-Didik J. Rachbini) justru mengalami penurunan sampai 50%. Bahkan
hanya seperempat dukungan bila dibandingkan dengan apa yang pernah diperoleh
PKS dalam Pilkada DKI 2007, yang ketika itu mengusung cagub Adang Darajatun.

Pada Pilkada DKI 2012 ini, dengan mengusung Hidayat Nur Wahid-Didik J.
Rachbini, PKS hanya mendapat suara sebesar 11,72 persen, atau 508.113 suara.

Apakah mungkin dengan indikator-indikator tersebut, 500.000 suara dari kader
PKS bisa dijaminkan akan loyal memilih Foke-Nara?

Sedangkan, berdasarkan hasil laporan Tempo diperoleh informasi pula 
bahwa sebelum menyatakan dukungannya terhadap Foke-Nara, PKS menjajaki 
pilihan di kalangan kadernya dengan melakukan suatu survei. Hasilnya, 
sebagian kader menyatakan tidak akan mendukung Foke-Nara, maupun 
Jokowi-Ahok, alias golput, sebagian lagi akan mendukung Foke-Nara, 
sisanya akan mendukung Jokowi-Ahok.

Dengan kata lain, 
sesungguhnya telah diperoleh gambaran bahwa suara kader PKS itu terpecah
tiga. Mendapat fakta seperti itu, elit PKS akhirnya memutuskan 
mengabaikan hasil survei, dan melakukan langkah-langkah politik sendiri,
yang pada akhirnya PKS memutuskan mendukung Foke-Nara. Alasan resminya 
adalah karena PKS menilai Fauzi Bowo lebih mampu mengurus Jakarta 
(karena lebih mengenal Jakarta) daripada Jokowi.

Dari sini 
saja, sebenarnya kita bisa melihat bahwa telah terjadi 
manipulasi-manipulasi pernyataan politik yang membuat kita sulit untuk 
memegang perkataan-perkataan yang keluar dari mulut para elit PKS itu. 
Setidaknya ada dua hal tentang ini.

Pertama, PKS menjanjikan 
bahwa 500.000-an suara kader PKS akan mendukung Foke-Nara sesuai dengan 
instruksi partai karena biasanya para kader mereka itu loyal terhadap 
apa yang dikatakan partai. Padahal dari fakta perbandingan hasil Pemilu 
Legislatif 2009, Pilkada 2007, dan Pilkada 2012 putaran pertama, kita 
bisa melihat bahwa jaminan dukungan 500.000 suara dengan alasan 
keloyalan kader sangat diragukan. Kalau benar ada keloyalan kader 
tersebut, tentu saja suara-suara yang diperoleh oleh PKS dari tiga momen
politik pemilihan umum tersebut tidak akan mengalami kemerosotan, 
apalagi dengan sedemikian tajam. Bagaimana bisa PKS menjamin para 
kadernya akan memberi dukungan penuh kepada Foke-Nara, kalau dukungan 
terhadap calon mereka sendiri saja malah anjlok? Anehnya, kok bisa kubu 
Foke-Nara, sepertinya percaya saja? Mungkin lebih tepat, alasannya 
daripada tidak sama sekali, dukungan partai ini (PKS) bisalah diharapkan
untuk membantu menambah jumlah suara di Pilkada DKI putaran kedua nanti
itu.

Kedua, alasan resmi PKS memilih mendukung Fauzi Bowo 
adalah karena PKS menilai Fauzi Bowo lebih pantas menjadi gubernur DKI 
karena lebih mampu daripada Jokowi. Padahal di dalam beberapakali 
kampanye Pilkada DKI putaran pertama, berkali-kali dan dengan sangat 
jelas PKS, Hidayat Nur Wahid dan Didik J. Rachbini menyatakan bahwa 
Fauzi sudah tidak layak lagi memimpin DKI Jakarta.

“Bagaimana 
masyarakat Jakarta bisa maju, gubernur sama wakilnya saja marahan. 
Jangan sampai ada wakil gubernur laporkan gubernur ke KPK,” begitu 
pernyataan Hidayat Nur Wahid dalam suatu kampanyenya di GOR Soemantri 
Brojonegoro, Kuningan, Jakarta, pada Minggu, 1 Juli 2012 (merdeka.com).

Menurut Hidayat, pendiri Jakarta, Fatahillah akan bersedih jika melihat
keadaan ibu kota banyak masalah seperti sekarang ini. “Fatahillah akan 
bersedih melihat Jakarta sekarang. Tidak terurus!” katanya waktu itu.

Sedangkan, pasangannya, Didik, mengatakan, jangan sampai warga Jakarta 
salah memilih lagi karena lima tahun sebelumnya harus dijadikan 
pelajaran.

“Kita sudah menderita 5 tahun ke belakang, jangan 
sampai kita menderita 5 tahun lagi ke depan!” seru Didik di hadapan 
massa yang mendengar kampanye mereka ketika itu.

Sekarang, 
semuanya tiba-tiba berbalik 180 derajat. Air ludah yang telah diludahkan
dijilat kembali demi mahar politik Rp 20 miliar itu?

Sebelum 
memutuskan mendukung Foke-Nara, Tempo melaporkan para elit PKS sudah 
berbicara pula dengan Jokowi, tetapi berbeda dengan respon yang didapat 
dari Fauzi Bowo, ajakan melakukan transaksi politik itu tidak mendapat 
respon dari Jokowi. Maka itu, akhirnya PKS pun mengdeklarasikan dirinya 
untuk mendukung Fauzi Bowo, yang artinya menjilat habis kembali semua 
ludah yang pernah keluar dari mulutnya itu.

Tempo melaporkan, 
Selamat Nurdin, Ketua PKS Jakarta menceritakan tentang lobi-lobi PKS 
dengan Jokowi itu. Selamat mengatakan sikap Jokowi-lah yang menyebabkan 
dia tidak didukung oleh PKS. Ketika ditanya apa yang akan dilakukannya 
dalam mengurus Ibu Kota jika kelak terpilih. “Jokowi bilang, ‘Enggak 
tahu, Mas, saya juga bingung,” Selamat menuturkan.

Apakah masuk
akal cerita Selamat Nurdin ini? Anda percaya Jokowi menjawab seperti 
itu? Kita sudah menyaksikan sendiri di televisi, apa yang dijawab oleh 
Jokowi ketika pertanyan-pertanyaaan tentang apa visi dan misinya kalau 
kelak terpilih. Tidak masuk akal kalau Jokowi memberi jawaban yang 
sedemikian bodohnya.

Denny Iskandar, anggota tim sukses Jokowi 
yang hadir pada pertemuan, mengakui Selamat melontarkan pertanyaan itu, 
tetapi jawaban Jokowi tidak seperti yang diceritakan Selamat.

Menurut Denny, Jokowi menjawab dengan menguraikan program-program di 
bidang kesehatan dan pendidikan serta cara mengatasi kemacetan. “Kok, 
yang keluar pernyataan Jokowi yang tak pernah diucapkan?” ujar Denny.

Silakan anda mau percaya siapa. Tetapi dari tayangan televisi, seperti 
yang saya katakan bahwa kita sendiri telah menyaksikan apa jawaban 
Jokowi ketika diajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Tidak masuk 
akal, Jokowi menjawab PKS seperti itu. Apakah PKS menghalalkan fitnah 
kepada Jokowi demi membenarkan keputusan politiknya yang sebenarnya 
berlatar belakang mahar politik yang telah disepakati dengan pihak Fauzi
Bowo?

Dari hasil laporan Tempo, kelihatannya mahar politik itulah yang membuat PKS
menjauh dari Jokowi, dan memilih Fauzi Bowo.

Menurut Tempo, Jokowi sendiri mengatakan bahwa tidak ada pembicaraan 
menyangkut penggabungan program yang diusung calon PKS. “Jika memang 
benar syarat koalisi dengan PKS adalah memadukan dua program, langsung 
saya teken,” katanya.

Menurut Jokowi, PKS sejak awal selalu 
menghindari pembicaraan tentang kesepakatan politik. “Setiap saya tanya 
apa yang bisa saya lakukan untuk PKS, mereka menjawab belum ada karena 
mereka harus melakukan rapat internal,” kata Jokowi kepada Tempo. 
Pembahasan koalisi akhirnya ditangani langsung oleh PDIP.

Saya 
menduga, PKS menghindar menjawab pertanyaan Jokowi itu, karena mereka 
tahu, Jokowi pasti akan menolak, apabila harus membayar balas jasa 
dukungan PKS itu dengan transaksi politik balas jada demi kepentingan 
PKS. Seperti menentukan kepala-kepala dinas tertentu di pemerintahan DKI
Jakarta. Sebab, dengan PDIP (parpol-nya) saja Jokowi sudah menyatakan 
akan menolak hal itu jika sebagai syarat diusung PDIP, apalagi dengan 
parpol lain.

Di dalam pembahasan yang sangat alot itulah 
dikabarkan adanya penawaran kontrak politik dari PKS dengan biaya 
sebesar Rp. 25 miliar – Rp 50 miliar. PDIP menolaknya. Ketika hal itu 
ditawarkan kepada kubu Fauzi Bowo, terjadilah kesepakatan kontrak 
politik dengan jumlah akhir Rp 20 miliar.

Syarat mahar politik 
juga pernah diajukan PKS sewaktu mereka menyorongkan Ketua Majelis 
Pertimbangan Partai Triwisaksana sebagai calon wakil Fauzi Bowo. Dengan 
imbalan PKS diberi jatah untuk menentukan sejumlah kepala dinas di DKI. 
Fauzi menolaknya, dan akhirnya menerima calon yang disorongkan Partai 
Demokrat, Nachrowi Ramli.

Mungkin, transaksi politik berupa 
balas jasa seperti itu tempo hari ditolak Foke karena merasa kubunya 
sangat kuat untuk menang dalam Pilkada DKI 2012 ini. Apalagi dengan 
hasil survei berbagai lembaga survei yang menyatakan dia akan menang 
mudah. Bahkan hanya dalam satu putaran saja. Tetapi, ketika faktanya 
berbicara lain, dia dan pasangannya kalah cukup telak dari Jokowi-Ahok 
di putaran pertama, Foke akhirnya memutuskan menyepakati penawaran yang 
pernah disodorkan PKS itu?

Baik Selamat, maupun Triwisaksana 
membantah semua lobi politik dengan mahar seperti itu. “Saya mengikuti 
semua lobi itu, tidak ada yang menyebutkan transaksi uang, atau kepala 
dinas,” kata Selamat. Menurut dia, Fauzi Bowo dipilih PKS karena 
kapasitasnya lebih baik daripada Jokowi. Apakah benar demikian? Kembali 
ke uraian yang saya tulis di atas. ***

http://politik.kompasiana
com/2012/08/21/inilah-mahar-politik-dukungan-pks-kepada-fauzi-bowo/



 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke