http://www.indopos.co.id/index.php/berita-indo-rewiew/27179-keliling-ceramah-di-new-york-lawan-mitos-perawan-tua.html

Keliling Ceramah di New York, Lawan Mitos Perawan Tua

Friday, 31 August 2012 11:14 

 
RIKO NOVIANTORO/INDOPOS BERI PENCERAHAN: Nurul Indriyani mengukir prestasi 
gemilang.


Nurul Indriyani, BIAAG Ambassador Plan asal Indonesia

Nurul Indriyani berhasil membongkar tradisi pernikahan dini di masyarakat. 
Kepeloporannya itu mengantarkan dirinya menjadi BIAAG Ambassador Plan asal 
Indonesia. Bagaimana sosoknya? RIKO NOVIANTORO, Jakarta

Desa Padang, Kecamatan Tanjungharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, mendadak 
banyak didatangi penggiat sosial. Ini setelah pelajar asal desa itu telah 
mengukir prestasi mengejutkan. Nurul Indriyani lah yang membawa harum nama 
kampung halamannya di pentas dunia. Bahkan secara berani gadis yang masih duduk 
di kursi kelas I Madrasah Aliyah Mambaul Ulum itu membongkar tradisi masyarakat 
lokal.

’’Aku hanya ingin memberikan pencerahan bahaya nikah dini pada teman sekolah 
dan tetangga sekitar,’’ ujar Nurul Indriyani sambil menyeka keringat di dahi. 
Hari itu udara di Jakarta memang cukup panas. Nurul sengaja datang untuk hadir 
dalam peringatan Hari Anak Nasional 2012 yang digelar di TMII, Jakarta. 
Kehadirannya mendapat respons Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Bahkan mendapatkan penghargaan dari pemerintah. Apa yang dilakukan Nurul? Putri 
ke tiga dari empat bersaudara ini membongkar tradisi buruk masyarakat Grobogan 
dalam sebuah penelitian.

Hasilnya mengungkap angka pernikahan dini di kecamatannya sangat tinggi. ’’Dari 
penelitian itu saya mulai bergerak membangun kesadaran menikah dini adalah 
persoalan serius,’’ ujarnya dengan logat Jawa yang kental. Disebutkan Nurul, 
hasil penelitian itu memperlihatkan anak menikah dini pada usia 13-18 tahun. 
Jumlahnya mencapai 53 anak.

Tentu, kata gadis penggemar bakso itu memastikan kenyataan tersebut sebagai 
masalah genting. Sebab, masyarakat menilai pernikahan dini sebagai budaya yang 
baik. ’’Ada mitos di kalangan masyarakat kalau anak gadis tidak menikah pada 
usia 15 tahun, maka bakal mendapatkan duda dan hidup susah,’’ paparnya tertawa 
kecil. Udara panas Jakarta kembali membuat Nurul menyeka keringatnya.

Wajahnya seperti tak nyaman dengan bulir keringat yang menitik. Baju seragam 
yang dikenakannya pun terlihat mulai basah. Jilbab yang digunakan tak lagi 
tertata baik. "Panas banget Jakarta, ya,’’ imbuhnya di sela pembicaraan. 
Dorongan membangun kesadaran menunda nikah dini bukan sebatas dari hasil riset. 
Nurul ternyata menjadi bagian dari akibat nikah dini. "Ibu saya itu nikah usia 
15 tahun. Kondisi ekonominya pun tak begitu baik. Ditambah jumlah anak yang 
juga banyak,’’ paparnya. Buruknya pengalaman itulah, lanjut dia, yang membuat 
gerakan menunda nikah dini begitu memuncak.

Berbagai kesempatan selalu menyampaikan idenya itu. Melihat kesungguhan Nurul 
berbuah dukungan. Lembaga non pemerintah mensupport idenya itu. ’’Saya mendapat 
dukungan semangat dari Plan Indonesia,’’ ungkap Nurul. Sejak itulah, dia merasa 
upayanya lebih terarah. Memiliki target lebih baik, serta optimal hasilnya. Dia 
merasa mitos itu cukup berpengaruh di tengah masyarakat. Harus diubah mitos 
tersebut melalui fakta-fakta.

’’Itulah tekad saya. Mengubah mitos masyarakat,’’ tambahnya. Lantas bagaimana 
dijadikan ambassador Plan Indonesia? Nurul menjelaskan, Plan Indonesia memiliki 
program terkait penyadaran nikah dini di kalangan pelajar. Program itu diikuti 
secara penuh seksama. Lembaga Plan, tegas dia, menggelar event International 
Day of The Girl di markas PBB, New York.

Proses seleksi itu dilakukan secara berjenjang. ’’Saya terpilih mewakili remaja 
Asia-Pasifik dalam event itu,’’ pungkasnya. Nurul mengalahkan sejumlah remaja 
dari berbagai negara. Antara lain Malaysia, Thailand, Filipina, dan China. 
Nurul pun terpilih sebagai Because I Am A Girl (BIAAG) Ambasador Plan asal 
Indonesia. Prestasi itulah yang mengantar Nurul harus berkeliling sejumlah 
sekolah di New York untuk berceramah tentang penundaan nikah dini. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke