http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=39319

SABTU, 31 Agustus 2012 | 78 Hits


Saifuddin Al Mughniy, (Wakil Rektor III UVRI Makassar)


Wajah Buram Pemerintahan

MERESPONS fenomena politik saat ini, nampaknya akan menemukan titik kulminasi. 
Hal ini senada dengan gonjang-ganjing konstalasi politik yang tak menentu. 

Kurang lebih dua tahun terakhir perjalanan pemerintahan, baik di legislatif 
maupun eksekutif belum nampak perubahan signifikan. Kasus demi kasus tertutupi 
oleh berbagai polemik dan wacana klasik yang membuat gerah masyarakat. 
Demokrasi telah tergadaikan oleh kepentingan elite. Mungkinkah ini adalah 
jawaban dari kegagalan reformasi? Tentu membutuhkan jawaban yang sangat 
konfrehensif.

Problematika politik kian mewarnai wajah republik ini. Pengalihan isu menjadi 
instrumen sejati dalam melakoni kehidupan kenegaraan ini. Problematika hukum 
misalnya, sampai detik ini penegakannya belum nampak secara ideal. Bahkan 
kontra pemikiran seringkali terjadi. Nyaris hukum hanya menjadi simbol 
ketakutan bagi koruptor, tapi implementasinya tidak maksimal. Padahal kalau 
dicermati, pemerintahan sekarang lahir dari rahim Reformasi 1998.

Reformasi lahir karena tuntutan perubahan dalam di bidang hukum, sosial, 
politik, ekonomi. Namun tidak satupun agenda yang berjalan. Reformasi mengalami 
kegagalan, bahkan demokrasi berhenti di persimpangan. Hal ini tentu menjadi 
tanda tanya bahwa reformasi “telah mati”.

Demokrasi memang tidak semurah harga sembako, namun yang terpenting adalah 
bahwa demokrasi telah mengalami pendekorasian yang seksi untuk dijadikan 
pajangan dalam etalase politik nasional. Sehingga dengan begitu demokrasi 
mengalami kebuntuan mengaksentuasikan kepentingan rakyat. Ini fatal sebab 
reformasi didorong menemukan esensinya untuk menjadikan wajah republik ini 
sebagai pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

Melihat perjalanan sistem pemerintahan dari masa Orla, Orba sampai Reformasi, 
saya kira belum ada perubahan signifikan. Ini harus menjadi perhatian komponen 
bangsa. Betapa tidak, reformasi bergerak karena ketimpangan selama 32 tahun 
Orba berkuasa. Fenomena reformasi saya kira sangat jelas, persoalan 
pemerintahan kian mencuat di permukaan seiring dengan mentalitas kepemimpinan 
yang ada. Memang benar secara teoritis, bahwa seorang pemimpin akan mengalami 
masa-masa perubahan sejalan dengan perkembangan zaman. Zaman berubah seiring 
dengan perkembangan sains dan teknologi. Sistem pemerintahan juga secara 
praktis mengikutinya.

Sehingga menurut penulis, wajah buram pemerintahan semakin nampak dengan 
munculnya persoalan terkait pengambilan keputusan dan isu-isu yang ada. 
Korupsi, kekerasan, konflik horizontal, bencana, semuanya itu adalah fenomena 
yang tak terbantahkan di samping situasi negara yang kurang kondusif. Apakah 
ini kemudian akan menjadi referensi dari Kenechi Omhae (hancurnya negara 
bangsa).

Budaya korupsi dengan kerapuhan hukum sebagai panglima, mentalitas kepemimpinan 
di tengah hilangnya etika politik, perilaku penegak hukum yang cenderung 
menjual hukum dengan harga yang sangat murah, politik yang dikemas dengan 
kepentingan yang dominan telah meluluhlantahkan harga diri bangsa sekaligus 
mencederai ruang-ruang publik masyarakat. Nyaris menjadi realitas terburuk 
pemerintahan.

Berangkat dari kondisi objektif ini, maka seharusnya tatakelola pemerintahan 
berdimensikan konsep demokrasi, keterbukaan, akuntabilitas, serta 
responsibilitas. Sebab tanpanya, sangat sulit membangun visi bangsa yang 
bermartabat dan berkeadilan. Hal ini tentunya harus menjadi perhatian serius 
dari semua komponen bangsa tanpa terkecuali, sekalipun di tengah kerapuhan 
demokrasi.

Socrates dan Plato dalam pandangannya secara ideal mengatakan bahwa untuk 
menciptakan sistem pemerintahan yang baik adalah jika filsuf menjadi pemimpin 
dan pemimpin jadi filsuf. Ajaran ini sesungguhnya mengisyaratkan bahwa hanya 
dengan para filosof yang mampu berbuat adil dan bijak.

Sekalipun hal ini memang harus menjadi perhatian yang cukup serius, sebab 
ditengah perubahan zaman sistem sosial juga mengalami perubahan yang sangat 
dramatis termasuk sistem demokrasi. Krusialisme demokrasi telah membuat 
ruang-ruang ber-kontemplasi bagi rakyat untuk melakukan elaborasi pemikiran 
terkait dengan sistem sosial yang ada.

Hal ini dapat dilihat bagaimana kemudian demokrasi mengalami pembusukan, 
fenomena dinastokrasi misalnya telah memunculkan realitas politik baru dengan 
melakukan pembajakan serta perusakan demokrasi. Hal ini sangat didasari bahwa 
dengan model dinastokrasi secara praksis sirkulasi kekuasaan di putar di tengah 
keluarga sehingga kalau hal ini terjadi maka mata rantai demokrasi sangat sulit 
diputus.

Sistem demokrasi mengalami pembonsaian namun tak mampu berdaya sebagai sistem 
yang ideal untuk mewujudkan kondisi kebangsaan yang lebih baik. Brutalisme, 
konflik horizontal tak terkendali, holiganisme, serta praktik mafia hukum tak 
mampu ditutup-tutupi. Ini nyaris menjadi “wajah terjelek” dari sebuah republik. 
Republikanisme mengalami degradasi etis dan moral, menyebabkan fakta-fakta dari 
suatu kehidupan sosial mencuat dipermukaan. Ini sepertinya tidak dapat 
ditawar-tawar lagi sebab ini sudah menjadi “hantu-hantu republik”.

Monster demokrasi adalah wajah menakutkan bagi keberlangsungan nation-state. 
Hal ini dilandasi perilaku politik elite yang membungkam kepentingan rakyat. 
Rakyat teralienasi dari kehidupan sosial kebangsaan. Hiruk pikuk mafia hukum 
dipajang dalam bentangan media, para koruptor sebisa mungkin tersenyum dalam 
cercaan seribu pertanyaan dari hakim ketua.

Gayus Tambunan adalah fenomena terburuk dari penjara modern. Keluar masuk 
tahanan laksana pemilik penjara dengan berbagai fasilitas yang diperolehnya. Di 
pihak lain mengalir deras tuntutan membangun sistem pemerintahan yang berpihak 
pada rakyat. Negara tidak punya kekuatan membendung derasnya problematika 
hukum. Televisi menggeser tontonan menarik dari sinetron ke ruang politik dan 
hukum. Kalau tontotan sinetron membuat pemirsanya terus penasaran mengikuti 
setiap episodenya hingga akhir ceritanya, tapi kasus hukum-politik pemirsa 
tidak tertarik bahkan ujung-ujungnya mencemooh apa yang ia lihat dan 
saksikan.(*)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke