http://www.indopos.co.id/index.php/arsip-berita-jakarta-raya/71-jakarta-raya-reviews/27263-sebelum-kuliah-reguler-wajib-casciscus-bahasa-rusia.html
Sebelum Kuliah Reguler, Wajib Casciscus Bahasa Rusia Saturday, 01 September 2012 14:31 CUACA EKSTREM: Victoria Lelu Sabon berpose di tengah padang salju yang dingin di St. Petersburg, Rusia. Victoria Lelu Sabon dan Lika-Likunya Kuliah Program Doktor di Rusia (1) Dibandingkan ke Amerika Serikat, tak banyak mahasiswa Indonesia yang memilih melanjutkan kuliahnya ke Rusia. Selain faktor bahasa yang tergolong tidak familiar, cuaca ekstrem juga menjadi halangan berat bagi calon mahasiswa di Negeri Beruang Merah tersebut. Namun, Victoria Lelu Sabon punya alas an lain menempuh negeri bersalju tersebut. Bagaimana kisahnya? YERI VLORIDA SEBAGAI negara yang memiliki tradisi ilmu pengetahuan dan teknologi, Rusia menjadi negara tujuan bagi mahasiswa asing. Termasuk mahasiswa Indonesia yang studi di Rusia. Misalnya Victoria Lelu Sabon sebagai mahasiswa program doktor jurusan Ekonomi Perdagangan Internasional, Peoples Friendship University of Russia, Moscow. Victoria merupakan dosen Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Surya. Di Rusia ia mendapat Beasiswa Unggulan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Di Rusia saat ini ada tiga puluh ribu mahasiswa asing. 70 persen di antaranya atas biaya sendiri dan lainnya melalui beasiswa dari pemerintah Federasi Rusia. Menurut Victoria, alasan lainnya mengapa memilih kuliah ke Rusia adalah karena negara itu termasuk sebagai salah satu negara BRICS. BRICS merupakan kelompok negara-negara yang paling pesat kemajuan perekonomiannya dalam beberapa dekade. Yaitu Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. BRICS juga ikut ambil bagian dalam menyelamatkan kondisi perekonomian Uni Eropa saat ini dengan cara menyuntikan sejumlah besar dana ke International Monetary Fund (IMF). Diprediksi pada tahun 2050, gabungan ekonomi dari kelima negara tersebut akan mengalahkan negara-negara terkaya di dunia saat ini. Dikisahkannya, biaya hidup selama perkuliahan di Rusia adalah sekitar USD 300 perbulan. Untuk menutupi biaya hidup tersebut, calon mahasiswa dapat mencoba untuk mendaftar Beasiswa Unggulan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Ada dua jenis BU, yaitu untuk dosen dan non-dosen. Untuk dosen, BU yang diberikan adalah sekitar USD 1000 per bulan, sedangkan BU yang diberikan untuk non-dosen di Rusia adalah Rp. 2.500.000,- perbulan. BU tersebut diberikan setiap enam bulan sekali bagi mahasiswa S1 dan S2, dan setahun sekali bagi mahasiswa S3. Mahasiswa asing yang kuliah di sana menggunakan bahasa Rusia aktif. Sehingga sebelum memasuki perkuliahan S1, S2, atau S3, mahasiswa asing diwajibkan untuk mengikuti kelas persiapan bahasa Rusia selama satu tahun di negara tersebut. ”Dalam kelas persiapan bahasa tersebut, calon mahasiswa diajarkan secara cepat mulai dari grammar hingga conversation,” ujarnya. (bersambung) [Non-text portions of this message have been removed]
