http://www.gatra.com/nasional/1-nasional/16445-din-muslim-berkontribusi-5-perekonomian-dunia
Din: Muslim Berkontribusi 5% Perekonomian Dunia
Monday, 20 August 2012 08:21 
Jakarta - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin, dalam khutbah 
Idul Fitri 1433 Hijriah, di Masjid Al-Azhar Jakarta, Minggu (19/8), mengatakan, 
umat Islam yang berjumlah sekitar 1,4 miliar atau 22 persen populasi dunia, 
hanya memberi sumbangan lima persen pada perekonomian dunia.

Dari semuanya, Indonesia adalah negara paling banyak penduduk muslim-nya di 
dunia. Pakistan dan beberapa negara Maghribi lain tidak sebanyak Indonesia 
dalam hal ini.

Ekonomi muslim, katanya, memang ironi. Dulu Islam masuk ke nusantara lewat 
jalur ekonomi karena dibawa pedagang Arab, yang ikut membentuk kelas menengah 
Islam yang relatif berjaya dan membentuk sentra-sentra perekonomian umat di 
beberapa daerah.

Dia memberi istilah kemunduran ekonomi umat Islam tersebut sebagai "runtuhnya 
kedai kami", pelesetan dari judul cerita pendek AA Navis, "Robohnya Surau Kami" 
yang begitu terkenal (frasa tersebut ditafsirkan Syamsuddin sebagai kegagalan 
pendidikan keagamaan).

"Umat Islam harus mencontoh bangsa-bangsa Eropa dan Asia Pasifik yang maju 
secara ekonomi setelah kembali kepada etika dasar agama masing-masing, 
Protestanisme dan Konfuchian," ujarnya.

"Kemajuan Eropa didorong etika Protestanisme yang menekankan kerja keras, 
penghargaan akan waktu, dan penghematan, begitu pula dengan kebangkitan Asia 
Pasifik karena etika Konghuchu juga mempunyai nilai yang sama," kata dia.

Kebangkitan dan kemajuan ekonomi Asia Pasifik dan Asia Timur di mana Indonesia 
berada, menurut dia, justru belum dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya, bahkan 
bangsa ini akan menjadi "mangsa macan-macan" Asia baru jika tidak segera di 
ambil langkah-langkah nyata.

Dalam penafsiran Syamsuddin, Islam jauh lebih kuat mendorong nilai-nilai etika 
kerja keras, menghargai waktu, dan penghematan dalam banyak ayat Al Quran dan 
Hadits, dan karena itu tidak ada pilihan lain kecuali umat Islam harus 
menangkap kembali api dan semangat agama tersebut.

"Berbuatlah untuk duniamu seolah-olah kamu hidup selamanya, dan berbuatlah 
untuk akhiratmu seolah-olah kamu mati besok," kata Din mengutip kata-kata 
hikmah.

Kata-kata hikmah tersebut menyiratkan dalam pandangan Din menyiratkan bahwa 
umat Islam harus mengambil "jalan tengah" dengan menyeimbangkan kepentingan 
dunia sekaligus kepentingan spiritual.

"Jalan tengah inilah yang harus diambil oleh umat Islam jika ingin bangkit dari 
keterpurukannya," kata Din. [TMA, Ant]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke