Senin, 20 Agustus 2012 | 06:09 WIB
Defisit Neraca Berjalan Bisa Melebar di 2013 
 

TEMPO.CO, Jakarta -Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Muhammad 
Chatib Basri membenarkan jika ekonomi domestik tumbuh tinggi, maka defisit 
neraca berjalan bisa melebar. Adapun pada 2012, Chatib memperhitungkan defisit 
bakal berada di bawah 3 persen. 

"Di 2013, kalau pertumbuhannya tinggi, potensinya akan melompat lagi setelah 
itu akan (membaik), polanya akan begitu," ujar Chatib sela-sela acara 
silaturahim Lebaran di kediamannya, Ahad, 19 Agustus 2012.

Chatib menilai wajar jika neraca berjalan mengalami defisit ketika realisasi 
investasi tinggi. Pada masa awal pembangunan pabrik, impor meledak, utamanya 
impor mesin. Adapun ekspor baru terkerek naik setelah mesin siap produksi. 
Dengan logika ini, Chatib memandang defisit neraca berjalan akan mengecil dalam 
jangka waktu menengah-panjang. "Jadi kalau dilihat keseluruhan, mestinya oke," 
ucapnya.

Namun, Chatib memberi catatan, defisit neraca berjalan akan membaik jika 
kondisi ekonomi dunia juga membaik. "Kalau pertumbuhan turun, hasil produksi 
mau dijual ke mana, dalam negeri lagi, kalau dalam negeri lagi, pendapatan 
dalam rupiah, bayar impor (pakai valuta asing)," kata dia. Untuk itulah, 
pemerintah terus mengupayakan agar produksi komponen teknologi bisa berkembang 
di dalam negeri.

Terkait dengan target pemerintah mencapai pertumbuhan ekonomi 6,8 persen pada 
2013, dinilai Chatib bisa saja tercapai jika kondisi ekonomi dunia benar-benar 
membaik. Mengacu pada perhitungan Bank Dunia, ia meyakini meski ekonomi dunia 
memburuk, kondisi ekonomi Indonesia tak akan terpukul jatuh. "Angkanya relatif 
bagus," ucapnya. 

Meski begitu, Indonesia tetap harus mewaspadai dampak ketidakpastian ekonomi 
Eropa. Jika ketidakpastian tinggi, Eropa akan mulai kebijakan dengan memotong 
nilai kredit ke Asia, Korea, Taiwan, Hong Kong dan Singapura. 

Meski Indonesia tak terkena dampak langsung, Indonesia mesti berhati-hati 
dengan dampak tak langsung. "Masalahnya, banyak perusahaan di Indonesia yang 
pembiayaannya dari Hong Kong dan Singapura. Hati-hati dengan itu," ujarnya. 
Kondisi ini mesti jadi perhatian di paruh pertama 2013.

MARTHA THERTINA



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke