Karakter Jakarta Dilihat dari Gubernur Terpilih
Wednesday, 22 August 2012 02:22 
http://www.gatra.com/nasional/1-nasional/16540-karakter-jakarta-dilihat-dari-gubernur-terpilih
Jakarta - Pakar komunikasi politik Henry Subiakto mengatakan, karakter 
masyarakat dan pemilih Jakarta bisa dilihat dari gubernur yang terpilih dalam 
putaran kedua Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012, September mendatang.



"Bila yang terpilih Jokowi yang mengusung pluralisme, menunjukkan bahwa pemilih 
Jakarta berkarakter plural sebagaimana masyarakat Jakarta beragam karena 
didominasi pendatang," kata Henry Subiakto saat dihubungi di Jakarta, Selasa 
(21/8).

Jokowi -panggilan akrab Joko Widodo- yang berpasangan dengan Basuki Cahaya 
Purnama selama ini memang mengusung tema pluralisme. Karena tema itu, 
seringkali Jokowi mendapat serangan berupa isu yang disebut-sebut menyinggung 
suku, agama, ras dan antargolongan.

Jokowi, yang saat ini masih menjabat sebagai Wali Kota Solo, bukanlah orang 
Betawi. Begitu pula dengan Ahok -panggilan akrab Basuki Cahaya Purnama-, mantan 
bupati Belitung Timur, yang seorang Tionghoa dan bukan Muslim.

"Sebenarnya isu SARA perlu diperjelas. Kalau mengungkap latar belakang kesukuan 
dan agama salah satu calon, sebenarnya sah-sah saja karena Indonesia merupakan 
bangsa yang beragam," kata Henry.

Yang bisa dikategorikan isu SARA, kata dia, apabila ada salah satu calon yang 
dalam kampanyenya menyebarkan permusuhan dan kebencian kepada kelompok 
tertentu. Mengungkap latar belakang suku atau agama salah satu calon justru 
bisa semakin mendewasakan pemilih.

Sementara, bila Foke -panggilan akrab Fauzi Bowo- kembali terpilih, Henry 
mengatakan bisa saja disimpulkan bila pemilih di Jakarta masih memilih dengan 
mempertimbangkan latar belakang suku dan agama calon yang dipilih.

"Kalau melihat kampanye yang sering dilakukan di Jakarta masih berdasarkan 
kesukuan dan agama, bila Foke yang terpilih menunjukkan secara riil bila suku 
dan agama masih menjadi pertimbangan pemilih di Jakarta," katanya. [TMA, Ant]



Pemilih Indonesia Masif dan Naif

Wednesday, 22 August 2012 01:11 
Jakarta - Pakar komunikasi politik Henry Subiakto menilai, mayoritas pemilih di 
Indonesia merupakan pemilih pasif dan naif yang tidak mau mencari kelebihan dan 
kekurangan calon yang bersaing dalam pemilihan umum atau pemilihan kepala 
daerah.

"Hal itu berbeda dengan masyarakat Barat yang cenderung aktif mencari tahu 
latar belakang, kelebihan serta kekurangan calon yang akan mereka pilih," kata 
Henry Subiakto saat dihubungi di Jakarta, Selasa (21/8).

Kalaupun pemilih tahu tentang calon kepala daerah yang akan mereka pilih, maka 
hal itu hanya pada tataran "kulit dan permukaan" saja. Dia berharap masyarakat 
Jakarta lebih bersikap aktif dan kritis supaya mengenal calon gubernur supaya 
tidak salah memilih.

Menurut dia, pasangan calon yang bersaing dalam putaran kedua Pemilihan 
Gubernur DKI Jakarta 2012, Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli dan Joko Widodo-Basuki 
Cahaya Purnama, juga lebih mengampanyekan program daripada menyerang pihak lain.

"Media dan politisi juga harus lebih aktif mengampanyekan latar belakang, 
aktivitas dan rekam jejak pasangan calon yang bersaing. Jangan sibuk menyerang 
dengan isu kesukuan atau agama," katanya.

Dosen Universitas Airlangga, Surabaya itu menganggap positif kampanye yang 
mengangkat latar belakang kesukuan atau agama dari calon yang bersaing. Sebab, 
hal itu bisa menunjukkan keberagamaan etnis dan kultur di Jakarta yang 
mayoritas penduduknya adalah pendatang.

Namun, dia berharap pemilih tidak memilih gubernur hanya berdasarkan pada 
kesamaan suku atau agama, tetapi lebih kepada kemampuan dan kapasitas calon 
yang dinilai bisa memimpin Jakarta.

"Agama dan kesukuan cukup diketahui sebagai latar belakang saja. Pemilih harus 
lebih dewasa sehingga memilih calon yang memiliki kemampuan untuk memperbaiki 
Jakarta," katanya.

Menurut dia, Indonesia memiliki keberagaman suku dan agama sehingga pembicaraan 
mengenai etnis sah-sah saja asalkan tidak mengangkat isu untuk membenci atau 
memusuhi kelompok tertentu. [TMA, Ant]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke