----- ????-----
???: Hok Sie
???: [email protected]
????: 2012?8?22? 1:10
??: demokrasi HAM
Demokrasi dan Hak-hak Azasi Manusia ?
Tahun 1839 Inggris menyerang Tiongkok yang sedang dalam keadaan lemah.
Angkatan Laut Tiongkok dibawah Laksamana Cheng He yang ketika itu tiada taranya
telah dipereteli oleh pemerintah sendiri. Itu waktu penguasa Tiongkok terdiri
dari orang-orang yang sudah dekaden. Armada dianggap tidak perlu dan terlalu
banyak makan ongkos. Inggris memberi alasan tidak perang untuk candu tetapi
karena "orang Tionghoa harus belajar dagang bebas (free trade)." Setelah kalah
perang, Tiongkok dipaksa mengijinkan impor candu. Permulaan abad ke 20 Tiongkok
nyaris ambruk. Tanah luas terlantar disebabkan penduduknya lumpuh kecanduan.
Selain dari Inggris, kemudian Tiongkok menghadapi tentara dari Perancis,
Jerman, Austria-Honggaria, Itali, Jepang, Amerika Serikat dan Rusia. Semuanya
tidak mau ketinggalan merampok kekayaan sebisanya. Tahun 1937 terjadi
pemerkosaan dan pembunuhan besar-besaran di kota Nanking oleh Jepang. 300.000
Penduduk Nanking tewas. Pada gerbang taman umum dalam konsesi Inggris di
Shanghai bisa ada tulisan "dilarang untuk anjing-anjing dan orang Tionghoa."
Dalam pikiran orang Tionghoa tertanam itikad keadaan demikian tidak
boleh terulang. Yang terpenting Tiongkok harus kuat dan jaya lagi. Lain-lain
hal adalah sekunder. Demokrasi dan Hak-hak Azasi Manusia dalam alam pikiran
Tionghoa bukan pemikiran yang baru. Peribahasa Tien hsia we gong (segala
sesuatu dibawah langit adalah untuk umum) sudah lama dikenal diantara orang
Tionghoa. Meng Tse murid Khong Hu Cu lebih dari dua ribu tahun yl sudah
mengutarakan, bahwa raja yang tidak becus, wajib dipecat. Tiongkok tidak
membutuhkan dongengan ideologi dari luar negeri.
Kita yang tinggal di negara Barat bukannya menyokong segala-galanya dari
pihak atasan. Seumpamakata Hitler atau Mac Carthy berkuasa disini, tentunya
tidak akan kita sokong. Walaupun warisan sebagai warganegara kelas dua telah
membuat minoritas Tionghoa takut mengutarakan pendapat urusan politik,
sebaiknya dipraktekkan hak Freedom of Expression untuk menghindarkan sesat
jalanan dan untuk menunaikan kewajiban warganegara bila menjumpai hal-hal yang
tidak baik. Kenyataan kita kemukakan sebagai kenyataan. Beberapa diantaranya
adalah sbb.:
- Pembunuhan besar-besaran di Indonesia tahun 1966-an dan
pelanggaran HAM dibawah Orba mendapat toleransi kekuasaan dunia Barat karena
memenuhi keinginan mereka untuk memperoleh kekayaan besar. Antara lain konsesi
gunung tembaga di Papua yang sekalian mengandung ribuan kilo mas disamping
konsesi-konsesi besar yang lain. Eksploatasi gunung tembaga Papua berakibat
lingkungan disitu hancur. Dunia Barat mempraktekkan Demokrasi dan Hak-hak Azasi
Manusia didalam negeri untuk memelihara ketenteraman rakyatnya, tetapi diluar
negeri slogan-slogan ini hanya alat untuk meningihkan nama sendiri, tetapi
menjarah kekayaan negara lain.
- 5 Bulan sebelum penyerangan terhadap Saddam Husein di Irak,
pemerintah Inggris sudah membicarakan dengan multinasional minyak tentang
pembagian exploatasi minyak Irak kalau Saddam Husein nantinya sudah jatuh. A.S.
juga sudah dalam pembicaraan dengan berbagai multinasional minyak. Tuduhan
"adanya weapons of mass destruction di Irak dan hubungan Saddam dengan Al
Qaeda" ternyata tidak benar.
- Taliban adalah ciptaan A.S. Disini senjata makan tuan.
Sebelum diduduki tentara asing, sekolahan di Afghanistan adalah sekuler dan di
Afghanistan terdapat satu jenderal wanita Angkatan Udara. Untuk melawan
pengaruh (ketika itu)Uni-Sovyet, A.S. telah mendatangkan ribuan imam Islam
kolot dari Arab Saudi. Didikan kolot tsb kemudian menciptakan Taliban.
- Gaddafi di Lybia telah memberhentikan niatnya untuk
memperkembangkan tenaga atom dan senjata kimia. Gaddafi mengira dia sudah
acceptable untuk dunia Barat. Dia malahan memberi sumbangan uang dalam kampanye
pemilihan Sarkozi sebagai presiden Perancis. Namun begitu gerakan dibawah tanah
Lybia mateng dan ada kesempatan, Gaddafi diserang. PBB mengadakan embargo
senjata dan no-fly zone. Tetapi Nato menyerang dengan kapal terbang dan dengan
bom-bom sebesar 9000 (sembilan ribu) kilo. Secara terselubung Perancis mengirim
persenjataan dan anggauta-anggauta komando sebagai bantuan kepada pihak
pemberontak Lybia. Gaddafi bukan dijatuhkan pemberontak melainkan dijatuhkan
NATO. Perkembangan demikian telah membuat RRT dan Rusia merasa tertipu dan
sekarang was-was dalam menghadapi krisis di Suriah. Tujuan politik Barat jelas
ingin menyingkirkan pemerintah-pemerintah di Timur Tengah yang tidak
menguntungkan politik Barat. Sebaliknya negara yang menguntungkan Barat
dilindungi meskipun keadaan demokrasi dan HAMnya jelek. Tujuan menyerang Lybia
adalah menguasai minyaknya yang bermutu tinggi dan letaknya dekat Eropa. Bukan
soal demokrasi dan HAM.
- Di Arab Saudi wanita tidak berhak macam-macam. Hukuman potong
tangan untuk pencuri masih berlaku. Tetapi Arab Saudi menguntungkan A.S., maka
tidak mendapat serangan. Dalam perang saudara di Suriah, Arab Saudi dan Qatar
mengirim persenjataan pada pemberontak Suriah. Uang Arab Saudi dan Qatar juga
masuk Indonesia menyokong aliran-aliran yang kolot. Mudah-mudahan tidak terjadi
perkembangan seperti di Afghanistan.
Belakangan ny.Clinton di Monggolia melontarkan celah-celahan soal HAM
kearah RRT. Tadinya di Asia Tenggara ny. Clinton menyatakan berdiri dibelakang
negara-negara yang ada perselisihan dengan RRT mengenai pemilikan beberapa
pulau. Beliau meninggalkan kesan ingin membendung pertumbuhan kejayaan
Tiongkok dan mengadu-domba antara RRT dengan negara-negara tetangganya.
Sie Hok Tjwan
[Non-text portions of this message have been removed]