Pusat Perbelanjaan CapitaMalls Asia Lebarkan Sayap ke China Penulis : R. Adhi Kusumaputra | Selasa, 21 Agustus 2012 | 22:39 WIB insideretail.asia CapitaMalls Asia di Tianjin, China 1 SINGAPURA, KOMPAS.com - Pengembang pusat perbelanjaan dari Singapura, CapitaMalls Asia, makin melebarkan ekspansi ke China.
Di semua mal yang kami bangun di China, Anda tidak akan menemukan merek Louis Vuitton atau Gucci. -- Lim Beng Chee CEO CapitaMalls Asia, Lim Beng Chee seperti dikutip Channel NewsAsia Selasa (21/8/2012) merasa yakin perluasan pusat perbelanjaan di China tidak terpengaruh oleh menurunnya ekonomi global. "Tidak peduli seberapa buruk perekonomian dunia. Saya pikir kebutuhan berbelanja yang mendasar tetap perlu dilakukan. Di semua mal yang kami bangun di China, Anda tidak akan menemukan merek Louis Vuitton atau Gucci. Ini semua merek yang dasar. Jadi jika Anda melihat ini, meski semua mengalami krisis ekonomi, kami yakin jumlah mal kami terus bertambah," jelas Lim Beng Chee. CapitaMalls Asia membukukan kenaikan laba 40,7 persen pada kuartal kedua tahun ini menjadi 232 juta dollar Singapura. CapitaMalls Asia kini memiliki 58 pusat perbelanjaan di 36 kota di China. Lima belas di antaranya masih dalam pengembangan. Lim menjelaskan, ia mengeluarkan dana pembangunan senilai 1 miliar dollar AS yang disebutnya "CapitaMalls China Development Fund III" untuk digunakan melakukan rencana akuisisi. Beijing memiliki 20 juta penduduk. Singapura lima juta. Kami memiliki 19 pusat perbelanjaan di Singapura, sedangkan di Beijing, kami hanya punya lima mal. Jadi saya pikir bersama orang-orang yang sudah dilatih, kami seharusnya dapat berbuat lebih banyak di pasar ini. Kami punya mal di kota lapis pertama. Tapi kami tidak punya mal di Guangzhou dan Shenzhen. Kampi punya lima mal di Chengdu dan tiga di Chongqing. Semua kota ini memiliki lebih dari 10 juta penduduk. CapitaMalls Asia merencanakan membangun 19 mal di Singapura sampai tahun 2014. Beberapa di antaranya Star Vista Mall berlokasi di dekat Stasiun Buona Vista akan dibuka bulan September mendatang. CapitaMalls juga akan membuka mal baru Bedok Mall akhir tahun 2012 ini. Sumber : Channel News Asia Korporasi Produk Dalam Negeri Penulis : Abun Sanda | Selasa, 21 Agustus 2012 | 09:42 WIB KOMPAS/SRI REJEKI Di hari pertama Lebaran, Minggu (19/8/2012) ini, mal-mal dan pusat perbelanjaan lain tetap diserbu pengunjung. Utamanya di gerai makanan dan permainan anak-anak. JAKARTA, KOMPAS.com - Kalau sedang main ke mal-mal di kota-kota besar Indonesia, cobalah perhatikan dengan kritis toko, restoran, dan supermarket di sana! Berapakah produk asli Indonesia? Berapa toko pakaian, sepatu, tas, parfum, serta arloji dan aksesori lain yang menjual produk dalam negeri? Berapa restoran yang menyajikan masakan asli atau khas Indonesia? Jawabannya tidak lebih dari separuh. Restoran hanya beberapa yang benar-benar menyajikan masakan/makanan khas Indonesia, semisal sate padang, nasi padang, soto ambengan, soto kudus, sop konro, nasi liwet, soto betawi, bakso malang, aneka masakan ala Sunda dan sebagainya. Selebihnya adalah masakan/makanan dari mancanegara. Tengok pula kafe! Berapa banyak kafe yang benar-benar berciri Indonesia? Tidak lebih dari separuh. Umumnya, kafe yang hadir adalah waralaba dari Amerika Serikat, Perancis, Belanda, Hongkong, Singapura, dan Malaysia. Menyedihkan? Ya, memang menyedihkan. Sebagian di antara masyarakat kita malah lebih akrab dengan waralaba dari negara mungil seperti Singapura. Bayangkan, sebagian di antara kita terpesona oleh waralaba yang menawarkan roti bakar srikaya, teh tarik, dan telur setengah matang. Kita pun pasti bisa membikin yang serupa, tetapi agaknya publik lebih tertarik produk dari negeri jiran. Lalu roti bakar pakai selai, telur setengah matang, di warung-warung STMJ (susu, telur, madu, dan jahe), lewat begitu saja. Padahal tak kalah enak, hanya beda lokasi penyajian. Ini baru sebagian masalah. Hal yang tidak kalah menariknya adalah kalahnya produsen dalam negeri dengan produsen luar negeri. Namun, siapa yang bisa geram? Ini bagian dari mekanisme pasar, ini persoalan permintaan dan penawaran. Sepatu dari Inggris, misalnya, harganya tidak berselisih jauh dengan sepatu dalam negeri. Namun, sepatu itu awet, bisa dipakai bertahun-tahun. Dan, repotnya, banyak yang merasa sepatu seperti itu makin tua makin empuk dan nyaman dikenakan. Tidak heran kalau ia laku keras di pasaran. Tentu tidak semua sepatu luar negeri yang mahal bermutu baik. Banyak juga yang mutunya amburadul, tetapi itu tadi, banyak yang terpesona pada merek dan harga. Yang mahal bukan main dikategorikan berkualitas tinggi, padahal belum tentu. Sebaliknya, ada banyak merek dalam negeri yang mutunya keren, tetapi pemasarannya kalah telak dengan sepatu luar negeri. Akibatnya, ia tidak bisa berkompetisi ketat dengan sepatu-sepatu merek terkenal dari luar negeri. Di arena lain, pakaian, arloji, tas, perhiasan, parfum, dan aneka aksesori juga masih didominasi produk-produk luar negeri. Ada juga produk dalam negeri yang mencoba masuk dalam ruang kompetisi bisnis. Ada yang sukses, tetapi ada juga yang belum beruntung. Kita ambil patokan sukses saja. Alangkah baiknya kalau pengusaha mengambil teladan dari pengusaha yang sukses tersebut. Betapa asyiknya kalau pengusaha nasional berani naik ke panggung persaingan bisnis dengan menawarkan produk berkelas yang diterima publik. Indah nian persaingan itu, dan kita memberi respek kepada produsen dalam negeri yang berani bertarung dan memenangi pertarungan bisnis itu. Persaingan bisnis tidak hanya menekankan pada kualitas produk, penjualan, dan terobosan pemasaran, tetapi juga kecerdasan, percaya diri, dan nyali untuk bersaing di pentas bisnis yang penuh lika-liku. Pasar, sebagaimana sifatnya, selalu mengapresiasi siapa pun yang bisa meluncurkan produk berkualitas dan dipasarkan dengan cerdas, tahu posisi dan peluang pasar. Editor : Rusdi Amral [Non-text portions of this message have been removed]
