Perdamaian Gereja Masehi Injili dan Masjid Al-Muqarrabien Yuliana Lantipo | Rabu, 22 Agustus 2012 - 14:01:23 WIB
(SH/Yuliana Lantipo)Hubungan kedua umat beragama terjalin harmonis. JAKARTA – Sehari sebelum Idul Fitri 1433 H, suasana tampak sepi di jalanan Enggano, Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Khususnya, di depan dua tempat ibadah yang berbeda: Masjid Al-Muqarrabien dan Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST) Jemaat Manahain. Sekitar pukul 18.00, tidak seperti di kebanyakan tempat di Indonesia, Masjid Al-Muqarrabien seolah tak mengumandangkan azan magrib. Pengeras suara tak terdengar melantunkan suara apa-apa, padahal azan dari beberapa masjid di kejauhan terdengar jelas. Ternyata, azan magrib tetap dikumandangkan, namun tidak menggunakan pengeras suara seperti di kebanyakan masjid lain. Alasannya sangat sederhana: menghormati dan menghargai sesama mahkluk ciptaan Tuhan. “Mereka juga kalau ada kebaktian, kami kecilin suara azannya. Begitu sebaliknya. Ya, pokoknya saling menghargai,” kata H Muhammad Tawakal Ajiz, Ketua Yayasan Masjid Al-Muqarrabien kepada SH, Minggu (19/8) pagi. Pengurus yayasan sekaligus putra pendiri Masjid Al-Muqarrabien tersebut lebih lanjut menuturkan, kedua tempat ibadah yang hanya dipisahkan sebuah tembok tersebut didirikan orang tuanya, H Abdul Ajiz, bersama pendiri gereja yang juga merupakan rekan kerja orang tuanya. Komitmennya: didirikan dan dijalani sesuai ajaran yang tertuang dalam kitab suci masing-masing agama, Alquran dan Alkitab. “Sebetulnya, ajaran agama mulia, tidak ada kepentingan di belakangnya. Jelas, agama kita mengajarkan untuk saling menghormati antara sesama manusia, saling menyayangi, saling memberikan perlindungan, dan saling menjaga. Karena agama itu diturunkan Tuhan bukan untuk menindas. Tetapi, untuk membentuk akhlak orang-orang yang menganutnya,” ujar H Muh Tawakal Ajiz, usai salat Ied, di kantin masjid. Lebih lanjut, pria berdarah Kupang, NTT dan Banten, Jawa Barat tersebut menerangkan, hingga sekarang, hubungan antara kedua umat bertetangga tersebut terjalin harmonis, bahkan salah satu pihak kerap muncul sebagai sosok “kakak” bagi“adik” yang hampir teraniaya. Ia mengisahkan upaya penyerangan yang dilakukan kelompok lain terhadap Gereja Manahain pada 1998.“Tahun 1998, gereja nyaris dibakar massa, tetapi kami berjaga di depan, menghalau mereka. Alhamdulilah, hubungan harmonis dengan warga gereja, seperti adik-kakak,” tuturnya Haji yang berprofesi sebagai pengembang properti di Jabodetabek tersebut mengharapkan keberadaan kedua tempat ibadah tersebut dapat dijadikan sebagai simbol perdamaian antarumat beragama. Ia pun mengimbau seluruh umat untuk kembali mengandalkan ajaran agama masing-masing seperti yang terdapat dalam kitab suci Alquran. “Lakum dinukum wailiyadin. Artinya, bagi mu agama mu, bagiku agamaku. Beribadahlah menurut agama dan kepercayaan masing-masing,” ucapnya, didampingi adiknya, H Muh Akbar Ajiz. Aksi serupa dilakukan warga Jemaat Mahanain. Jadwal ibadah subuh yang biasanya dilangsungkan pada pukul 06.00 pagi pada Minggu (19/8) terpaksa ditiadakan. “Yang pukul 06.00 pagi ditiadakan, karena menghormati kegiatan ibadah salat Ied,”tutur Pendeta Takalumang Makangiras, yang ditemuai SH di Gereja GMIST, Sabtu (18/8) sore. Ibu Pendeta Makangiras mengaku, selama ini ia mendapati toleransi hidup antarumat yang kuat dan mendapati pencerminan arti kasih yang besar. “Kalau azan magrib tidak ada suara. Jadi, jemaat yang melakukan ibadah sore pukul 06.00 di gereja tidak terganggu,” ucapnya. Ia menambahkan, pihaknya pun sangat menghargai kegiatan ibadah yang dilakukan sehingga tidak jarang pihaknya menunda kegiatan di gereja apabila waktunya bersama.“Bahkan, halaman gereja juga dibuka untuk parkir kendaraan jemaah di Masjid. Atau sekadarnya, kami menyumbangkan air mineral dan melakukan bakti sosial bersama,” ujar pendeta yang memiliki sekitar 2.000 jemaat itu. Senada dengan penuturan H Muh Tawakal Ajiz, Pendeta mengimbau agar harmonisasi antara kedua agama tersebut dapat memberi sinar yang berpengharapan kepada banyak pihak di seluruh Indonesia. “Ini dua agama berbeda, tapi bisa mengaplikasikan kasih yang bersinar. Bukan ajaran yang salah, tapi perspektif orangnya, buktinya (hubungan) kami,” ujarnya. Berdasarkan penelusuran SH, aksi“mengalah” untuk kebaikan bersama tersebut telah berlangsung puluhan tahun sejak kedua tempat ibadah tersebut didirikan. Mula-mula, gereja didirikan pada 1956, sehingga pada 31 Oktober 2012 jemaat akan merayakan HUT gereja ke-56. Sementara itu, Masjid Al-Muqarrabien berdiri selang dua tahun, yakni 1958, sehingga tahun ini genap berusia 54 tahun. Luas Masjid Al-Muqarrabien bisa menampung 3.000 lebih jemaah, sementara Gereja Jemaat Manahain mampu menampung lebih dari 2.000 jemaat. Mengenai arti menghargai dan menghormati antara pemeluk agama yang berbeda, rasanya sangat tepat untuk dipelajari dari warga jemaat Mahanain, Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST) dan jemaah Masjid Al-Muqarrabien. Namun sayang, isu penggusuran Gereja GMIST telah terdengar sampai ke telinga jemaat gereja maupun jamaah Masjid. Akankah simbol perdamaian umat beragama ini dihancurkan pemerintah dengan dalih memberikan jalur hijau menuju Tanjung Priok? (Sinar Harapan) [Non-text portions of this message have been removed]
