Seorang Nenek Tak Sengaja Merusak Maha Karya Jumat, 24 Agustus 2012 | 07:44 WIB Centro de Estudios Borjanos Maha karya pelukis Spanyol Elias Garcia Martinez sebelum dan setelah berusaha diperbaiki seorang nenek. 1 KOMPAS.com - Mencoba memperbaiki lukisan, barang antik, atau benda seni lain yang dibeli di pasar loak adalah satu hal yang biasa. Namun menjadi luar biasa bila yang berusaha diperbaiki adalah lukisan abad 19 maha karya pelukis Spanyol Elias Garcia Martinez. Terlebih bila dilakukan sedikit asal-asalan.
Sayang, itulah yang dilakukan oleh seorang nenek, umat gereja Santuario de Misericodia di Borja, timur laut Spanyol. Hasil usahanya merestorasi lukisan ternyata menjadi "bencana" karena yang berusaha diperbaiki adalah lukisan "Ecce Homo" yang termasyhur. Hasil karyanya yang justru merusak karya asli baru disadari ketika cucu nenek tersebut menyumbangkan lukisan ke badan arsip lukisan keagamaan Centro de Estudios Borjano, juga di Borja. Saat petugas di badan itu mempelajari lukisan tersebut, mereka terkejut karena dibalik wajah yang kini tidak jelas itu, tersimpan wajah Yesus Kristus karya Martinez. Foto terakhir lukisan itu yang diambil tahun 2010 menunjukkan sapuan kuas rumit yang dibuat Martinez di sekitar wajah Yesus. Foto yang diambil bulan Juli itu memperlihatkan adanya noda-noda putih yang diduga dilakukan sang nenek untuk menghilangkan cat lama. Yang mengejutkan, hasil akhir dari pekerjaan nenek yang tak disebut namanya itu memperlihatkan lapisan cat tebal yangmenutupi detail penting lukisan. Walau disayangkan oleh pecinta seni, namun pejabat setempat menyatakan bahwa restorasi yang dilakukan nenek yang disebut berusia 80-an itu sekedar kecerobohan. Juan Maria Ojeda, anggota dewan kota untuk urusan seni mengatakan bahwa perempuan itu akhirnya menyerahkan diri dan mengaku melakukan hal-hal yang merusakkan lukisan. Disebutkan pula bahwa perempuan tersebut tidak bermaksud buruk, dan hanya berusaha membuat lukisan itu lebih baik. Kini para ahli sedang mempelajari kerusakan yang ditimbulkan oleh "niat baik" itu untuk memastikan apakah lukisan itu bisa diperbaiki. Meski tidak disebutkan jumlah kerugian materialnya, namun hal tersebut menjadi perhatian masyarakat karena nilai sentimental terhadap lukisan dan karena keluarga Martinez dikenal baik oleh masyarakat setempat. Nenek asal Sardinia rayakan ulang tahun ke-105 Kamis, 23 Agustus 2012 12:35 WIB | 993 Views Consolata Melis (AFP) Sardinia (ANTARA News) - Melis bersaudara merayakan ulang tahun kakak tertua mereka, Consolata, yang kini berusia 105 tahun. Consolata memiliki sembilan anak, 24 cucu, 25 cicit. Cicit Consolata pun telah memberinya tambahan tiga anggota keluarga. Consolata selama hidupnya telah melewati dua perang dunia, sembilan masa kempimpinan Paus, dan 50 perdana menteri Italia. Consolata merupakan anak tertua dari sembilan bersaudara. Melis bersaudara tercatat di Buku Rekor Dunia sebagai kakak-beradik tertua di dunia. Bila dijumlah, usia mereka mencapai 818 tahun. Saudara Consolata terdiri dari lima perempuan dan tiga laki-laki. Adiknya, Claudina akan berusia 100 tahun, diikuti oleh Maria (97), Antonino (93), Concetta (91), Adolfo (89), Vitalio (86), dan Fida Vitalia (81). Adik mereka yang termuda, Mafalda, kini berusia 78 tahun. Mereka semua tinggal di desa yang Perdasdefogu, bagian tenggara Pulau Sardinia. Daerah itu terkenal karena memiliki beberapa orang tertua di dunia. Melis bersaudara mengatakan rahasia panjang umur mereka adalah kerja keras, dikelilingi 150 cucu dan cicit mereka, dan sup minestrone, sup yang terdiri sari beberapa sayuran. "Kami menyantap makanan murni, artinya banyak minestrone tapi sedikit daging. Kami juga selalu bekerja," kata Alfonso Melis. Alfonso aktif menjalankan bar lokal miliknya dan menikmati waktunya di kebun, menanam kacang-kacangan, terung, cabai, dan kentang. Sarannya tentang bekerja dan makan sayuran didukung oleh Claudina. "Kau terus bekerja dan makan minestrone, kacang, dan kentang," katanya. Claudina menghadiri misa di gereja lokal setiap minggu. Melis bersaudara masuk rekor dunia setelah seorang teman keluarga mereka mengajukannya. Tim Buku Rekor Dunia menghabiskan tujuh tahun untuk memverifikasi klaim itu termasuk memeriksa sertifikat dan catatan keluarga. Usia panjang yang dimiliki Melis bersaudara dan orang-orang Sardinia lainnya dipengaruhi gen yang bagus, diet sehat, dan gaya hidup yang bebas tekanan. "Cucu saya punya mesin cuci, mesin pencuci piring, vacuum cleaner. Ketika saya mendengar mereka berkata 'Saya stres', saya tidak mengerti," katanya kepada Corriere della Sera. Luca Deiana, profesor biokimia klinis di University of Sassari di Sardinia melakukan studi terhadap 2.500 orang berusia seratus tahunan di pulau itu sejak 1996. Ia mengatakan usia panjang para penduduk lokal dipengaruhi bermacam faktor. "Di satu sisi dipengaruhi genetik, keturunan panjang umur. Tapi juga kemurahan hati pulai ini dan buah-buahannya, terutama pir dan buah prem," katanya. (nta) [Non-text portions of this message have been removed]
