Urbanisasi
Hampir 54 Persen Penduduk Indonesia Tinggal di Kota
Penulis : M Zaid Wahyudi | Kamis, 23 Agustus 2012 | 21:23 WIB
Kompas/Agus Susanto Warga pendatang mengikuti sidang dalam Operasi Yustisi 
Kependudukan di Kantor Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, 
Kamis (22/9/2011). Pemprov DKI melaksanakan OYK secara serentak di lima 
wilayah. Pendatang yang tidak memiliki KTP setempat didenda Rp 20 ribu. 

JAKARTA, KOMPAS.com- Tahun ini, jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di 
perkotaan diperkirakan telah mencapai 54 persen. Jika saat ini penduduk 
Indonesia sudah lebih dari 240 juta, artinya paling sedikit ada 129,6 juta 
orang yang menyesaki perkotaan.


"Makin banyak penduduk tinggal perkotaan berarti bertambah warga yang 
berpeluang menikmati infrastruktur yang baik," Sonny Harry B Harmadi.

Angka ini melambung tinggi dibandingkan hasil sensus penduduk 2010. Saat itu, 
sebanyak 49,8 persen dari 237,6 juta penduduk Indonesia tinggal di kota.

Ketua Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Sonny Harry B 
Harmadi, Kamis (23/8/2012) mengatakan, meningkatnya proporsi penduduk kota 
dipicu oleh urbanisasi dan perubahan desa menjadi kota.

Urbanisasi merupakan persoalan Indonesia yang terjadi sejak Orde Baru dan 
hingga kini belum menemukan solusinya. Sedangkan perubahan desa menjadi kota 
disebabkan banyak hal, mulai dari meningkatnya jumlah dan kepadatan penduduk, 
aktivitas ekonomi yang tak lagi bertumpu pada sektor pertanian, hingga 
membaiknya infrastruktur.

"Makin banyak penduduk perkotaan berarti makin banyak penduduk yang berpeluang 
menikmati infrastruktur yang baik," katanya. Kesejahteraan masyarakat pun 
meningkat karena mereka yang di kota memiliki peluang ekonomi, pendidikan dan 
kesehatan yang lebih baik dibanding yang tinggal di desa. Namun, banyak 
pemerintah kota yang tak siap dengan perkembangan kotanya. Kurangnya kesiapan 
sumberdaya manusia dan ketersediaan infrastruktur yang memadai membuat 
banyaknya jumlah penduduk kota justru menjadi tekanan pembangunan.

Menurut Sonny, perkembangan kota-kota di Indonesia yang dibarengi dengan 
peningkatan jumlah penduduk terbukti meningkatkan kualitas hidup masyarakat. 
Tetapi, kondisi ini tidak terjadi di Jakarta karena perkembangan Jakarta sudah 
mencapai titik jenuh.

"Sulitnya mengakses lahan permukiman, air bersih, hingga lingkungan yang baik 
membuat produktivitas warga Jakarta justru turun," katanya.

Bertambahnya penduduk kota sebenarnya bisa memberi dampak positif bagi kota 
maupun bagi daerah tempat asal mereka. Namun, banyak pemerintah kota tidak 
mengantisipasi hal itu dengan infrastruktur yang memadai sehingga dampak 
positif dari makin besarnya jumlah penduduk justru menjadi bencana.

Urbanisasi merupakan hal umum yang terjadi di negara-negara berkembang di Asia 
maupun Amerika Selatan. Namun urbanisasi yang terjadi di Indonesia lebih 
komplek karena melibatkan kultur yang lebih beragam. Ini menuntut kesiapan 
pemerintah kota yang lebih baik karena penanganan urbanisasi tidak hanya 
melibatkan aspek ekonomi semata, tapi juga sosial dan budaya. 

Editor :
Agnes Swetta Pandia

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke