http://www.lampungpost.com/index.php/buras/46444-merosotnya-daya-saing.html
      Jumat, 07 September 2012 00:00 

      Merosotnya Daya Saing! 

     
      "DAYA saing Indonesia dalam Competitiveness Index, World Economic Forum 
(WEF), tahun ini merosot empat tingkat di posisi 50, dari tahun lalu di 
peringkat 46!" ujar Umar. "Itu pertanda bukan saja usaha pemerintah 
meningkatkan daya saing global gagal, bahkan kondisi yang ada juga memburuk!" 

      "Merosotnya daya saing itu terutama akibat kian lemahnya layanan 
birokrasi pada dunia bisnis, cerminan gagalnya reformasi birokrasi!" timpal 
Amir. "Kegagalan itu akibat jajaran pemerintah bukannya melayani dunia bisnis, 
melainkan kebutuhan birokrasi untuk dilayani dunia bisnis yang justru kian 
intens! Setiap geliat birokrasi bukan guna meningkatkan pelayanan pada dunia 
usaha, malah kewajiban pelayanan oleh birokrasi yang ditimpakan sebagai beban 
dunia usaha!"


      "Contohnya kewajiban birokrasi membangun jalan atau infrastruktur lainnya 
yang dibebankan ke dunia usaha!" tegas Umar. "Padahal, dunia usaha telah 
membayar pajak dalam setiap kegiatannya—dari setiap barang yang dibeli untuk 
operasional dan produksinya kena PPN yang dikutip produsen barangnya sebagai 
Wapu, setiap gerak operasional per dari upah karyawan sampai uang makan kena 
pajak, lalu setiap potong produksi yang dijualnya harus dilunasi PPN-nya 10%, 
sampai setiap sen labanya harus dilunasi pajaknya! Sisa laba yang sudah lunas 
pajak itu masih harus dikeluarkan lagi 2,5% untuk CSR, yang juga mau diatur 
lagi oleh birokrat dan politisi distribusinya, tanpa peduli tujuan CSR 
menjembatani perusahaan dengan warga sekitar lokasi usahanya agar tak mengulang 
kondisi enklave dari lingkungan sosialnya seperti terjadi di zaman penjajahan!"


      "Lucunya hasil pajak dunia bisnis yang lewat APBN dikembalikan ke daerah 
dalam APBD yang seharusnya untuk membangun infrastruktur dan kesejahteraan 
rakyat, sebagian besar hanya dinikmati birokrasi dan politisi, sedang untuk 
membangun infrastruktur ditekan perusahaan agar melakukannya, juga untuk 
kesejahteraan rakyat mau diusahakan dari CSR, yang cuma 2,5% dari laba 
perusahaan setelah pajak!" timpal Amir. "Itu baru satu sisi dari merosotnya 
daya saing investasi kita di level global! Di sisi lain—faktor keamanan—malah 
lebih parah, lihat saja tambak udang AWS yang terbesar di Asia jadi ngangkrak, 
atau hutan tanaman industri (HTI) di Register 45 berubah jadi bumi perkemahan 
ribuan perambah! Siapa berani investasi?" ***
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke