http://www.indopos.co.id/index.php/berita-indo-rewiew/27490-ngruki-disebut-cetak-teroris.html
Ngruki Disebut Cetak Teroris
Sunday, 09 September 2012 15:26
Follow
JAKARTA-Ketika aksi terorisme muncul di tengah kehidupan masyarakat, sejumlah
kalangan termasuk pemerintah, selalu mengaitkan benih pembuat teror itu dengan
Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah.
Saat mencuat penembakan polisi di Solo, misalnya, Kepala Badan Nasional
Penanggulangan Teroris (BNPT) Ansyaad Mbai mengatakan, pelaku teror di Solo
bukan pemain baru. Dia juga menyebut-nyebut Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki
pimpinan ustad Abu Bakar Baasyir. ’’Itu dari Hizbah, Solo. Kemudian juga masuk
Mujahidin Jakarta. Soal nama organisasi itu tidak terlalu penting,’’ kata
Ansyaad seusai menghadiri pelantikan duta besar di Istana Negara, (3/9).
Dia lantas membeberkan sejumlah penangkapan teroris. Antara lain di Bali
sebanyak lima orang, penangkapan Abu Umar, penangkapan di Medan, Palembang, dan
Bandung. ’’Mereka punya dana miliaran. Ratusan juta sudah sampai ke Poso untuk
pelatihan,’’ bebernya.
Menurutnya, puluhan orang sudah dilatih, di antaranya yang sudah tertangkap,
yakni Naim dan Mujid. Ansyaad menyebut mereka diketahui sudah merangkai bom dan
menyiapkan penyerangan untuk 17 Agustus di Solo, Poso, dan Jakarta. ’’Di
Jakarta ketat, di Solo dia main. Dan tiga-tiganya mereka Ngruki. Ditangkap itu
baru keluar dari Ngruki,’’ katanya.
Ansyaad mengatakan, pergerakan teroris tersebut sudah lebih dulu diikuti selama
beberapa bulan. ’’Jaringannya itu-itu juga. Komandonya tetap,’’ sambungnya.
Sementara itu, Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Mukmin Ngruki memastikan dua
terduga teroris yang tewas dalam penggerebekan Densus 88 di Tipes, Solo,
jebolan ponpes setempat. Namun, pengurus ponpes menolak dikaitkan dengan aksi
yang dilakukan mantan anak asuhnya itu.
’’Dari informasi sedikit di media massa, kami mencari data dan memang Farhan
serta Muchsin ada (di daftar santri). Tapi keduanya jebolan karena belum
memenuhi persyaratan (lulus),’’ ungkap Direktur Ponpes Al-Mukmin Ngruki Ustaz
Wahyuddin.
’’Farhan keluar dari ponpes 2008. Sementara Muchsin dua tahun lalu. Jadi
keduanya sebenarnya tidak pernah menimba ilmu dalam kurun waktu yang sama,
meski bisa dikatakan satu angkatan,’’ terang dia.
Meski keduanya jebolan ponpes pimpinannya, Wahyuddin menegaskan Al-Mukmin
Ngruki tidak terkait dengan tindakan Farhan dan Muchsin. Pasalnya, ponpes tidak
lagi bertanggung jawab atas segala aktivitas alumninya. Selain itu, tindakan
yang dituduhkan dilakukan keduanya hanya merugikan Al-Mukmin, baik secara
kelembagaan maupun keumatan. Namun dia merasa perlu meminta maaf atas kejadian
yang ditimbulkan mereka.
Ngruki Membantah
Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Saleh Daulay mengatakan, publik tak bisa
terus-menerus menyalahkan Ngruki dan menggeneralisasi semua lulusan Ngruki
sebagai jaringan teroris.
’’Ngruki selalu dijadikan landasan ketika ada teror. Jika memang lembaga itu
menghasilkan terorisme, kenapa tidak ditutup saja Ngruki, kenapa pemerintah mau
terus memelihara, kalau memang dianggap berbahaya,’’ ujar Saleh dalam diskusi
Teror Tak Kunjung Usai di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (8/9).
Saleh mempertanyakan aparat, pemerintah maupun BNPT yang mengaku telah memiliki
data identitas orang yang diduga terkait teroris. Jika memang memiliki, kata
dia, kenapa tidak ditangkap dan diamankan. Pemerintah dan aparat justru baru
bertindak setelah ada aksi teror.
’’Aparat dan sejumlah kalangan selalu mengambinghitamkan Ngruki, ketika mereka
tidak bisa menyelesaikan masalah terorisme. Banyak aliran radikal, tapi kenapa
Ngruki yang selalu dituju.BNPT punya data lengkap, kenapa tidak diantisipasi
saja,’’ sambungnya.
Sementara itu, menurut Peneliti Gerakan Islam Indonesia, Edy Sudarjat, lulusan
pesantren di Ngruki kebanyakan melakukan jihad sesuai ajaran Islam di
Afghanistan dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Jadi salah besar jika
beberapa kalangan selalu menyudutkan bahwa mereka adalah benih teroris.
’’Sudah pernah ada penelitian ke ke sana dan tidak ajaran yang menyesatkan. Ada
yang pulang dari Afghanistan dan mereka berjualan sepatu, baju dan buka warung,
jadi tidak semua lulusan Ngruki seperti itu,’’ paparnya.
Menurutnya, Pemerintah dan aparat perlu berkaca diri, mencari tahu penyebab
adanya gerakan radikal yang diselipi anarkisme tersebut. Ngruki, tuturnya, tak
bisa terus menjadi kambinghitam dalam masalah terorisme.
’’Jika ada yang lulusan dari Ngruki keluar dan menjadi teroris, bukan berarti
di Ngruki mereka belajar menjadi teroris. Jika di luar ada lulusan yang berbuat
jahat, itu bukan lagi tanggung jawab Ngruki,’’ pungkasnya.
Diduga Bom Meledak
Sementara itu, tadi malam, pukul 21.50, bom diduga meledak di Jalan Nusantara,
Beji, Depok, Jawa Barat. Akibatnya, satu lupa parah, dan dua luka ringan.
’’Iya, ada ledakan. Tidak ada korban jiwa. Namun kami belum bisa menyimpulkan
itu bom atau bukan karena masih diselidiki,’’ kata Kapolsek Beji, Depok, AKP
Agus Widodo kepada wartawan tadi malam.
Atap rumah yang diketahui Yayasan Pondok Yatim Piatu Bidara itu hancur
berantakan. Atap rumah yang tersusun dari seng berhamburan di sekitar rumah.
Kaca jendela rumah itu pecah dan pintunya rusak. Kondisi rumah juga gelap
gulita. Saat ini rumah yang diketahui sebagai Yayasan Pondok Yatim Piatu Bidara
itu dipasangi police line. Tim Gegana saat ini sedang melakukan penanganan.
Hingga berita ini diturunkan, petugas masih menyelidiki ledakan yang diduga bom
tersebut. (dfi/flo/jpn
[Non-text portions of this message have been removed]