Jangankan di Indonesia, di negeri-negeri barat yang paling majupun, para orang tua (lansia???) sekarang sudah dianggap sampah yang belum dibakar. Kaum ini di tempat saya disebut "vergrijsing" (ubanan alias tua bangka) yang dianggaap sebagai kaum benalu yang cuma bisa makan tapi tidak produktif dan tidak berguna. Dalam setiap politik PENGHEMATAN Pemerintah, termasuk sekarang in, kaum lemah ekonomi ini selalu jadi sasaran politik penghematan Pemerintah: layanan kesehatan dikurangi atau dihilangkan sama sekali, alat-alat penopang ketuaan yang dulu gratis seperti korsi roda, scooter roda tiga, tongkat dll, sekarang harus beli sendiri atau menyewa; Yang dulu dipelihara di rumah jompo sekarang dipulangkan ke ke keluarganya yang bila tidak punya keluarga lantas dikirim ke rumah jompo yang lebih murah dengan layanan yang ... tak usahlah saya sebutkan(barang murah selamanya jelek).
Ada berita yang saya baca, seorang veteran perang dunia ke dua yang sudah teramat jompo dan berjasa harus pulang ke keluarganya karena rumah jompo yang selama ini merawatnya tidak lagi mendapat subsidi dari Pemerintah dan kelurganya mau tidak mau harus menerimanya yang itu bagi mentalitas Barat sungguh satu kecelakaan dalam keluarga. Gejala semakin bertambahnya jumlah kaum jompo(yang berarti usia manusia bertambah panjang saja) disikapi sebagai beban Pemerintah yang sudah tak lagi bisa ditolerir Pemerintah seolah oleh bilang: "Mau umur panjang silahkan saja asal dengan ongkos sendiri dan tanggung jawab keluarga, Pemerintah tidak punya tanggung jawab lagi:" KAS NEGARA KOSONG", resesi ekonomi sudah mencapai titik optimal. Yah, "kas negara kosong" ujar sang Perdana Mentri yang dijawab langsung muka tatap muka oleh Gert Wilders(Ketua PVV=Partai anti orang asing): "Kamu menghamburkan uang sebabnyak 300 milyard euro untuk kasi Griekenland dan Italy yang kamu ambil dari setiap kantong penduduk Belanda". Barusan memang kabinet Belanda jatuh karena soal penghematan yang ditentang Wilders. Kabinet yang manapun sudah tidak mempan dilawan dengan demonstrasi-demonstrasi yang sehebat apapun. Kabinet yang akan datang akan lebih kejam lagi politik penghematannya: "Kas negara kosong", silahkan ngamuk dan teriak-teriak di tengah jalan, hal itu diizinkan oleh demokrasi Neoliberal. Satu Gert Wilders di Parlemen bisa menjatuhkan kabinet, tapi 15 juta rakyat Belanda, dengan demonstrasi saja tidak bisa merobah politik Pemerintah. Hidup demokrasi! ASAHAN. ----- Original Message ----- Nenek Uzur "Dibuang" di Kebun Pisang Nenek Uzur "Dibuang" di Kebun Pisang Penulis : Kontributor Bone, Abdul Haq | Kamis, 30 Agustus 2012 | 14:50 WIB KOMPAS.com/ ABDUL HAQ Di gubuk reot inilah nenek Pawennai asal Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan menghabiskan sisa hidupnya, Kamis (30/8/2012). WAJO, KOMPAS.com — Menyaksikan kelucuan dan kegirangan cucu dan cicit merupakan dambaan bagi semua nenek. Namun, hal ini tak berlaku bagi Nenek Pawennai yang telah uzur. Di usianya yang sudah melebihi 100 tahun, Pawennai harus tinggal di gubuk kecil di tengah kebun pisang yang terletak di belakang Kantor Desa Patila, Kecamatan Pammana, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Nenek Pawennai yang memiliki empat anak dan belasan cucu hingga cicit dan buyut ini hanya tinggal bersama anak bungsunya bernama Naima (65) di sebuah gubuk kecil berukuran 3 x 4 meter. Di gubuk inilah Nenek Pawennai mendapatkan perawatan seadanya lantaran indera penglihatan dan pendengarannya tak lagi berfungsi akibat dimakan usia. Meski demkian, Nenek Pawennai tetap bisa merawat dirinya dengan mandi air hangat setiap hari. Untuk makan sehari-hari, Nenek Pawennai terkadang harus mengharapkan belas kasihan para penduduk yang tinggal tak jauh dari kebun pisang yang ditempatinya. "Anaknya saja itu yang bungsu yang rawat karena dia kan perawan tua, jadi tidak ada suaminya. Jadi dia yang rawat mamanya. Biasa kita yang bawakan nasi sama biskuit," ujar Rosmiati, warga setempat. Kamis (30/8/2012). Saat ditanyakan ke mana semua anak dan cucunya, Naima menyatakan bahwa semuanya ada, dan terkadang mereka datang menengok. "Ada yang tinggal di sana, dan ada juga yang di Sidrap. Mereka sekali-sekali saja datang membesuk," ungkap Naima. Editor : Farid Assifa
