"Kasus Century Yang Tak Kunjung Selesai"

by @STNatanegara

tidak ditetapkannya Andi Nurpati sebagai tersangka pemalsuan surat MK juga 
melawan akal sehat.. #tanyakenapa

belum ditetapkannya tersangka skandal Bank Century oleh KPK juga melawan akal 
sehat... #tanyakenapa

mengapa setelah hampir setahun KPK berkutat mengusut kasus Century tak kunjung 
menetapkan seorang pun tersangka? #tanyakenapa

sepertinya memang hukum didesain mandul sehingga tidak berdaya menghadapi 
kekuatan di luar dirinya alias faktor non hukum..

panglima tertinggi yang bersumpah untuk memimpin pemberantasan korupsi
akhirnya menimang dengan bimbang pedangnya sendiri... #tanyakenapa

pengusutan kasus Bank Century hanya berhasil apabila sang panglima
memutuskan dan organisasi mendukung penuh tanpa ”masuk angin”, jika
tidakdemikian, sampai kiamat pun ”perbuatan melawan hukum” tidak akan
ditemukan dalam kasus dana talangan Bank Century

Ketua KKSK
sekaligus mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan tegas menyatakan
hanya bertanggung jawab atas dana sebesar RP632 milyar..yang telah
disetujui, dan bukan pada Rp6,7 triliun yang akhirnya digelontorkan,
sepertinya SM menyadari ada skandal di BI terkait Century,
ketidakberesan yang terjadi terkait dengan praktek korupsi yang
dilakukan oleh BI sesungguhnya sudah berlangsung lama sejak dulu, kali
ini kita gosipin lagi tentang Skandal BI yang sedang ramai di
Australia.. tapi adem ayem di Indonesia..

jangan heran jika KPK
 tak mampu mengusut century, jika dalam kasus ini saja juga tak mampu
mengusutnya, kasus penyuapan terhadap pejabat BI yang dilakukan oleh RBA
 (Reserve Bank of Australia) terkait dg pemenangan tender proyek
pencetakan uang pecahan Rp100 ribu senilai 500 juta pada tahun 1999
semasa Syahril Sabirin menjadi Gubernur BI

disaat penyidikan
oleh pihak Australia sendiri maju pesat, KPK masih berkutat dengan
permasalahan waktu terjadinya kasus, KPK beralasan sedang mengkaji
apakah terjadi sebelum atau sesudah diundangkannya UU anti korupsi, The
Age mengungkapkan bahwa RBA melalui Radius Christanto, telah melakukan
penyuapan sebesar $US 1,3 juta kpd dua pejabat BI.

RBA yang
merupakan bank sentral Australia sekaligus otoritas pencetakan uang di
negara Kanguru Australia, memiliki unit usaha pencetakan uang yaitu
Securency International and Note Printing Australia seperti Peruri di
Indonesia, seorang mantan pegawai Securency/NPA menyatakan bahwa dia
diminta untuk membayar suap dan menyediakan wanita penghibur, bagi
pejabat bank sentral negara2 lain termasuk yang diterima oleh para
pejabat Bank Indonesia.. sang mediator, Radius Christanto, menerima
komisi sebesar $US 3.65 juta dari Securency/NPA melalui rekening banknya
 yg berada di Singapura, melalui Radius, terungkap indikasi adanya
pejabat BI yang berinisial “S” dan “M” yang menerima $US 1,3 juta dari
RBA, kasus ini berawal pada tahun 1999, Bank Indonesia (BI) memutuskan
untuk mencetak uang plastik Rp100.000 di Australia,  pencetakan uang di
Australia sempat memunculkan protes dari Peruri yg mengaku sanggup
mencetak dan menerima order dari BI. dari dokumen rahasia Note Printing
Australia yg dikirim pejabat senior BI, pejabat BI menerima suap hingga
US$ 1,3 juta, utk memenangkan kontrak pencetakan uang 500 juta lembar
pecahan Rp100.000 tahun 1999 senilai lebih dari US$50 juta utk RBA.
seorang pengusaha Indonesia yang membantu perusahaan asal Australia
memenangkan kontrak, RC mendapatkan imbalan US$3,6 juta. ketika itu BI
dinahkodai oleh Syahril Sabirin, di bawahnya ada H Joseph Susmanto,
Mardiyo, Made Sudana, Christian Sudirja, Radius Christanto minta agar
Securency memberi komisi kepada “S” dan “M” masing2 $1 juta dan $300
ribu, total $1,3 juta, ramai diberitakan bahwa media Australia
berspekulasi bahwa “S” adalah Herman Joseph Susmanto dan “M” adalah
Mardiyo

sama seperti broker alutsista yang memiliki banyak
perusahaan, Radius juga memiliki puluhan perusahaan abal abal, Radius
Christanto dikabarkan telah disergap polisi Australia di Singapura Juni
2012 lalu dan luput dari pemberitaan media, tapi dilepas setelah
menyerahkan passport, beserta uang jaminan sebesar $1,6 juta, dan wajib
lapor 2x sehari ke polisi

Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution, baru berencana melayangkan surat ke 
pemerintah Australia guna meminta keterangan

banyak pejabat BI tersandung korupsi. Sjahril Sabirin sendiri tersandung kasus 
cessie (hak tagih) Bank Bali sebesar Rp 546 M

Sindikat mafia BI harus dibongkar karena faktanya kasus penyelewengan
dana, suap, dan peredaran uang ilegal terus bertambah, dalam satu
dasawarsa terakhir, semua mantan Gubernur BI tersandung skandal
keuangan. beberapa deputinya juga terlibat, anehnya jika penyidik telah
menemukan bukti adanya suap, hasil pemeriksaan BPK justru sebaliknya..
kasus tersebut diduga melibatkan pekerja seks komersial (PSK) sebagai
bagian dari suap seperti ramai diberitakan 2 thn lalu, sebenarnya BI
"tertipu" sebab uang pecahan hasil cetakan dari Australia itu tidak
awet, mudah rusak, dan gampang dipalsukan,  saat itu diklaim keawetannya
 bisa 2,5 kali dari kertas biasa, tapi faktanya tidak sesuai presentasi
di awal tender,  tiga pejabat tinggi Bank Indonesia diduga sempat
meminta kenaikan ‘tarif’ suap untuk kemenangan kontrak RBA

biasanya BI mencetak uang rupiah dalam nominal besar di Prancis (Thomas
De La Rue),  ketika dialihkan ke Australia lantas muncul isu suap ini.
sedangkan sebelumnya di Prancis tidak terdengar skandal suap, bisa jadi
isu skandal suap ini sengaja diembuskan oleh percetakan uang Prancis
agar kembali mencetak uangnya ke Prancis atau jangan2 selama pencetakan
uang di Prancis sudah ada suap yang lebih besar lagi, namun tidak pernah
 terungkap?  bahkan ada isu bahwa uang itu ada yang hilang ditengah
perjalanan, sebab ada yang bilang digunakan oleh antek2 orba untuk
membangun kekuatan bisnisnya hingga sekarang

demikian tentang skandal suap pejabat BI, sekedar mengingatkan bahwa KPK belum 
berbuat apa2 pada skandal memalukan ini..

Baca Juga:
"Kilas Balik Skandal Century Bank" ==> http://chirpstory.com/li/16667

Kirim email ke