Tanggapan saya atas tanggapan dari seorang pembaca yang tidak saya sebut namanya(melalui japri)
----- Original Message ----- From: ASAHAN Perjuangan Bersenjata bisa dilakukan di-mana-mana, di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Perjuta adalah bagian penting dari revolusi rakyat revolusioner bersenjata untuk mencapai kemenangan ahir.Tapi siapa yang akan menang antara rakyat revolusioner dengan musuh rakyat, itu tergantung di pihak mana yang paling banyak mendapat sokongan rakyat terbanyak lainnya. Untuk mendapat sokongan terbanyak dari golongaa rakyat lainnya harus juga mengadakan perjuangan politik yang berintikan prndidikan politik bagi rakyat, perlawanan terorganisasi rakyat terhadap penguasa reaksioner dan pimpinan dari sebuah Partai Pelopor Rakyat. Sekarang Indonesia belum mempunyai semua itu dan harus dimulai dari nol: mendekati rakyat, merangkul rakyat dan hidup bersama rakyat untuk kemudian mengorganisasi mereka menuju Perjuangan Politik hadap berhadapan dengan musuh dengan syarat harus ada pasukan bela diri rakyat (bersenjata). Siapa yang akan melakukan semua itu? Semua kaum dan orang-orang revolusiner yang berpihak pada rakyat dan bukan dan juga tidak boleh dilakukan oleh seorang penganut Sosial Demokrat (Sosdem) yang tidak bertujuan membebaskan rakyat secara sepenuhnya dan selalu mendekati kaum kapitalis yang sedang berkuasa dan rakyat mudah terkecoh dan tertipu oleh program-program reformis mereka yang selalu berkapitulasi dengan para penguasa Pemerintah borjuis kapitalis monopoli. Program politik kaum Sosdem maupun Partainya tidak akan pernah membebaskan rakyat, tidak akan pernah mendatangkan kemakmuran bagi rakyat. Rakyat-rakyat di negara-negara Sosdem di Eropah Barat yang temaju sekalipun, rakyat biasa hanya bisa hidup tidak mati kelaparan, tidak mati kedinginan asalkan mereka berhemat secara ketat dan bekerja keras seumur hidup termasuk juga saya sekarang ini... bebas dari mati kelaparan dan kedinginan dan tidak lebih dari itu dan untuk selama-lamanya begitu saja dan memang begitu saja tujuan semua Partai Sodem yang mengharamkan semua revolusi dan perjuangan keras. Kehancuran PKI dan kemenangaan suharto hanya menyisakan begitu banyak PKI kapok, PKI frustrasi, PKI sinis, PKI kapitulasi dan bahkan PKI reaksioner. Kemerosotan mereka lalu ditampung oleh Partai-Partai Sosdem yang lalu berilusi besar dengan "demokrasi" Neoliberal di Indonesia sekarang ini dan telah menjadi penghalang revolusi yang paling sinis dan juga turut menularkan virus Parlemenisme dan kolaborasi dengan Pemerintah borjuis monopoli sekarang ini. Setiap kaum revolusioner Indoneia yang berpihak pada rakyat akan berhadapan dengan mereka-mereka ini yang akan mempersulit persatuan revolusioner yang bahkan hingga perpecahan. Revolusi dilakukan oleh rakyat, dibiayai oleh rakyat. Tapi "revolusi"kaum Sosdem diongkosi oleh kapitalis borjuis Neoliberal dan kaum Imperialis dalam bentuk bermacam sogokan dan bantuan di belakang layar karnanya untuk kaum Sosdem revolusi itu teramat mahal biayayanya, termasuk biaya "Pemilu". Tapi kaum revolusioner yang berpihak pada rakyat, melakukannya dengan gratis, tanpa bayar, karena semuanya dibiayai oleh rakyat, karena mereka dipelihara oleh rakyat, karena mereka mengabdi rakyat, makan gaji pada rakyat, mengabdi sepenuh hati, sepenuh tenaga kepada rakyat. Ini bukan Utopia tapi kenyataan sejarah yang saya saksikan sendiri di negeri-negeri sahabat seperti Tiongkok dan Vietnam di masa lalu. Dalam tahap awal, musuh selalu kuat dan rakyat berada di pihak yang lemah. Tapi itu tidak berarti kalau ingin berevolusi harus dulu menunggu musuh menjadi lemah dan rakyat menjadi kuat.Semua itu tidak akan terjadi bila di pihak rakyat tidak menciptakan agar dirinya menjadi kuat. Kekuatan rakyuat tidak datang dari langit seperti juga melemahnya musuh tidak datang dari bumi. Semua tergantung dari dua belah pihak bagaimana setiap pihak menciptakan dirinya. Semua orang "revolusioner"pemalas selalu merasa kalah sebelum berlaga, sudah tujuh keliling sebelum berhadapan dengan musuh, bisanya cuma sinis dan mencibir.Cuek-kan mereka! Salam, ASAHAN.
