Ref: Kalau anggaran kunjungan DPR sebesar kementrian, baru kalian boleh 
mempersoalkannya, tetapi karena tidak sebesar, maka .harap dianggap sepi! 
hehehehe

http://us.politik.news.viva.co.id/news/read/350546--anggaran-kunker-dpr-tak-sebesar-kementerian-

Rabu, 12 September 2012 | 04:59 WIB
POLITIK
“Anggaran Kunjungan DPR Tak Sebesar Kementerian”
Istirahat berwisata setelah seharian bekerja, menurut Marzuki wajar.
Selasa, 11 September 2012, 15:40 Anggi Kusumadewi, Nur Eka Sukmawati 
 
Ketua DPR Marzuki Alie. (Antara/ Andika Wahyu)

VIVAnews – Ketua DPR Marzuki Alie menyatakan, anggaran kunjungan kerja DPR ke 
luar negeri sesungguhnya tidak sebesar anggaran serupa di 
kementerian-kementerian negara.

“Anggaran DPR berapa sih? Hanya 0,000 sekian persen dari APBN. Masih banyak 
anggaran perjalanan ke luar negeri di kementerian sampai berpuluh miliar. DPR 
hanya sekian miliar kok direpotin? Ini kan untuk rakyat,” kata Marzuki di 
Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa 11 September 2012.

Marzuki menyatakan hal itu terkait sorotan publik terhadap sejumlah kunjungan 
kerja ke luar negeri yang dilakukan para anggota dewan. Lebih lanjut, Marzuki 
mengatakan moratorium atau penghentian sementara kunker ke luar negeri 
sesungguhnya sudah dilaksanakan.

Saat ini, menurutnya, kunjungan kerja yang diperbolehkan hanya yang terkait 
dengan pembahasan Rancangan Undang Undang. Di luar itu, tak akan diberi izin. 
“Moratorium sudah kami laksanakan, tapi terkait Undang Undang tetap dilakukan. 
Namun terkait pengawasan tidak ada lagi,” kata Marzuki.

Politisi Demokrat itu mengatakan, hasil kunjungan kerja anggota DPR ke luar 
negeri pun nantinya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat berupa UU yang 
bakal disahkan DPR untuk kepentingan rakyat.

“Rakyat merasakan hasil kerja DPR dari dilaksanakannya UU. Kalau UU tidak 
dilaksanakan, berarti rakyat tidak merasakan hasil kerja DPR. Fungsi DPR hanya 
membuat kebijakan,” jelas Marzuki.

Ia juga meminta masyarakat maklum apabila ada anggota DPR yang memanfaatkan 
waktu luangnya selama di luar negeri untuk berwisata. “Masak orang tidak boleh 
istirahat satu hari setelah kerja. Ada sisa satu jam, masak tidak boleh jalan, 
tidak boleh beli oleh-oleh. Ini kan tidak manusiawi, seolah-olah orang dituntut 
harus kerja terus 24 jam,” ujar Marzuki.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke