Ini ucapan dari Budayawan Betawi yang benar2 menyejukkan hati.
Sama seperti ciri orang Betawi yang kalem. Tidak arogan, keras kepala dan sok 
tau seperti yang sekarang memimpin.

Referensi Pak Ridwan Saidi juga tepat. Jakarta sudah beberapa kali dipimpin 
oleh Gubernur yang non betawi dan non Muslim. Buktinya tidak ada masalah. 
Jakarta (Betawi) kan masih di wilayah NKRI yang bukan Negara Muslim - tapi 
memang benar mayoritas penduduknya Muslim. 

So, terbukti sudah ucapan para pemimpin yang memplesetkan ayat2 agama - bahwa 
haram kalau pemimpin nya bukan Muslim, karena dari sejarah kita sudah belajar 
bahwa Jakarta sudah pernah dipimpin oleh non muslim.
-----------------------------

Budayawan Betawi Ingatkan Sejarah Pemimpin DKI dari Berbagai Kalangan
Edward Febriyatri Kusuma - detikNews

Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda
Jakarta Budayawan Betawi, Ridwan Saidi, mengingatkan bahwa pemimpin DKI dari 
masa ke masa datang dari berbagai suku, agama, ras dan antargolongan. Ridwan 
juga memaparkan bahwa kepemimpinan Jakarta pada awal-awal dibangun adalah 
kepemimpinan yang tenang.

"Yang tidak disadari orang Jakarta itu gaya kepemimpinan kota Jakarta itu cool 
dan tenang. Zaman dulu itu kota Jakarta punya DPRS. Itu yang dipimpin oleh 
Suwiryo (Walikota DKI Jakarta pertama, sebelum berubah menjadi gubernur-red), 
dengan SK Gubernur 35. Beliau meletakkan basis kelembagaan pemerintaah daerah 
antara lain dengan DPRS," kata Ridwan Saidi.

Hal itu dikatakan Ridwan dalam acara diskusi terbuka dan persiapan apel siaga 
pembekalan 3.000 relawan Pos Perjuangan Rakyat (Pospera), Jl Diponegoro 58, 
Jakarta Pusat, Minggu(9/9/2012). Pospera merupakan pendukung Jokowi-Ahok.

Ridwan juga mencontohkan Syamsurijal yang pernah memimpin Jakarta, adalah 
gubernur Sulawesi Selatan.

"Syamsurijal, yang memimpin (membuka kawasan-red) Cempaka Putih kalem dan 
tenang sampai tahun 1953. Dia itu gubernur Sulawesi Selatan," ujarnya.

Tak lupa Ridwan mengingatkan bahwa ada gubernur DKI Jakarta yang beragama 
Kristen, Henk Ngantung.

"Pada zaman dulu terjadi konflik berat mengenai bom atom Jepang dan AS, Henk 
Ngantung bikin pasar atom, yang dijual ada kacang atom. Beliau itu bukan PKI 
karena beliau seniman yang akrab, banyak seniman berkumpul, Lekra sering 
ngumpul sama Henk Ngantung ini. Henk Ngantung gubernur paling kerenlah," puji 
Ridwan.

Jadi Ridwan menegaskan bila isu SARA tidak akan efektif untuk mempengaruhi 
pemilih di Jakarta ini.
Dia juga mengingatkan bahwa orang Jakarta tidak bisa dipimpin dengan keras, 
karena kondisi Jakarta di mana-mana keras. Ridwan lantas mencontohkan Nelson 
Mandela, yang memimpin negaranya dengan kalem.

Seperti apa pemimpin DKI seharusnya?

"Bisa memberesi kesemwrawutan di jalan, di pasar, lebih menegakkan Kamtibmas 
dengan Muspida, tidak bisa sendiri-sendiri itu dilakukan. Pembangunan gedung 
yang menjulang tinggi, kebersihan Jakarta tuh harus lebih ditunjukkan, kalau 
pun anggaran kecil tapi tidak susah juga kan?" ujarnya.

"Harus ada rest area di jalan panjang, seperti di TB Simatupang, tempat 
beristirahat dibuat nyaman, mencapai 1 titik ke titik lain, sehingga tidak 
capai duluan. Anggaran yang ada dihemat untuk Jakarta yang nyaman, sehingga 
kalau macet juga nggak ada perkara," kata pria berambut putih gondrong ini.


Kirim email ke