http://www.equator-news.com/kalbar-raya/20120912/angka-buta-huruf-kalbar-besar

Rabu, 12 September 2012 
Angka Buta Huruf Kalbar Besar 

Sintang – Mantan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kalbar Drs Ngatman mengakui 
angka buta huruf masih sangat besar di Kalbar. Ini membuktikan Pemprov Kalbar 
belum fokus memberantas buta aksara.

“Angka buta huruf di Kalbar seperti yang disampaikan anggota DPR RI Zulfadhli 
sebanyak 400 ribu di kabupaten/kota se-Kalbar itu benar adanya. Kita tidak bisa 
tangkis itu. Pemerintah provinsi belum mampu mengatasi persoalan buta aksara di 
Kalbar,” ungkap Ngatman, Senin (10/9).

Menurut Ngatman, kalau data rill seperti begitu, tidak ada yang harus 
dimarahkan. Berarti selama lima tahun pemerintahan berjalan, dunia pendidikan 
di Kalbar belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Terutama berkaitan 
dengan pemberantasan buta huruf.

“Kita boleh lihat anggaran pendidikan di kabupaten/kota di Kalbar, ternyata 
tidak memfokuskan soal buta huruf. Lebih banyak kepada pendidikan formal. Namun 
pendidikan formal juga tidak fokus, misalnya wajib belajar juga belum mengena,” 
jelas Ngatman.

Ngatman menyatakan, angka 400 ribu masyarakat Kalbar buta huruf merupakan data 
konkret di lapangan. “Kita bisa buktikan berapa persen anggaran dunia 
pendidikan. Untuk pendidikan formal saja anggarannya terseok-seok. Apalagi 
pendidikan nonformal seperti buta huruf, ini juga belum beres,” katanya.

Ngatman yang juga Ketua Dewan Kehormatan Guru di Kalbar ini mengungkapkan, 
komitmen mengatasi persoalan buta huruf di Kalbar harus terpadu dan terarah. 
Caranya seluruh kabupaten/kota di Kalbar harus memiliki komitmen tinggi 
mengatasi itu. Sebelum lima tahun dari 2007 lalu, soal buta huruf seharusnya 
sudah selesai sekarang. “Asalkan alokasi anggarannya dari dulu jelas,” ungkap 
Ngatman.

Selama ini, sambungnya, mengatasi buta aksara selalu mengandalkan dana 
pemerintah pusat. Daerah sendiri ternyata tidak menganggarkan pemberantasan 
buta huruf. Kalaupun ada, sangat minim, hanya berkisar sekitar Rp 10 juta. 
“Bagaimana buta aksara bisa diatasi kalau dananya kecil. Kita belum lagi bicara 
soal anak putus sekolah dan wajib belajar 12 tahun,” jelasnya.

Program pemberantasan buta aksara sudah harus dikoordinasikan 
antarkabupaten/kota di Kalbar. Apa yang disampaikan wakil rakyat dapil Kalbar, 
Zulfadhli punya dasar kuat. Selama lima tahun pemerintahan berjalan, 
pembangunan pendidikan di Kalbar belum diharapkan sebagaimana mestinya.

Kalbar, menurutnya, masih tinggi tentang pemberantasan buta huruf di Indonesia. 
Rankingnya masuk lima besar dari 33 provinsi di Indonesia. Hitungannya, kalau 
sekitar 400 ribu warga buta huruf, apabila dibagi jumlah penduduk Kalbar, 
berarti ada sekitar sembilan persen lebih yang buta huruf. Kunci mengatasinya 
mesti bekerja keras dan berkomitmen tinggi. “Kita punya lembaga luar sekolah di 
SKPD kabupaten/kota di Kalbar. Berdayakan itu,” tegas Ngatman.

Selain itu, anggaran pendidikan nonformal untuk mengatasi buta huruf juga harus 
searah. Ngatman mengakui di zamannya menjabat sebagai Kadis Pendidikan Kalbar, 
anggaran pendidikan formal dan nonformal masuk fokus utama. Perincian 
anggarannya sekitar Rp 73-80 miliar dari APBD Kalbar. Kalau dana APBN dananya 
mencapai sekitar Rp 1 triliun. “Saya tidak tahu dana anggaran sekarang ini,” 
ucap Ngatman.

Bukan hanya soal buta aksara yang dikritisinya, tentang sertifikasi guru di 
Kalbar ternyata menduduki urutan atau ranking ke-31. Kalbar bahkan kalah dari 
Maluku dan Maluku Utara, provinsi baru hasil pemekaran.

“Nilai rata-rata untuk ujian kompetensi guru Kalbar yang diadakan pemerintah 
pusat hanya sekitar 35. Ini miris sekali. Padahal kita wajib menyejahterakan 
tenaga pendidikan kita,” papar Ngatman. (jul)



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke