http://www.shnews.co/detile-7988-demokrasi-oligarkis-dan-kapitalisme-politik.html

Demokrasi Oligarkis dan Kapitalisme Politik 
Thomas Koten* | Senin, 17 September 2012 - 15:03:02 WIB 

Demokrasi yang kebabalasan malah akan memunculkan kapitalisme politik di negara.


Tidak dapat dipungkiri, demokrasi dengan sistem pemilihan langsung baik pemilu 
presiden, pilkada maupun pemilu legislatif, serta sistem politik demokratik 
multipartai, yang menghasilkan persaingan yang sangat tinggi, sesungguhnya 
telah melahirkan sebuah demokrasi berbiaya sangat mahal. 

Apalagi jika sebuah pesta demokrasi seperti pemilu atau pilkada yang 
berlangsung hingga dua putaran, sehingga membuat mahalnya biaya demokrasi itu 
sungguh-sungguh fantastik. 

Karena tingginya biaya demokrasi itulah kemudian berefek psikologis bagi para 
pekerja politik dalam komunitas parpol. Seperti menjelang Pemilu 2014, yang 
meski masih berlangsung dua tahun lagi, tetapi aroma kegelisahan 
sungguh-sungguh telah menyengat dan menghantui para elite politik parpol 
terkait melambungnya biaya politik yang sangat tinggi. 

Tingginya biaya politik atau biaya demokrasi itu, karena untuk menyukseskan dan 
memenangi pemilu atau pilkada, diperlukan dana sangat besar untuk kampanye 
pemilu, kampanye pilkada, menggerakkan partai atau organisasi massa 
pendukungnya, memelihara konstituen, dan merawat infrastruktur. 

Ini karena di era modern dengan kemajuan teknologi informasi dengan media 
komunikasi yang sangat kompleks dan berbiaya sangat tinggi ini diperlukan biaya 
atau dana yang sangat besar. Maka, lahirlah sosok demokrasi kita dengan sosok 
demokrasi berbiaya mahal. 

Demokrasi Oligarkis 

Karena tinggi dan mahalnya biaya demokrasi, dan/atau dana yang dibutuhkan dalam 
pembiayaan politik sangat besar, logikanya, hanya orang-orang yang memiliki 
dana besar, terutama para konglomeratlah yang bisa bermain politik atau yang 
berani ke gelanggang pertarungan politik. Merekalah yang kemudian menentukan 
bagaimana demokratisasi harus mengalir supaya keuntungan-keuntungan 
ekonomi-politik merembes dengan rapi. 

Akibatnya, kata Racienre (2006), demokrasi menjelma menjadi demokrasi 
oligarkis. Demokrasi yang semestinya sebagai bentuk kekuasaan “di tangan 
rakyat” menjelma menjadi kekuasaan “di tangan orang-orang kaya” atau “para 
pemilik modal besar”. 

Individualisme dan pragmatisme kekuasaan membuncah dan mengental. Tulis Yasraf 
Amir Piliang, spirit kolektivisme politik digantikan “individualisme”, ikatan 
ideologi diganti hasrat pragmatisme kekuasaan individu. 

Jalannya politik atau roda demokrasi lalu digerakkan dan ditentukan oleh 
orang-orang kaya alias para kapitalis, sehingga terjadilah apa yang disebut 
sebagai kapitalisme politik. Dalam cengkeraman kapitalisme politik hanya 
orang-orang kaya (para oligarch) yang mampu bersaing dalam medan pertarungan 
politik. 

Akibat lanjutannya, demokrasi pun terdistorsi menjadi sistem ”oligarki politik” 
dan “oligarki ekonomi”, dua sisi dari mata uang yang sama, yaitu menumpuk 
kekayaan untuk kekuasaan. 

Kekuasaan yang diraih oleh para politikus konglomerat pun lebih dilihat sebagai 
kesempatan untuk menumpuk kekayaan. Kekayaan yang dimiliki itu pun kembali 
digunakan untuk membeli dan mempertahankan kursi kekuasaan dan mengendalikan 
demokrasi. 

Ingat bahwa tidak ada langkah ekonomi dan politik para konglomerat atau para 
kapitalis yang gratis dari perhitungan-perhitungan keuntungan ekonomi. 
Sebagaimana seseorang yang memiliki naluri dan darah bisnis, setiap langkah 
politik, seperti halnya langkah ekonomi, selalu dibisniskan, atau dilihat dan 
dikalkulasi untung-rugi secara ekonomi bisnis. 

Apa jadinya jika politik atau demokrasi dibisniskan? Realitasnya menunjukkan 
bahwa politik dan demokrasi di negeri ini, di era kapitalisme politik yang 
sedang berlangsung, telah terjadi pula pembisnisan politik. 

Itu telah begitu kental terlihat pada komunitas parpol dan komunitas 
legislatif, bahkan juga eksekutif. Kursi ketua partai, ketua DPP dan DPD, kursi 
anggota legislatif, dan kursi anggota eksekutif telah lama terdengar memiliki 
harga dan nilai ekonomi tertentu yang diperdagangkan. Bahkan, hingga 
undang-undang yang dihasilkan para politikus di Senayan juga umumnya dibarter 
dengan uang yang nilainya sangat fantastis. 

Muncul pertanyaan berikut, bagaimana dengan nasib rakyat-masyarakat dan bangsa 
kita dalam gerbong politik demokrasi yang oligarkis? Menyitir lagi Yasraf Amir 
Piliang, oligarkisme politik sungguh meminggirkan atau mengerdilkan rakyat 
sebagai elemen sentral sistem demokrasi. 

Rakyat sebagai pemain utama dalam sistem demokrasi hanya menjadi pelengkap, 
bahkan objek kekuasaan. Status rakyat dikerdilkan dari konstituen ideologis 
jadi “consumer” gagasan, citra, pesona dan ilusi-ilusi yang ditawarkan para 
oligarch politik. 

Kalau sudah demikian, nasib dan kesejahteraan rakyat yang semestinya menjadi 
tujuan akhir dari permainan dan kerja politik serta tujuan digulingkannya 
demokrasi, semakin jauh panggang dari api. 

Oligarki yang merefleksikan habitus kekuasaan yang suka menghimpun keuntungan 
ekonomi-politik ke dalam lingkaran perselingkuhan dan persekongkolan kekuasaan 
membuat nasib kesejahteraan rakyat kian terabaikan. Politik lalu menjadi hampa 
makna. Demokrasi menjadi beku, kaku, dan tidak lagi menjadi prasyarat bagi 
kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. 

Tergerus Superkapitalisme 

Perlu digarisbawahi, demokrasi oligarkis yang mulai menggejala di Indonesia 
sebagai akibat dari terjebak dalam kapitalisme politik itu, bukan hanya terjadi 
dalam kehidupan politik kita, melainkan telah menjadi gejala umum di 
negara-negara demokratis. 

Amerika Serikat sendiri yang selama ini dapat dikatakan sebagai sokoguru 
demokrasi modern, ternyata masyarakatnya sedang kehilangan kepercayaan terhadap 
demokrasi seperti itu. 

Setidaknya, itulah Robert B Reich, seorang pemikir dan ahli ekonomi Amerika 
Serikat dalam bukunya Supercapitalism (2008), bahwa demokrasi saat ini seperti 
di Amerika, sesungguhnya sedang meratapi demokrasi yang menurutnya telah mandul 
karena gerusan superkapitalisme, yang membuat demokrasi tidak lagi setia pada 
misi pokoknya mendorong kesejahteraan rakyat. 

Mengapa? Karena kultur kebebasan dan kesetaraan yang dipromosikan demokrasi 
yang diyakini dapat mendobrak ekonomi negara, ternyata kini hanya menghasilkan 
pemerintahan yang dijalankan berdasarkan kapentingan besar segilintir orang 
yang sedang mengejar kepentingan dan keuntungannya sendiri, tanpa memedulikan 
kepentingan masyarakat dan bangsa. Kesejahteraan rakyat kian terkubur dalam 
makam-makam kapitalisme politik. 

Pertanyaan yang layak teradopsi di sini, apakah wajah demokrasi seperti ini 
layak dipertahankan dan dikembangkan? Atau, apakah ke depannya, kita akan terus 
mengalami demokrasi seperti ini? Kita tegaskan bahwa ini bukan salah demokrasi. 

Baik buruknya demokrasi tergantung pada bagaimana kita menyikapi, mengelola dan 
mengembangkan demokrasi sesuai dengan hakikat dan prinsip demokrasi itu, yang 
sesungguhnya bukan untuk kepentingan para kapitalis politik, tetapi semata 
untuk kesejahteraan rakyat. 

Karena itu, demokrasi harus terus-menerus dicermati, diwacanakan secara kritis, 
didiskusikan secara jernih untuk kemudian dikelola secara tepat sesuai dengan 
hakikat demokrasi dus budaya peradaban bangsa, agar tidak berbalik merusak dan 
meremukkan peradaban politik bangsa sendiri. 

Kini, kita harus sadar bahwa dengan terus merebaknya kapitalisme politik, 
demokrasi itu sendiri telah tergusur dari hakikat dasarnya. 

Kita harus berjuang mengembalikannya ke ranah demokrasi yang beretika, bermoral 
dan berbudaya sesuai dengan budaya dan peradaban bangsa. Jika tidak, demokrasi 
kita tinggal puing dan kita kian terperangkap, bingung dan tak berdaya dalam 
puing demokrasi itu. 

*Penulis adalah Direktur Social Development Center. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke