Ref: Umumnya petinggi NKRI  dan begundal-begundal mereka bergelar haji, tetapi 
apakah mereka bukan haji pengabdi setan?

http://www.merdeka.com/peristiwa/biar-tak-disebut-haji-pengabdi-setan-ini-syaratnya.html

Biar tak disebut haji pengabdi setan, ini syaratnya
Jumat, 24 Agustus 2012 15:43:54 
Reporter: Mohamad Hasist
 
ilustrasi

 
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maruf Amin mempersilakan orang berhaji dan 
umrah berkali-kali. Asalkan, niatnya adalah untuk beribadah.

"Kalau haji dan umrah berkali-kali tidak masalah, asalkan tidak mengabaikan 
kewajiban di dalam negeri. Contohnya menyantuni fakir miskin, zakat, berumrah 
berkali-kali boleh-boleh saja," kata Maruf kepada merdeka.com, Jumat (24/8).

Namun, jika haji dan umrah berulangkali itu niatnya buruk dan hanya untuk 
berwisata maka berdosa. "Meninggalkan kewajiban di dalam negeri seperti zakat 
dan lain-lain karena mementingkan haji dan umrah itu tidak betul," ujar dia.

Amir mengungkapkan hal ini menanggapi kritikan dari Imam Besar Masjid Istiqlal, 
Jakarta, Ali Mustafa Yaqub. Dalam wawancaranya dengan merdeka.com, Ali 
menyayangkan sudah bergesernya seseorang memahami makna berhaji dan berumrah. 
Apalagi jika Ramadan tiba, banyak masyarakat Indonesia yang berbondong-bondong 
pergi ke Tanah Suci.

Banyak yang tujuannya tidak hanya ibadah. Ada pula yang justru sambil 
berwisata. "Rasulullah saja tidak pernah mencontohkan pergi umrah saat 
Ramadan," ujar Ali.

Menurut Ali, tidak ada ayat Alquran dan Hadis yang menyuruh haji berkali-kali. 
Padahal, masih banyak kewajiban sosial di dalam negeri yang harus dijalankan. 
Dia menegaskan bolak balik berhaji dan berumrah adalah salah satu produk 
konsumerisme berbungkus ibadah. 

"Saya katakan, sejuta kali kamu berhaji, tetap kamu belum puas. Setan masuknya 
dari situ kok. Ada yang bilang masih belum sempurna, terus dan terus naik haji. 
Makanya itulah yang disebut sebagai haji pengabdi setan," kata Ali


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke