Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maruf Amin: 

** "Namun, jika haji dan umrah berulangkali itu niatnya buruk dan hanya
untuk berwisata maka berdosa. "Meninggalkan kewajiban di dalam negeri
seperti zakat         dan lain-lain karena mementingkan haji dan umrah itu
tidak betul," ujar dia.

ITUPUN KITA SEMUA TAHU ... APAPUN Jika maksudnya BURUK - YA tentu saja
dianggap SALAH ( atau BERDOSA)  . Jadi bukan saja menurut Islam.

PERTANYAANNYA  bagi  pak  KYIAJI Haji  AMRUF AMIN adalah sbb: 

** LALU KALAU SEORANG HAJI ITU BERDOSA ( Misalnya Berniat Buruk : Naik Haji
untuk Berwisata , Beristri lebih dari satu - hanya karena perlu 
    Istri lebih muda dan atau lebih banyak bisa ganti2 .... , dan atau
MENGGAULI ANAK PEREMPUAN DIBAWAH UMUR ( atau kawin dng gadis usia 12 Thn...)

    atau  memaksa hubungan Sex dng Anak2 murid laki2 dibawah umur - yg jadi
murid ngajinya..... , Korupsi , tidak sedikit Koruptor Kakap yg 
  juga bergelar " Haji " ..dll,dll...).....
  - LALU HKUMANNYA APA DAN BAGAIMANA ....Pak  Haji AMIN  ? Bagaimana pula
MUI  sbg Majelis yang bisa mengeluarkan segala FATWA  .... tapi
    tidak bisa menghukum dan menindak ....para Haji yang juga sebagai
MANUSIA TETAP TIDAK LUPUT DARI DOSA .. ? 

** KITA MENGHARAPKAN - agar Dosa2 nya yang kongret -yang dilakukan didunia
ini hendaknya JANGANG DILEMPARKAN kepada ALLAH , yang kemudian akan 
    Menghukum Manusia terkait yang berdosa  tsb  di NERAKA atau di SURGA  ..
.. ( ITU KAN SOAL  NANTI atau kalau yg bersangkutan sudah MATI ... 
   ....MENDING kalau bisa SEMPET  masuk SURGA ... ..atau NERAKA ) .
  -  Lha kalau yang bersangkutan diadili dan dihukumnya setelah Ia MATI ....
.. lalu bagaimana Kita yang didunia ini bisa tahu bhw Haji atau Manusia yang
     berdosa  tsb betul2 mendapat Hukuman ..... atas " DOSANYA" YANG
DIPERBUATNYA SELAMA HIDUPNYA" diman Ia hidup  BERSAMA JUTAAN MANUSIA  DIBUMI
 INI .....?

** TIDAKKAH MUI pun bisa MENGHUKUM UMATNYA YANG BERDOSA tsb seperti HALNYA
DALAM MENGELUARKAN FATWA2 bagi PARA MOSELEM ... ?
 
NOTE : Jika kita menyatakan sesorang itu BERDOSA - dan Kita sanggup menilai
sesorang itu Bedosa , maka kita harus tahu dan sanggup pula untuk menyatakan
              dengan Kongkret " Apa Dosanya"  dan  , Berdasarkan apa
(berdasarkan dosanya) - Kita harus tahu pula bagaimana Mengukumnya ......
Tetapi tidak cukup 
              hanya untuk menytakan dan  MENCAP seseorang - bahwa ia BEDOSA 
DAN TAU BAHKAN  KAFIR....lebih2 jika tidak punya Alasan Hukum ...... 
                           
             .
Beropini dan Bertanya saja kan boleh  ...? ...  dan tidak Dosa , ..bukan.. 
? Tapi juga akan senang jika Kita  sbg manusia Awam bisa mendapatkan
Jawabannya yang cukup kongkret dan meyakinkan....

Asinus manebis in saecula saeculorum 

-------Original Message-------
 
From: Sunny
Date: 24.9.2012 12:02:15
To: Undisclosed-Recipient:,
Subject: [inti-net] Biar tak disebut haji pengabdi setan, ini syaratnya
 
  
Ref: Umumnya petinggi NKRI dan begundal-begundal mereka bergelar haji,
tetapi apakah mereka bukan haji pengabdi setan?

http://www.merdeka
com/peristiwa/biar-tak-disebut-haji-pengabdi-setan-ini-syaratnya.html

Biar tak disebut haji pengabdi setan, ini syaratnya
Jumat, 24 Agustus 2012 15:43:54 
Reporter: Mohamad Hasist

ilustrasi

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maruf Amin mempersilakan orang berhaji
dan umrah berkali-kali. Asalkan, niatnya adalah untuk beribadah.

"Kalau haji dan umrah berkali-kali tidak masalah, asalkan tidak mengabaikan
kewajiban di dalam negeri. Contohnya menyantuni fakir miskin, zakat,
berumrah berkali-kali boleh-boleh saja," kata Maruf kepada merdeka.com,
Jumat (24/8).

Namun, jika haji dan umrah berulangkali itu niatnya buruk dan hanya untuk
berwisata maka berdosa. "Meninggalkan kewajiban di dalam negeri seperti
zakat dan lain-lain karena mementingkan haji dan umrah itu tidak betul,"
ujar dia.

Amir mengungkapkan hal ini menanggapi kritikan dari Imam Besar Masjid
Istiqlal, Jakarta, Ali Mustafa Yaqub. Dalam wawancaranya dengan merdeka.com,
Ali menyayangkan sudah bergesernya seseorang memahami makna berhaji dan
berumrah. Apalagi jika Ramadan tiba, banyak masyarakat Indonesia yang
berbondong-bondong pergi ke Tanah Suci.

Banyak yang tujuannya tidak hanya ibadah. Ada pula yang justru sambil
berwisata. "Rasulullah saja tidak pernah mencontohkan pergi umrah saat
Ramadan," ujar Ali.

Menurut Ali, tidak ada ayat Alquran dan Hadis yang menyuruh haji
berkali-kali. Padahal, masih banyak kewajiban sosial di dalam negeri yang
harus dijalankan. Dia menegaskan bolak balik berhaji dan berumrah adalah
salah satu produk konsumerisme berbungkus ibadah. 

"Saya katakan, sejuta kali kamu berhaji, tetap kamu belum puas. Setan
masuknya dari situ kok. Ada yang bilang masih belum sempurna, terus dan
terus naik haji. Makanya itulah yang disebut sebagai haji pengabdi setan,"
kata Ali

[Non-text portions of this message have been removed]



 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke