Pelaku Bom Depok dan Solo dari Jaringan Lama Senin, 10 September 2012 | 8:47
Polisi memburu Tr dan YR, pemilik bahan peledak dan penyewa rumah di Depok. [AFP] [DEPOK] Meski para tersangka pelaku teror yang akhir-akhir ini melanda Indonesia diketahui berusia muda, namun aparat anti teror meyakini mereka masih merupakan bagian dari gerakan lama kelompok teror di Indonesia. Dalam rangkaian peristiwa teror Solo, polisi menangkap empat tersangka yang diduga perencana dan pembantu aksi serangan terhadap sejumlah polisi. Mereka baru berusia menjelang atau awal dua puluhan. "Memang pelaku masih muda-muda. Tapi kelihatannya sumbernya ya jaringan lama; JAT dan JI," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai. Menurut Mbai indikasi dugaan ini anatra lain nampak dari pola jaringan serta operasi lapangan yang digelar pelaku. "Eksekutornya memang muda-muda, menunjukkan jaringan ini terus berkembang," tambah Mbai. Dalam tiga kali aksi teror di Solo sepanjang bulan Agustus, polisi menangkap empat tersangka dua diantaranya tewas dalam baku tembak di Jalan Veteran, Solo. Dua tersangka lain ditangkap di Karanganyar dekat Solo, serta seorang lagi di Depok pada Rabu (5/9) pagi lalu. Kedok Panti Asuhan Insiden teror terakhir terjadi Sabtu malam di Beji, Depok dengan sebuah ledakan yang merusakkan sebagian bangunan rumah sewa milik Lukman Hakim di Jalan Nusantara. Bangunan ini, berupa rumah petak yang dikontrakkan, disewa seseorang dengan identitas YR dan dipakai sebagai lokasi pantai asuhan. Papan nama ' Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara' terbentang di depan bangunan namun menurut warga setempat tak ada kegiatan anak-anak didalamnya. Saksi mata mengatakan bangunan hanya dihuni sejumlah laki-laki yang nampak masih berusia muda. "Memang diduga itu hanya kedok dari safe house untuk pelaku teror," kata Ansyaad Mbai. Usai ledakan semalam, saksi mata mengatakan ada dua laki-laki bergegas kabur dari lokasi. Namun selama ini seperti dikatakan sejumlah warga kepada berbagai media, tak ada hal mencurigakan selama bangunan tesebut dipakai para penyewa. Polisi kini memburu YR, pengontrak rumah, serta Tr yang diduga menyimpan bahan bom rakitan yang ditemukan di rumahnya di kawasan Tambora, Jakarta Barat, Rabu (5/9) lalu. Aparat menduga ada kaitan antara insiden teror Solo, penemuan peledak di Tambora serta ledakan di Depok. [BBC/L-8] http://www.gatra.com/nasional/1-nasional/17480-teror-bom-di-tiga-kota Teror Bom di Tiga Kota Monday, 10 September 2012 07:24 Warga di Jalan Nusantara, Beji, Depok, Jawa Barat, dikagetkan dengan suara ledakan keras pada Sabtu (8/9/2012) malam. Ledakan pada pukul 21.22 itu membuat rumah yang menjadi lokasi kejadian hancur berantakan. Tiga orang terluka akibat kejadian di rumah kontrakan yang dipasangi spanduk Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara itu. Mereka kemudian diangkut polisi dengan mobil bak terbuka. Salah satu korban yang tangannya nyaris putus, mencoba kabur. Namun polisi bertindak sigap. Ia berhasil dibekuk dan diangkut pula ke dalam mobil polisi. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, mengatakan bahwa korban Depok yang terluka parah diduga sebagai salah satu pelaku teroris. Polisi menduga, dia adalah Muhammad Thoriq, warga Tambora, Jakarta Barat, yang menghilang setelah warga mendobrak rumahnya. Sementara dua korban lain adalah tetangga rumah yang di depannya terpajang spanduk "Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara" itu. Mereka adalah Mulyadi Tofik Hidayat, kelahiran Jakarta 7 Juni 1980 dan Febri Bagus Kuncoro (luka ringan), kelahiran Jakarta 22 Februari 1992. Semula, kata Rikwanto, ketiga korban itu dibawa ke RS Mitra Keluarga, tetapi pada pukul 03.00 WIB, korban dirujuk ke RS Kramat Jati dengan alasan peralatan lebih lengkap, dan mudah diawasi oleh pihak kepolisian. Beberapa saksi juga telah diperiksa oleh pihak kepolisian, mereka adalah orang tua Mulyadi dan Febri yang bernama Nano Triawan, 63; Wulandari, 27, anak dari Nano Triawan; dan Lukman Fariz, 45, selaku pemilik tanah dan bangunan. Salah satu korban, Mulyadi bahkan menyaksikan, 5 menit sebelum ledakan, dua orang pria buru-buru meninggalkan rumah itu. Salah satunya pergi dengan menaiki sepeda motor. Sementara satu orang lagi, saking terburu-burunya, melompati pagar dan berlari meninggalkan rumah. Tak lama setelah itu, ledakan keras terjadi. Mulyadi pun terkapar, terkena pecahan bekas ledakan. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar, menyatakan bahwa kedua pria yang kabur sebelum ledakan itu sebenarnya juga sudah terluka di tangan. Karena itu, Boy mengingatkan klinik dan rumah sakit agar melapor ke polisi jika menemukan ada orang yang terluka di tangan minta perawatan. "Saya harap masyarakat bisa bekerjasama dalam hal ini," kata Boy di lokasi kejadian, Minggu (9/9/2012). Boy sendiri menduga, kedua orang itu berkeliaran di Jakarta dan sekitarnya. "Saya dan rekan anggota lainnya tengah berupaya keras melacak jejak mereka," kata Boy. Polisi juga memburu Yusuf Rizaldi, orang yang mengontrak rumah tersebut. Minggu dinihari juga, polisi mendatangi kediaman Yusuf di Petojo, Gambir, Jakarta Pusat. Namun istri Yusuf menyebut suaminya sudah tiga hari tak ada di rumah, mengaku ke luar kota. Istri Yusuf, Habza, dan kedua anak kembarnya telah diamankan petugas. Di Depok, meski memasang baliho 'Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara', tak ada anak-anak kecil terlihat di rumah yang menurut warga sekitarnya baru dikontrak tiga bulan lalu itu. "Mereka tertutup banget," kata seorang warga. alih-alih ada anak-anak, justru yang bertamu kerap pria berjenggot. Polisi sendiri dalam olah tempat kejadian peristiwa menemukan banyak barang bukti mencengangkan. Brigjen Boy Rafli Amar mengatakan, dalam olah TKP ditemukan banyak bahan peledak. Ada mesiu, baterai, alat ukur daya ledak, senjata rakitan, granat nanas dan bahan kimia berbahaya. "Semuanya berdaya ledak tinggi dan dapat dipastikan bahan baku bom. Saat ini, tim Inafis, Gegana, dan Puslabfor masih terus mengamankan sejumlah barang berbahaya itu," kata dia. Diduga rumah berkedok yayasan yatim itu tempat persiapan teror dengan target berikutnya yang belum terkuak. Dugaan akan teror bom ini terkuak karena ditemukan semacam surat wasiat. Surat wasiat tersebut ditujukan untuk orangtua, ibu dan anak. Kepala Badan Nasional Penangulangan Terorisme, Ansyaad Mbai mengungkap bahwa surat wasiat tersebut bertuliskan pesan untuk Ibu, istri dan anaknya bahwa dia sedang mencari ridha Allah di surga. "Nama orang yang ada di surat itu nanti akan diungkap," kata Ansyaad. Polisi sendiri mengklaim 'yayasan' itu telah lama dipantau. Hanya saja, polisi menduga keras, bom keburu meledak di tangan pelaku yang sekarang dirawat di RS Kramat Jati. "Barangnya baru banget terkirim, dan belum 24 jam," kata Boy Rafli. Polisi juga menduga, lokasi ledakan adalah tempat persiapan para teoris untuk penyerangan target yang telah direncanakan. Kejadian yang mengagetkan warga itu tak berselang lama setelah penggerebekan terduga teroris si Solo, Jawa Tengah. Sebelum ledakan di Depok, sebuah rumah di kawasan Tambora, Jakarta, pun digerudug warga. Rumah yang sempat mengeluarkan asap tebal berbau mesiu itu didobrak warga. Ternyata di dalam rumah milik Muhammad Toriq (30) itu ditemukan bahan pembuat bom. Sayang, Toriq diduga kabur setelah aksinya diendus warga. Aksi diam-diam para terduga teroris di tiga lokasi itu akhirnya terkuak ke publik. Bahkan, proses perakitan bom yang dilakukan di dua rumah terpisah di Jakarta telah gagal dan menimbulkan tanda publik. Adakah keterkaitan aksi di tiga lokasi itu? Terkait tiga insiden tersebut, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto, menegaskan bahwa saat ini pihak kepolisian masih mendalami kaitan antara kejadian di solo dan penemuan bahan peledak di kawasan Tambora serta Beji. "Sampai sekarang belum bisa menyimpulkan apa ada kaitan dengan Tambora. Yang pasti Pemerintah mengutuk keras siapapun yang menyebabkan ledakan, apalagi yang menimbulkan korban. Tindakan ini sangat bertentangan upaya menjaga kedamaian," ujar Djoko dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Minggu (9/9/2012). Kini, menurut Djoko, Pemerintah, baik Polri, BIN dan BNPT terus melakukan pencarian pelaku dari beberapa serangkaian aksi teror yang terjadi, mulai dari Solo hingga Depok, untuk mengetahui apakah ada kaitan kejadian di tiga lokasi tersebut. (HP, dari berbagai sumber) Terorisme Menkopolhukam: Tak Ada Kaitan Terorisme dengan Agama Penulis : Aditya Revianur | Senin, 10 September 2012 | 08:25 WIB KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZESMenkopolhukam Djoko Suyanto memberikan keterangan pers didampingi oleh Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo (kiri), di Kementerian Politik Hukum dan Keamanan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Minggu (9/9/2012). Keterangan pers ini berkaitan dengan terjadinya ledakan bom rakitan di sebuah panti asuhan yatim piatu di Jalan Nusantara Raya, Beji, Depok, Jawa Barat, pada Sabtu malam 8 September. Diduga panti tersebut merupakan kedok untuk menutupi kegiatan perakitan bom di dalam rumah. JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Djoko Suyanto mengatakan bahwa kegiatan di rumah ibadah dan agama Islam tidak terkait dengan aksi terorisme yang kembali terjadi. Ia menegaskan, motif teror Solo murni balas dendam. Sementara, ledakan yang terjadi di Beji, Sabtu (8/9/2012), belum diketahui motifnya karena terduga pelaku masih dalam keadaan kritis. "Teror tidak ada kaitannya dengan masjid mau pun agama. Tapi kalau kelompok yang beragama itu (Islam) memang demikian. Secara garis besar saya tegaskan, tidak ada kaitannya dengan motif yang dilatarbelakangi agama," ujar Djoko, di Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Jakarta, Minggu (9/9/2012). Menurutnya, terjadi kesalahan persepsi di masyarakat yang menganggap teror selalu dikaitkan dengan agama. Menanggapi ledakan yang terjadi di Beji, ia mengatakan, peristiwaitu murni kecerobohan terduga pelaku peledakan dalam meracik peledak yang kemungkinan besar ditujukan untuk menyerang area vital. "Ledakan kemarin kan (terduga pelaku) tidak sengaja. Dia sedang merakit bom terus meledak. Sasaran dari bom yang dirakit itu jelas ditujukan ke tempat lain yang ramai," tambahnya. Pernyataan senada juga disampaikan Kepala Badan Nasional Penanganan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai. Ia menampik informasi bahwa intelijen memata-matai masjid tertentu yang diduga sebagai basis gerakan kelompok teror di Solo maupun Depok. "Tolong diluruskan lagi. Tidak ada kaitan antara aksi teror dengan kegiatan di masjid maupun kelompok keagamaan (Islam). Motif ledakan di Beji sedang didalami sementara yang di Solo kan sudah diungkap Polri. Tidak ada kaitannya dengan agama maupun simbol peribadatan (Masjid) kan," tegas Mbai. Sebelumnya, Kepolisian memastikan bahwa rentetan penyerangan kelompok teroris di Solo, Jawa Tengah, selama Agustus 2012 bermotif balas dendam. Hal ini berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap barang bukti dan pemeriksaan tersangka teroris yang ditangkap hidup oleh Densus 88 Anti Teror Polri. Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar pada Senin (3/9/2012, selain magazen, di dalam tas pinggang yang dipakai tersangka teror Solo bernama Farhan (19), polisi menemukan banyak lembaran kertas. Dalam lembaran itu, kata Boy, terdapat surat yang ditulis tangan yang intinya akan melakukan pembalasan ke Polri menyusul banyak tokoh gerakannya yang dibekuk aparat. Abu Umar, ayah angkat Farhan termasuk tokoh yang ditangkap aparat. Sementara itu, motif dari ledakan Beji, Sabtu (8/9/2012) malam, belum diketahui. Hal tersebut mengingat terduga pelaku peledakan belum dapat dimintai keterangan karena luka bakar yang dideritanya cukup parah, sekitar 70 persen. Sementara itu, Thorik, nama yang kerap disebut sebagai terduga pelaku ledakan Beji yang kini masih dirawat di RS Polri Sukamto Kramat Jati, justru menyerahkan diri kepada pihak Polda Metro. Torik menjadi buronan setelah melarikan diri setelah kegiatannya merakit bom di rumahnya, kawasan Tambora Jakarta Barat, tercium warga. Berita terkait ledakan di Beji, Depok, dapat diikuti dalam topik "Ledakan di Depok" Kesaksian Warga yang Masuk ke Rumah Sumber Ledakan Penulis : Aditya Panji | Minggu, 9 September 2012 | 03:38 WIB KOMPAS.com/Aditya Panji Toto Suharto, 50, saksi ledakan di Beji, Depok, Sabtu malam (8/9/2012). DEPOK, KOMPAS.com — Sebuah ledakan yang diduga bom terjadi di Jalan Nusantara, RT 04/RW 13, Beji, Depok, Jawa Barat, sekitar pukul 21.00, Sabtu (8/9/2012). Beberapa saat setelah ledakan itu, sejumlah warga setempat memberanikan diri masuk ke lokasi kejadian. Salah satunya adalah Toto Suharto (50). Ia bukan warga Beji. Namun saat itu, Toto sedang menginap di rumah saudara yang dekat dengan lokasi kejadian. Toto berkisah, sekitar pukul 21.45, ia mendengar ledakan satu kali. Mulanya ia menduga itu adalah suara ban truk yang pecah. Akan tetapi kemudian, banyak warga yang ke luar rumah dan mendekati lokasi kejadian. Toto dan beberapa warga masuk ke rumah itu. Karena listrik di rumah itu mati, ia meminjam senter kepada warga lain. "Di sana saya temui seorang korban yang berlumur darah. Dia mengangkat tangan, tapi tangan kirinya hancur," kata Toto. "Bau mesiu di rumah itu tak bisa dibohongi. Baunya kuat sekali. Tidak ada bau gas," ucapnya. Toto kemudian menyorot dengan senter sekitar isi rumah itu. "Di sana saya temukan ada botol. Saya senter ke dinding, saya lihat ada gambar-gambar anatomi tubuh. Saya menduga itu adalah klinik kesehatan." Dari pantauan Kompas.com, di rumah itu terpasang spanduk bertuliskan Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara. Di depannya, ada papan kayu bertuliskan Bekam, Ruqyah, Gurah dan Herbal. Di sekitarnya ada menara sutet, serta pos Forum Betawi Rempug (FBR) di sebelah kirinya. Menurut Toto, ledakan itu mengakibatkan kerusakan cukup parah karena banyak puing bangunan rumah berserakan. Genteng dan temboknya pun hancur. Toto melihat ada dua korban laki-laki yang mengalami luka ringan. Mereka langsung dibawa ke Klinik Bima, klinik terdekat dari lokasi kejadian. Kemudian, lanjut Toto, ada pula korban orangtua dan satu perempuan yang berteriak minta tolong. "Waktu perempuan itu keluar, saya lihat dia berdarah di pipi kanan. Orangtua itu juga cuma luka ringan," ucapnya. Setelah kejadian itu, menurut Toto dan saksi lainnya, terlihat dua laki-laki muda yang melarikan diri. "Usianya masih muda. Tapi begitu dikejar tidak dapat," tutup Toto. Editor : Reza Wahyudi [Non-text portions of this message have been removed]
