Selasa, 11 September 2012 | 07:55 WIB
Terduga Teroris Ambon Diduga Alumnus Poso
 

TEMPO.CO, Jakarta- Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Markas Besar Polri 
menangkap empat orang terduga teroris di sebuah rumah di kawasan Gunung 
Malintang, Kebun Cengkeh, Desa Batu Merah, Sirimau, Kota Ambon, Ahad siang 
lalu. Keempatnya adalah Sukri, Jimmy alias Zum, Baharudin, dan pemilik rumah, 
Imran

"Penangkapan ini adalah hasil pengembangan orang-orang yang diduga pernah ikut 
latihan militer," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Kepolisian RI Brigadir 
Jenderal Boy Rafli dalam konferensi pers di Mabes Polri di Jakarta kemarin 
siang. Mereka diduga pernah mengikuti pelatihan militer yang dilakukan di Poso, 
Sulawesi Tengah.

Dalam penangkapan itu, kata Boy, polisi menyita beberapa barang bukti. Di 
antaranya sebuah senjata api MK 3, sepucuk MNC, beberapa granat, pelontar, dan 
amunisi sekitar 10 ribu butir.

Polisi mengklaim telah menentukan beberapa titik yang diduga menjadi tempat 
pelatihan militer, serta mengaku mengetahui perencanaan tindakan teror oleh 
terduga teroris tersebut. Polisi juga menyatakan sedang menyusuri keberadaan 
beberapa kelompok dan tersangka teroris lainnya.

Pelatihan militer di Sulawesi dikabarkan telah berlangsung sejak 2008. Diduga 
ada sembilan angkatan yang menjadi lulusan dari pelatihan yang diselenggarakan 
di Poso, yang jaraknya lebih dari 200 kilometer dari Palu, ibu kota Provinsi 
Sulawesi Tengah, itu. Polisi juga mengidentifikasi sudah ada lima angkatan yang 
menjadi lulusan pelatihan militer di perbatasan Sulawesi Selatan dan Sulawesi 
Tengah.

Kepolisian Daerah Maluku membenarkan adanya penangkapan ini. "Mereka ditangkap 
di tempat tinggal masing-masing," kata Kepala Bidang Humas Polda Maluku Ajun 
Komisaris Besar Johannes Huwae kemarin. Kata Johannes, ada enam yang ditangkap, 
namun ia belum bisa memberikan keterangan. 

Boy membenarkan ada dua tersangka baru yang ditangkap polisi di Ambon, yaitu 
Ode Yasmin dan La Ode Bakri. Dia belum memastikan apakah penangkapan ini ada 
hubungannya dengan terduga teroris di Solo, Depok, dan Tambora. "Belum ada 
keterkaitan," ujarnya. 

FRANSISCO ROSARIANS | MOCHTAR TOUWE | AYU PRIMA



Selasa, 11 September 2012 | 07:49 WIB
Empat Lokasi Jadi Target Bom
 

TEMPO.CO, Jakarta- Polisi menuding terduga teroris Muhammad Thorik, atau sering 
juga ditulis dengan Muhammad Toriq, berencana melakukan bom bunuh diri di empat 
lokasi di Jakarta. Keempat lokasi itu adalah Markas Komando Brigadir Mobil di 
Depok, pos polisi di Jalan Salemba, kantor Detasemen Khusus 88 Antiteror, dan 
komunitas masyarakat Buddha.

Kepala Biro Penerangan Markas Besar Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar 
mengatakan rencana aksi teror itu terungkap saat Thorik diperiksa. "Thorik 
mengaku salah satu ''pengantin'' aksi bom bunuh diri itu," ujar Boy dalam 
keterangan pers di kantornya kemarin.

Boy mengatakan, kelompok teror ini memang menjadikan aparat kepolisian sebagai 
target. Sedangkan penyerangan terhadap komunitas Buddha, menurut Boy, karena 
rasa solidaritas kepada umat muslim Rohingya di Myanmar. 

Thorik adalah terduga teroris yang disebut-sebut merangkai bom di rumahnya di 
kawasan Tambora, Jakarta Barat. Dia kabur saat warga mencoba memadamkan asap 
yang mengepul dari rumahnya, Rabu pekan lalu itu. Thorik menyerahkan diri pada 
Minggu sore di Pos Polisi Jembatan Lima, Tambora. "Penyerahan diri itu diduga 
karena tersangka memikirkan keluarga, anak dan istrinya," kata Boy.

Bahan peledak yang ditemukan di Tambora diduga berkaitan dengan ledakan di 
Beji, Depok, Sabtu lalu. Boy mengatakan, Thorik merupakan salah satu tersangka 
yang melarikan diri setelah bom di Beji, Depok. 

Polisi menduga ada dua tersangka yang melarikan diri seusai ledakan itu. "Ada 
dua buron. Satu terluka, satunya lagi Thorik," kata Boy. Polisi, dia 
melanjutkan, masih terus berupaya mengungkap korban luka yang dibawa ke Rumah 
Sakit Polri itu.

Polisi juga sudah mendapat konfirmasi, surat wasiat yang ditemukan tim 
Detasemen Khusus 88 Antiteror di kontrakan Beji adalah tulisan Thorik. Surat 
wasiat itu berisi permintaan maaf kepada keluarga dan penjelasan tujuan Thorik 
menjadi pengantin bom bunuh diri. "Sudah jelas, itu tulisan Thorik," katanya.

Para tetangga seakan tak percaya Thorik menjadi calon pengantin bom bunuh diri. 
Yanto menilai Thorik tak menunjukkan gelagat tersebut. "Dia kan juga punya 
tanggungan keluarga," kata Yanto, pemilik warung nasi di depan rumah Thorik, 
kemarin. 

Keheranan tetangga bertambah karena Thorik berlatar belakang keluarga pengajar 
agama. "Saudara-saudaranya pengajar di bidang agama," kata Subagyo, Ketua RT 2 
di kawasan itu.

Di tempat terpisah, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Ansyaad Mbai 
mengakui Indonesia sejauh ini belum berhasil meredam akar terorisme. "Tidak ada 
single factor," kata dia di kantor Wakil Presiden, Jakarta.

Masalahnya, Ansyaad melanjutkan, korelasi di antara semua faktor itu kemudian 
mengkristal menjadi bentuk rasa ketidakadilan. "Ini yang selalu dieksploitasi 
dengan menggunakan paham-paham radikalisme." 

FRANSISCO ROSARIANS | NUR ALFIYAH | WAYAN AGUS P | PRIHANDOKO | SUKMA



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke