Ref: Apakah perlu dididik? Bukankah  kalau yang dididik lebih pandai dari kaum 
berkuasa dan elit serta keturunan mereka, maka kedudukan mereka terdesak dan 
terancam hilang dan  mendatangkan kerugian. Untuk mengatasi  hal tsb. Kekuasaan 
harus dipegang ketat agar rejeki tidak menghilang. Lihat saja pada sejarah 
penjajahan. Bukan hanya sedikit ambtenar nan setia yang diperlukan, yang lain 
adalah pelayan dan budak abadi.

http://www.analisadaily.com/news/read/2012/10/08/79465/mengapa_pendidikan_kita_tidak_mendidik/#.UHHTvoaKjBo

      Mengapa Pendidikan Kita Tidak Mendidik 
      Oleh : Jakob Siringoringo. 



      Sekali waktu di subuh Ramadan lewat. Aku terjaga dari tidur dan sulit 
mengantuk lagi. Tepat pula waktunya sahur meramaikan kesendirian, walau lewat 
televisi. Aku mengisi waktu dini hari itu dengan mencari hiburan, menonton. 
Seperti biasa jika satu saluran tv lagi dagangan atau iklan, maka kutekan 
tombol remote untuk memilih chanel lain. Akhirnya, sekitar pukul lima, satu 
saluran tv menarik perhatianku. Tak bisa dimungkiri, aku memilih menonton yang 
satu ini.
      SMA Kajang

      Saluran televisi tersebut menayangkan sebuah liputan berharga. Liputan 
yang benar-benar berbeda dibandingkan dengan chanel tv lain waktu itu. Mereka 
meliput pendidikan Malaysia di salah satu SMA. Sekolah itu bernama SMA Kajang 
Malaysia. 

      Dari liputan tadi, SMA Kajang memberikan contoh bagaimana pendidikan 
merupakan sebuah alat, bukan tujuan. Prinsipnya memanusiakan manusia. 
Murid-murid yang belajar di sana diajari secara humanis. Tak hanya diajari di 
depan kelas menurut kurikulum baku. Lewat berbagai kelengkapan yang disediakan, 
murid-murid dipersilakan menguji-coba aktivitas kesukaan masing-masing. Di luar 
jam belajar pelajaran, mereka beroleh pendidikan bakat dan kemauan. Yang hobi 
menyanyi dan bermain musik, diberikan fasilitas, keleluasaan dan bimbingan 
untuk mendalami. Bagi murid yang suka olahraga, misalnya, panahan—satu cabang 
olahraga yang diikutkan dalam perlombaan nasional sampai 
internasional—difasilitasi dan dibimbing.

      Kala di dalam kelas, mereka dilatih berlomba berpidato. Berpidato di 
depan umum dengan bahasa nasional dan Inggris. Lomba membaca puisi atau 
kegiatan sastra lainnya, menulis dan sebagainya. Dan yang tak kurang, 
murid-murid dilengkapi dengan belajar agama. Yang terakhir ini menguatkan ilmu 
pengetahuan yang dipelajari. Hasilnya, bertengger banyak piala di sekolah 
tersebut. Aneka perlombaan diikuti tertulis di piala.

      SMA Kajang Malaysia berdiri di atas sebidang tanah yang cukup luas, asri, 
tidak condong pada kebisingan yang dapat mengganggu aktivitas belajar. Selain 
itu, sekolah ini berasrama sehingga murid-murid tinggal di sana, jauh dari 
orang tua. Mereka digembleng menjadi manusia yang siap pakai ke mana dan kapan 
pun. Sistem asrama membuktikan keseriusan meningkatkan mutu pendidikan yang 
seiring dengan naiknya mutu SDM.

      Kelebihan sistem pendidikan ini belum berakhir sampai di sana. Yang 
mengherankanku, sekolah tersebut ternyata dibiayai oleh pemerintah Malaysia. 
Murid-murid tidak membayar uang SPP sebagaimana di Indonesia. Mereka hanya 
membayar satu ringgit Malaysia. Uang yang setara Rp 3000 tersebut dibutuhkan 
untuk membayar makan murid-murid di asrama. Sungguh pembayaran yang tak lebih 
hanya sebagai simbol. Betapa seriusnya pemerintah Malaysia mengangkat derajat 
dan martabat bangsanya menuju kemerdekaan sebenar-benarnya. 

      Kenyataan tersebut betapa beterbalikan dengan kondisi di RI. Pantas kita 
kalah kualitas dari mereka. Ini murni soal kemajuan pendidikan yang 
menghidupkan kemampuan manusianya. Aku terkejut kala liputan ini diberitakan 
merupakan sekolah berasrama dan dibiayai pemerintah. Di Indonesia lewat 
novelnya "Negeri 5 Menara" berkisah tentang sekolah persis seperti SMA Kajang, 
yakni Pesantren Gontor. Sekolah yang berbeda dari biasanya. 

      Berbanding terbalik 180 derajat, sistem pendidikan di Indonesia tidak 
mendidik—jika tak mau disebut membodoh-bodohi. Yang dipentingkan dalam 
persekolahan kita hanya sebatas keuntungan. Sisanya keberuntungan. Baik sekolah 
negeri maupun swasta setali tiga uang hanya berorientasi pada pendapatan. 

      Ketika murid SMP misalnya hendak masuk SMA negeri yang dianggap paling 
baik, selama proses ke sana, kita takkan lupa pada persoalan cara masuk. Ada 
beberapa cara masuk, hanya satu yang paling besar kemungkinannya: menyogok 
pihak sekolah hingga jutaan rupiah. Keuntungannya hanya satu dan yang lain 
sebagai pelengkap. Masuk sekolah negeri favorit, prestise murid berada di atas 
murid sekolah lain, apalagi swasta. Soal mutu pembelajaran? Kurang lebih sama 
bobroknya.

      Dengan syarat tersebut, kedudukan sekolah favorit hanya diisi murid dari 
keluarga berada. Sementara anak dari keluarga miskin, hanya berharap pada 
takdir. Penyakit Jawa masa lalu, tunduk pada sesuatu yang lebih tinggi. 
Kedudukan sistem pendidikan beralih fungsi menjadi objek penghasilan. Jaminan 
masa depan murid, tak didapat dengan bersekolah. Sekolah tidak berfungsi 
sebagai alat untuk menemukan potensi seseorang menggali kemampuannya. Sekolah 
juga tidak berkepentingan memberi jalan bagi murid agar lebih maju dalam 
berpikir. Murid hanya diajari dengan kurikulum yang memuakkan, kaku, lalu 
dievaluasi secara berkala dengan pertanyaan yang kerap menjebak. Tak perduli 
sudah dipelajari atau belum. Maksudnya hanya mengarahkan sekolah dan warganya 
pada taraf kemampuan sebatas kebiasaan yang instan. 

      Ujian Nasional adalah contoh fenomenal. UN didudukkan pada pundak murid. 
Tra perduli isi di dalamnya mampu dicari solusi apalagi dalam waktu yang 
memenjarakan pikiran. Tak sulit ditebak, UN bertujuan agar sistem pendidikan 
yang benar dirusak dan dijadikan merusak pendidikan itu sendiri. Finalnya, 
kembali pada perebutan keuntungan. Entah sogok, suap, bocorkan jawaban atau 
tindak tanduk koruptif lainnya, yang terpenting "cair", solusi ditemukan. 
Finis, masa depan generasi bangsa bernoda pekat sudah.

      Sekolah sekarang berjalan menurut kepentingan. Baik menteri pendidikan 
apalagi pejabat akademisi semuanya keras kepala menuntut "ilmu itu mahal", maka 
"bayarlah". Tak ada uang, berhentilah sekolah. Tak perduli, murid sebagai 
generasi penerus bangsa. Jika ingin pintar, tunjukkan rupiahmu. Pokoknya tidak 
ada yang gratis.

      Wajib belajar sembilan tahun, gratis? Barangkali. Praktiknya sekolah 
gratis demikian hanya bertukar lumbung penerimaan. SPP ditiadakan, namun biaya 
administrasi lainnya masih mencekik. Belum lagi buku yang wajib dibeli dengan 
harga beragam mahal plus peraturan lainnya. Semuanya menghantam nilai filosofis 
pendidikan itu sendiri. Hasilnya? Murid sekolah tak membuat si murid menemukan 
potensi di dirinya masing-masing. Justru memaksa pemikiran semakin terkotak. 
Secara umum dapat dikatakan sekolah itu sebagai sesuatu seremoni. Bahkan candu, 
bukan kewajiban bangsa untuk mencerdaskan pemikiran. 

      Inti masalah, sistem pendidikan kita telah dikomersialisasikan. Akhirnya 
mutu SDM kita terus terbenam ke dasar ketertinggalan. Negara telah kehilangan 
kewajibannya untuk mencerdaskan bangsa. Tak heran, sampai di sinilah kemampuan 
kita menjajal kemajuan dunia yang kian tak terbendung. Malaysia yang sebelumnya 
belajar ke Indonesia, kini mereka justru menjadi guru. Demikianlah sistem 
pendidikan telah ditetapkan negara lewat menteri terkait guna terus menidurkan 
rakyat dari kesadarannya sebagai bangsa yang merdeka dari penindasan. ***

      Penulis adalah anggota KDAS Medan. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke