http://www.analisadaily.com/news/read/2012/10/05/78864/arsitek_mesjid_istiqlal_yang_terlupakan_di_kampung_halaman/#.UHHYDYaKjBo
Jumat, 05 Okt 2012 00:05 WIB
Frederich Silaban
Arsitek Mesjid Istiqlal yang Terlupakan di Kampung Halaman
Arsitek (sumber: facebook.com)
Oleh : Sahat P. Siburian. Mengukir prestasi menakjubkan di pentas
nasional belum tentu akan mendapat apresiasi di kampung halaman. Kalimat ini
terasa tepat menggambarkan kiprah dan reputasi arsitek Frederich Silaban
(1912-1984). Lahir 16 Desember 1912 di desa Bonan Dolok, Dolok Sanggul,
Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara.
Beliau adalah seorang arsitek ternama dalam jajaran arsitek generasi
pertama di Indonesia. Arsitek kesayangan Presiden Soekarno ini juga disebut
sebagai seorang perintis arsitektur modern Indonesia. Melalui karya-karya
arsitekturnya, Frederich Silaban telah memperoleh penghargaaan dari dalam
negeri dan luar negeri. Qubah Mesjid Istiqlal telah diakui Universitas
Darmstadt, Jerman Barat sebagai hak cipta Frederich Silaban, yang disebut
sebagai "Silaban Dom" (qubah Silaban). Karya dan pemikirannya telah menjadi
ajang telaahan apresiatif para akademisi serta praktisi arsitektur di
Indonesia. Namanya juga telah termeteraikan sebagai tokoh nasional dalam buku
Ensiklopedi Nasional Indonesia.
Setiap kali nama Frederich Silaban disebut selalu memiliki kaitan dengan
latar belakang sosial maupun kampung halamannya. Beliau adalah putera kelima
dari keluarga petani di desa Bonan Dolok, Dolok Sanggul, Humbahas. Dilahirkan
oleh ibu Noria boru Simamora. Ayahnya, Djonas Silaban, adalah seorang sintua
Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).
Dengan kepiawaiannya dalam bidang arsitektur, Frederich Silaban telah
mengukir seberkas sejarah partisipasi seorang putra Humbahas dan orang Kristen
Batak di pentas nasional.
Namun di kampung halamannya sendiri, di Dolok Sanggul, Humbahas, arsitek
Frederich Silaban tampak nyaris terlupakan. Bukan saja di kalangan masyarakat
umum, tetapi hampir semua pemangku kepentingan (stakeholder) termasuk jajaran
pemerintahan dalam lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Humbahas terkesan
turut alpa mengapresiasinya.
Kealpaan semacam itu terindikasi dari fakta betapa hingga kini, sepanjang
diketahui, belum pernah ada pihak di Humbahas yang secara resmi merealisasikan
suatu bentuk penghargaan yang pantas baginya. Bahkan selama ini, wacana yang
merencanakan suatu penghargaan pun tidak pernah terdengar nyaring. Mengapa?
Sebuah Rahmat
Perihal mengapa kalangan stakeholder masyarakat Humbahas alpa
mengapresiasi arsitek Frederich Silaban dapat ditelusuri dalam berbagai
kemungkinan argumentasi.
Dari antara kita, boleh jadi ada yang menilai bahwa Frederich Silaban
tidak memberikan kontribusi signifikan bagi pembangunan kampung halamannya.
Penilaian ini jelas beranjak dari perspektif berdimensi fisik atau material,
sebagaimana lazim dilakukan penguasa dan pengusaha. Argumen sedemikian itu
tergolong sempit dan dangkal. Terlebih jika kita mau dengan jeli mencermati dan
memaknai perjalanan hidup Frederich Silaban (16 Desember 1912–14 Mei 1984).
Kita semua niscaya sepakat bahwa Frederich Silaban telah ‘mengharumkan’
kampung halamannya, Humbang Hasundutan, dalam kancah nasional. Melalui ide dan
karyanya sebagai seorang arsitek, beliau telah mencatatkan nama Humbahas dalam
dokumen perjalanan sejarah arsitektur Indonesia.
Berdasarkan data dan informasi yang dapat dihimpun, ide dan karya
Frederich Silaban mencuat dalam kurun waktu tahun 1950-1960. Ketika itu,
situasi sosial politik luar negeri maupun dalam negeri Indonesia masih labil.
Keadaan sosial politik luar negeri sedang dalam pembenahan setelah perang dunia
kedua. Sementara, kondisi sosial politik dalam negeri berada dalam taraf
restorasi untuk memperkokoh bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dalam situasi sedemikian, Frederich Silaban tampil memproduksi
serangkaian karya kreatif arsitektur yang membangkitkan kebanggaan warga
Indonesia sebagai negara dan bangsa yang berdaulat. Beliau dengan arif
mengakomodasi dan mengimplementasikan gagasan presiden pertama Indonesia Ir.
Soekarno tentang nation building, yang antara lain diniatkan untuk menunjukkan
kejayaan dan kedaulatan bangsa Indonesia melalui pembangunan
fasilitas-fasilitas berskala raksasa, megah dan heroik.
Sebuah langkah awal yang cukup spektakuler ditempuh arsitek Frederich
Silaban adalah mengikuti sayembara desain arsitektur Mesjid Istiqlal Jakarta
pada tahun 1954. Ketua tim juri adalah Presiden Republik Indonesia, Ir.
Soekarno, dengan anggota: Prof. Ir. Rooseno, Ir. H. Djuanda, Prof. Ir. Suwardi.
Hamka, H. Abubakar Aceh dan Oemar Husein Amin.
Frederich Silaban dengan berani dan percaya diri mengajukan rancangan
arsitekturnya yang diberinya judul ‘Ketuhanan’. Disebut berani dan percaya
diri, karena beliau merupakan orang Kristen Batak dan bukan arsitek alumni dari
perguruan tinggi atau universitas. Beliau merupakan arsitek otodidak yang
cerdas dan potensial. Pendidikan formal ditempuh di H.I.S. Narumonda-Laguboti,
Tapanuli, tamat tahun 1927. Kemudian melanjutkan pendidikan K.W.S. (Koningen
Wilhelmina School), setingkat Sekolah Teknik Menengah (STM), di Jakarta, tamat
1931.
Dalam bingkai tingkat pendidikannya serta agama yang dianutnya,
keberanian Frederich Silaban mengikuti sayembara nasional desain arsitektur
Mesjid Istiqlal tergolong khas. Bahkan boleh jadi dibaluri suatu motivasi ala
putra Humbang dan mencerminkan secercah semangat hidup orang Kristen Batak di
Republik Indonesia ini.
Tim juri dengan intensif menilai dan menyeleksi karya dari tiga puluh
peserta sayembara. Setelah melalui serangkaian pembahasan di istana negara
Republik Indonesia dan di istana Bogor, pada 5 Juli 1955 tim juri menyatakan
desain kreasi Frederich Silaban jadi pemenang. Kemenangan ini memiliki makna
substantif yang jamak.
Seorang putra Humbang beragama Kristen telah menciptakan sebuah karya
monumental bagi saudaranya sebangsa yang beragama Islam. Umat Islam juga
memperlihatkan suatu sikap simpatik dengan terbuka menerima rancangan
arsitektur tempat ibadah mereka hasil karya dari seorang yang non-muslim. Pada
simpul ini terukir pula suatu tonggak sejarah tentang suasana toleransi
antar-umat beragama yang harmonis.
Kemenangan tersebut sekaligus pula menjadi babak baru kiprah kehidupan
dan pengabdian Frederich Silaban bagi bangsa dan negara. Beliau menjadi arsitek
kesayangan Presiden Soekarno, yang mendapat kepercayaan untuk merancang
bangunan-bangunan berskala nasional sebagai lambang kebanggaan warga masyarakat
Indonesia.
Selain Mesjid Istiqlal, Frederich Silaban menghasilkan karya-karya
arsitektur, antara lain: Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Bogor; Kantor
Dinas Perikanan Bogor; Rumah Dinas Walikota Bogor; Bank Indonesia, Jalan
Thamrin, Jakarta; Gedung BLLD, Bank Indonesia, Jalan Kebon Sirih, Jakarta;
Gedung BNI 1946, Jakarta; Flat BLLD, Bank Indonesia Jalan Budi Kemuliaan
Jakarta; Gedung Bank Negara Indonesia 46 di Surabaya; Gedung Bank Indonesia di
Surabaya; Markas Besar Angkatan Udara, Pancoran Jakarta; Gedung Pola Jakarta,
Hotel Banteng yang kemudian menjadi Hotel Borobudur, Gedung Universitas HKBP
Nommensen, Medan.
Arsitek Frederich Silaban juga membuat rancangan arsitektur Monumen
Nasional Pembebasan Irian Barat Lapangan Banteng Jakarta; Tugu Selamat Datang
Bundaran Hotel Indonesia Jakarta; Gerbang Taman Makam Pahlawan Kalibata; Makam
Raden Saleh, Bondongan Bogor; Monumen Nasional (Monas) Jakarta dan cetak biru
komplek Gelora Bung Karno, Jakarta.
Sejumlah karya tersebut merupakan catatan sejarah tersendiri dalam
perjalanan bangsa Indonesia. Atas prestasinya merancang pembangunan Mesjid
Istiqlal, Frederich Silaban menerima anugerah tanda kehormatan bintang jasa
sipil berupa Bintang Jasa Utama dari pemerintah Indonesia. Mulai tahun 1967
hingga akhir hayatnya (1984), beliau mengemban tugas sebagai wakil kepala
proyek pembangunan Mesjid Istiqlal Jakarta. Beliau pernah menjadi Anggota Dewan
Perancang Nasional (Depernas) dan memiliki peran besar dalam pembentukan Ikatan
Arsitek Indonesia (IAI).
Kontribusi dan prestasi Frederich Silaban dalam bidang arsitektur telah
mendapat pengakuan dan penghargaan pada tingkat nasional dan internasional.
Semua ini tentu merupakan sebuah rahmat Tuhan, di mana seorang putra Humbahas
dapat menghasilkan karya-karya monumental dalam perjalanan sejarah NKRI. Rahmat
Tuhan telah membuatnya menjadi tersohor sebagai seorang arsitek yang handal
dalam kancah nasional.
Pantas Diapresiasi
Kilasan uraian di atas memperlihatkan betapa seorang anak desa dari
Humbang Hasundutan bernama Frederich Silaban telah mengukir berbagai prestasi
gemilang. Melalui talenta sebagai seorang arsitek, beliau mengekspresikan rasa
cintanya kepada bangsa dan negaranya.
Kecintaan tersebut sungguh tanpa membedakan agama maupun etnisitas. Hal
ini dengan jelas dibuktikannya antara lain dalam rancangan arsitektur Mesjid
Istiqlal, Jakarta. Melalui karya ini, Frederich Silaban secara implisit telah
menorehkan sejumput citra orang Kristen Batak dalam realitas Indonesia yang
multikultural.
Memang Frederich Silaban lebih banyak menjalani kehidupan dan meniti
karier di Bogor dan Jakarta. Pada usia 15 tahun telah meninggalkan kampung
halamannya untuk melanjutkan sekolah guna menggapai taraf kehidupan yang lebih
baik di pulau Jawa. Kendati begitu, beliau tetap bangga menyatakan diri sebagai
berasal dari Humbang dan beragama Kristen.
Esensi identitasnya sebagai putra Humbang dan Kristen Batak niscaya
senantiasa melekat dalam semua karya-karyanya. Hal ini pada tataran tertentu
memiliki makna implikatif bagi kampung halamannya. Dalam arti, kiprah Frederich
Silaban telah mengharumkan daerah Humbang Hasundutan. Pada simpul ini kiranya
keliru manakala dari antara kita ada yang menganggapnya tidak berkontribusi
terhadap kampung halamannya.
Jika kita menghendaki suatu fakta konkret, maka harus disebutkan bahwa
Frederich Silaban telah merealisasikannya dengan caranya sendiri. Yakni, dengan
sukarela membuat rancangan arsitektur gedung Universitas HKBP Nommensen (UHN),
Medan. Kesediaannya menghadiahkan karya arsitektur gedung UHN boleh jadi
dilatari suatu pandangan betapa UHN merupakan representasi dari kampung
halamannya. Pandangan ini dapat saja dibenarkan, termasuk karena di UHN
terdapat sejumlah warga asal Humbang Hasundutan sebagai dosen, pegawai dan
mahasiswa.
Dengan mencermati sejumlah prestasi dan dedikasinya pada kancah nasional,
rasanya tidak berlebihan apabila Frederich Silaban disejajarkan dengan T.B.
Simatupang dan Liberty Manik. Masing-masing mereka telah menegakkan panji
kampung halaman sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. Frederich Silaban
dalam bidang arsitektur. T.B. Simatupang dalam bidang sosial-politik dan
gerakan oikumenis. Liberty Manik sebagai komponis.
Dalam kaitan itu pula, sang arsitek Frederich Silaban cukup pantas
mendapat apresiasi yang memadai dari warga masyarakat Humbang Hasundutan.
Masyarakat Dari telah mengapresiasi figur T.B. Simatupang dan Liberty Manik
dengan membuat suatu monumen sejarah. Sementara kalangan stakeholder masyarakat
Humbahas belum mewujudkan suatu bentuk penghargaan kepada arsitek Frederich
Silaban.
Maka sudah saatnya Pemerintah Kabupaten Humbahas dan Universitas HKBP
Nommensen segera bergegas memprakarsai sebuah apresiasi terhadap sang arsitek
Frederich Silaban. Langkah awal dapat ditempuh dengan menulis dan menerbitkan
buku sejarah biografis arsitek Frederich Silaban. Juga patut ditindaklanjuti
dengan menetapkan nama Frederich Silaban pada salah satu ruas jalan atau wisma
di ibukota Humbahas, Dolok Sanggul.
Realisasi dari semua itu bukan saja sekadar meretas kealpaan generasi
kita sekarang untuk mengapresiasi sosok putra daerah, tetapi sekaligus akan
bermanfaat demi ‘proyek’ kebangsaan ke depan. ***
Penulis adalah redaksi penerbitan Lembaga Pemberdayaan Media dan
Komunikasi (LAPiK), Medan.
[Non-text portions of this message have been removed]